"Hentikan adu kalian!" Suara teguran keras dari Shin yang terdengar tiba-tiba, mampu membuat kedua wanita beda usia itu mematung sekian detik.
Sadar siapa yang datang, Dhiarra cepat melepas pegangan tangan di ikatan rambut Zubaidah. Sama hal dengan yang tengah dilakukan Zubaidah. Sedikit rambut yang tengah digenggam erat itu, segera dilepaskan.
"Kalian sungguh kekanakan. Apa tidak malu dengan tingkah kalian itu?" Perkataan pria tampan itu terdengar dingin dan menusuk.
Dhiarra diam dan sedikit membuang muka. Merasa dirinya sama sekali tak bersalah. Zubaidah yang sadar diri sebagai pemulanya, menunduk dalam tanpa daya. Jauh beda akan keberingasannya pada gadis pendatang itu barusan.
"Dhiarra..!" Panggilan Shin yang nyaring terdengar, menolehkan kepala Dhiarra dengan rasa terkejut yang sangat.
"Kau sebagai yang muda dan baru datang di rumah ini, tidak bisakah mengalah?" Pernyataan sekaligus pertanyaan dari om tirinya membuat hati Dhiarra berombak besar.
"Saya tak punya masalah pada mak cik tua ini, uncle Shin. Tapi tiba-tiba dia menghadangku, mengumpatku dan mencabut tusuk rambutku!" Dhiarra berkata membara pada Shin, matanya berkilat menatap wajah Zubaidah yang terus menunduk.
Dhiarra telah memanggil Shin dengan sebutan 'uncle' berharap om tirinya itu sedikit berpihak padanya.
Shin menatap gadis memukau yang semalam berubah jadi peri dapur itu dengan pandangan menenangkan. Pria berkebangsaan Malaysia itu sangat paham hal sebenar yang terjadi barusan. Hanya saja ingin tahu seberapa berani gadis Indonesia itu bersuara.
Dan panggilan 'uncle' dari gadis Indonesia barusan, cukup membuatnya gamang, tak menyangka akan berani memanggilnya begitu.
"Ku lihat kau menarik rambut mak cik tua ini, betul?" Suara belati Shin kembali memojokkan Dhiarra.
"Iya..Tapi mak cik telah mempermainkan tusuk rambutku dan melemparnya entah ke mana. Saya geram..Saya tengah banyak kerja! Lagipula saya tarik rambutnya tak sakit pun! Mak cik tarik rambut saya sakit sangat!"
Kembali berapi Dhiarra menjelaskan kekesalan hati pada Shin.
"Zubaidah, angkat wajahmu." Suara Shin hanya terdengar tegas pada Zubaidah. Zubaidah mengangkat wajah dengan terpaksa.
"Ku ingatkan kamu, Zubaidah. Jangan berbuat hal tak guna lagi lain kali. Sekali lagi ku lihat, menginaplah di rumah belakang!" Gertakan Shin membuat Zubaidah berkerut.
"Oke, Shin. Aku telah silap. " Anggukan Zubaidah sangat meragukan. Dhiarra sempat mendapat jelingan tajam dari mata kerut Zubaidah, sebelum sosok mak cik itu benar-benar berundur. Shin mengijinkannya!
Shin memandang sebuah bag besar di tangan Dhiarra. Seperti berisi banyak baju di dalam bag itu. Untuk apa baju yang sangat banyak dalam bag besar itu?
"Uncle Shin, saya akan pergi jumpa kawan.." Dhiarra menggantung ucapannya, merasa sadar ada yang salah.
"Jumpa kawan di Sentral." Shin meneruskan ucapan Dhiarra dengan maksud menyindir. Tapi Dhiarra hanya tersenyum dengan sindiran Shin padanya.
"Lain kali akan ku tunjuk tempat yang lebih cocok untuk berjumpa kawan,Dhiarra!" Pria gagah itu beseru sebelum berbalik dan berlalu meninggalkan Dhiarra yang termangu di tempat.
****
Gadis rupawan dengan rambut tergerai berkilau itu memang benar menuju Sentral. Sedang menerima panggilan dari seseorang yang tengah menunggu di dalam bangunan terminal sentral. Terus berjalan mengikuti panduan orang yang berada di tali panggilan.
"Gege Chen, aku sudah sampai." Dhiarra berdiri mengamati satu kafe seperti yang telah di aba-abakan oleh gege Chen.
"Dhiarra, masuklah! Aku di sini!" Spontan, berbalik badan , menacari titik pas dari asal Chen memanggilnya.
Dhiarra memasuki kafe kecil dalam terminal Sentral, dan duduk di kursi yang telah ada Chen di meja itu.
"Ini punyamu,sudah ku pesankan. Makanlah dulu, Dhiarra. Habis ini ku tunjuk mana letak kedai obatmu."
Gege Chen menunjuk dua piring kwetiau goreng bertabur irisan ayam kukus dan telur gulung. Nampak nikmat terlihat, sangat cocok dengan perut Dhiarra yang masih kosong pagi ini. Minuman yang dipesankan oleh Chen adalah sari limau hangat yang manis, masing-masing segelas.
"Terimakasih, gege Chen. Senang mengenal dirimu." Gadis Indonesia itu nampak tidak sabar memulai menyendok mi besar itu ke mulutnya.
Gege Chen mengangguk sambil tersenyum memperhatikan Dhiarra yang sedang menikmati mi kwetiau goreng pedas itu di piringnya. Chen pun juga sambil makan perlahan dengan pilihan yang sama persis dengan milik Dhiarra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
Thor gadismu seperti nya banyak stok yg cantik y... kemaren si kacung juga cantik sangat...
2022-11-03
2
Fairuz khaerunnisa
semangat thor nulis lanjutannya
2022-07-03
1