Benar siapa yang disangka, Faiz ialah lelaki yang berdiri di balik kaca toko obatnya. Serasa kejutan àneh di hati Dhiarra, bagaimana Faiz tiba-tiba mendatangi toko barunya..?
"Hai, bang Faiz...! Macam mana bisa datang ke sini..?!" Sambil memegangi kaca etalase obat yang terasa halus, Dhiarra menyapa Faiz, yang mungkin calon pembeli obat pertama di toko.
"Hai, Dhiarra..!! Macam mana kau ada dalam kedai?! Kau pekerja kedai obat ini kah?" Mereka saling berkata nyaring di kedua posisi toko itu.
"Betul, bang Faiz! Aku kerja kat sini! Bang Faiz hendak beli obat, kah?" Gadis pemilik toko itu bersemangat, meski bukan target utama, namun jika datang pendapatan, tentu saja menyenangkan.
"Ya..! Berilah obat oles untuk penyembuh luka, tiada efek samping, Dhiarra..!" Faiz menyerukan obat yang tengah diinginkan. Pria tampan Malaysia itu terus mengamati isi dalam toko obat dari balik kaca jendela yang sedikit terbuka. Sesekali mengamati gadis pendatang cantik itu yang tengah memilih beberapa obat di tangannya.
Dhiarra nampak kikuk dan belum terbiasa. Itu terlihat dari kerutan yang muncul di dahi, setiap membaca label yang tertempel di tiap kemasan obat.
"Bos engkau, orang mana, Dhiarra?" Faiz tak juga nampak rupa dari pemilik toko obat itu.
"Orang KL, bang... Dia tengah jaga kedai obat juga di KL." Gadis cerah itu memandang Faiz sejenak, lalu sibuk lagi dengan pemeriksaan obat di tangan.
"Oh..! Bang Faiz, aku dah dapat!" Tangan lentik gadis itu mengulur kemasan botol kecil berisi cairan sejenis minyak, ada tulisan 'Tawon' di label kemasan.
Faiz menerima uluran obat oles dari Dhiarra, dengan memandang wajah cerah yang nampak gembira dengan hal kecil itu. Karena dirasa cukup, Faiz segera berundur setelah mengulur selembar lima puluh ringgit pada gadis penjaga toko,Dhiarra.
"Hai..! Ada kembali tiga pulu ringgit, bang!!" Tapi pemilik uang kembalian itu telah hilang, entah menuju jalan yang mana. Bahu ramping gadis itu mengedik tanda menyerah, tak ada minat untuk pergi mengejar. Pekerjaan yang disuka tengah menunggu di dalam.
Mesin jahit dan mesin obras yang masih terbungkus kemasan dan belum dirakit, bergegas dibuka dengan pisau lipat yang tajam. Dengan tangkas dan cekatan, segera dirakitnya. Dhiarra terlihat terlatih, terbiasa mengerjakan susunan dan rakitan mesin baru itu. Tak ada keraguan dalam menyatukan masing-masing onderdil itu menjadi sebuah kesatuan mesin seutuhnya.
****
Sebuah perusahaan besar dengan lima lantai gedung dan memiliki kantor mewah, adalah kepunyaan Shin Adnan. Perusahaan atau syarikat milik Shin itu berproduksi di putaran konveksi dan fashion.
Syarikat berjenama *Shin's Garment* telah sukses besar dalam menguasai pasar fashion. Baik berkuasa dalam negara Malaysia sendiri, atau juga pengiriman ke banyak luar negara.
Di hampir setiap peluncuran prodak dengan model terbaru, syarikat yang dipimpin Shin itu pasti akan melebihi target pemasaran dan penjualan. Shin tak diragukan lagi dengan kehandalannya sebagai pemimpin syarikat yang sukses dangan harta melimpahnya.
"Dhiarra hanya sebagai pekerja kedai obat itu?" Pertanyaannya langsung mendapat angguk meyakinkan dari sang asisten.
Namun Shin tak yakin, kali ini pria itu tak langsung percaya pada Faiz begitu saja. Mengingat beberapa hari lalu, telinga Shin mendengar percakapan langsung Dhiarra di telepon, tentang pembelian toko obat.
"Apa saja yang dapat kau lihat di toko obat itu, Iz?" Shin kembali bertanya sambil memainkan smart phone di tangan.
"Kedai obat itu demikian privasi dan tertutup. Tapi masa saya tiba sana, ada dua pria baru keluar dari ruang toko obat. Saya tak sempat tengok apa yang mereka berdua buat bersama Dhiarra, di ruang dalam toko obat."
Mata tajam Shin menatap Faiz yang tengah memberi keterangan tentang keponakan tirinya. Menilai kebenaran ucapan Faiz tentang apa yang dilihat. Gadis itu memang benar liar seperti perempuan pendatang kebanyakan.
Shin masih setengah belum percaya, bahwa dirinya telah menerima kesanggupan menampung perempuan Indonesia itu, sebagai keponakan dan tanggung jawabnya. Rahang tegas itu nampak mengeras, bibir Shin bergumam sangat jelas.
"Oh.. Hazrul, kau selalu membebaniku. Tak cukupkah ku urus istri dan anak-anakmu?! Kini kau bahkan mengirimkan beban anak tirimu padaku!! Ahh...!!!" Mata hitam Shin berkilat menahan beban marahnya yang tertahan. Merasa bosan dengan kemonotonan hidup akibat segala ulah buruk abang tirinya, Hazrul.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
uncle suatu saat km pasti berterima kasih PD Hazrul karena telah mengirim kan jodoh untuk mu...benar tak Mak author...
2022-11-03
1
UTIEE
kasian kali nasib uncle shin. hidupnya hanya untuk mengurus kekisruhan yang diakibatkan si hazrul
2022-10-23
2
Chauli Maulidiah
wkwkkwkw minyak tawon...
iku minyak andalanku thor.. klo ada jerawat mejeng di muka. 😂
2022-09-10
2