Fota almarhum sang ayah telah disemat di atas bufet ranjang, bersanding dengan foto sang ibu. Dhiarra tidak memajang foto ayah dan ibunya yang dalam satu bidikan, meski Dhiarra mempunyai banyak foto mereka saat berdua. Gadis itu lebih suka memasang foto mereka saat saling sendiri.
Dress cantik yang menutup tubuh ideal itu, adalah salah satu dari hasil karya rancang terakhirnya. Yang direncana akan ditawarkan pada mana-mana perusahaan konveksi yang berminat, namun Dhiarra selalu gagal untuk pergi ke mana pun. Akhirnya begitu manis saat dipakai sendiri di badannya. Serasi dengan kulit kuning cerahnya, secerah warna gading.
Dhiarra melenggang keluar dengan memastikan bahwa koper serta pintu kamar telah terkunci sangat aman. Kamar yang ditempati adalah kamar khusus untuk tamu. Dengan memiliki dua sisi pintu, pintu penghubung dalam rumah, dan pintu ke teras.
Di mana pintu teras itu tepat menghadap keluar, nampak taman dan halaman. Dhiarra merasa suka dan nyaman menempatinya.
"Dhiarra..!" Suara berat memanggil dari samping. Dhiarra tahu itu tuan Shin, om Syafiq. Pria itu berada dalam mobil bersama sopir. Kepala dan sebagian badan nampak jelas dari jendela mobil yang diturunkan.
"Selamat pagi, encik Shin. Anda berangkat kerja?" Dhiarra berhenti dan mengangguk kecil pertanda hormat pada pria gagah itu.
"Hendak ke mana kau, Dhiarra? Ini hari pertamamu." Shin mengabaikan pertanyaan gadis modis yang nampak sangat rapi.
"Saya akan berjumpa dengan seorang kawan saya." Dhiarra menjawab sopan pertanyaan sang tuan rumah.
"Daerah mana rumah kawanmu?" Shin seperti tertarik dengan kepergian Dhiarra, yang ternyata sudah menyimpan teman di tempat yang baru dikunjungi.
"Kami sepakat jumpa di Sentral, encik Shin.." Dhiarra menyebutkan satu nama terminal besar di Melaka yang hanya pernah di dengarnya.
Saat datang kemarin, Dhiarra tiba di Bandara International Kuala Lumpur dengan dijemput seorang sopir, suruhan tuan Shin.
"Memang kau tahu bagaiman pergi ke Sentral?" Shin seperti sedang menyelidik kebenaran ucapan Dhiarra.
"Kawan saya kata, akan ada banyak taksi yang bisa membawaku ke Sentral, encik Shin." Dhiarra menatap tegas pada Shin, berharap pria itu percaya dan cepat berlalu.
"Baik Dhiarra, itu betul!" Shin menatap Dhiarra beberapa saat, rupanya anak tiri Hazrul itu cukup pemberani. Shin menyuruh sang sopir untuk berangkat, tanpa menoleh pada gadis itu lagi, Shin bersama mobil serta sopir telah berlalu dan meluncur.
Dhiarra menghembus nafas lega, ada ketegangan tersendiri yang dirasakan tiap berhadapan dengan pria tampan dan gagah itu. Dhiarra merasa bahwa Shin selalu memberi pandangan curiga dan penuh selidik padanya. Mungkin Shin belum sepenuh hati menerima kehadiran Dhiarra di rumah itu.
"Cik Dhiarra.." Seorang pelayan menegur Dhiarra.
"Iya Pak cik, ada apakah?" Dhiarra membalas sapaan pelayan sangat sopan dengan suara lembutnya.
"Tuan Shin berpesan agar anda makan pagi sebelum berjalan.." Lelaki tengah baya itu menyahut tak kalah sopan dan ramah.
"Oh, Terimakasih pak cik, tapi saya tengah tergesa. Harap makhlum ya pak cik..." Dhiarra melambai dan melanjutkan langkah tergesa menuju pagar tinggi yang dijaga security dalam pos. Tanpa hambatan, gadis cantik itu telah keluar gerbang dan tengah menunggu taksi.
****
Mobil taksi tanpa label yang ditumpangi, berhasil mengatar Dhiarra ke kawasan perumahan sederhana di daerah Batu Berendam, Melaka. Perjalanan dari rumah besar Shin yang berada di kawasan elite Ayer Keroh, Melaka,hanya memakan waktu tidak lebih dari dua puluh menit saja. Namun Dhiarra sempat menghabiskan sepotong roti isi coklat dan satu kotak susu instan yang sempat dibawanya dari Indonesia.
"Dhiarra..!!!" Yuaneta, sahabat baik Dhiarra sejak di SMK, terlihat shock saat membuka pintu dan Dhiarra tengah berdiri menatapnya.
Kedua karib saling berpelukan erat penuh haru saat bertemu tak terduga. Dhiarra dan Yuaneta sama-sama tidak menyangka bisa bertemu kembali di negara asing itu. Terlebih lagi Yuaneta, mimpi apa hingga teman karibnya mendatangi rumahnya di Malaysia.
"Arra..,gimana kau bisa di sini?! Adress yang kau minta, ku pikir cuma buat simpanan!" Yuaneta masih juga tak percaya bahwa memang Dhiarra lah yang ada di depannya.
"Sangat panjang ceritaku, Net. Aku ingin banget cerita ke kamu. Sekarang!" Dhiarra begitu lepas bersikap saat hanya berdua saja dengan Yuaneta.
"Tunggu, Ra..Kita geser ke meja makan saja, ceritakan di sana. Kau belum makan pagi kan?" Yuaneta langsung menyambar tangan Dhiarra.
"Panjang umur.. Itulah yang ku harap awal aku berangkat mencarimu tadi. Suamimu mana, kerja kah Net?" Dhiarra mengikuti di belakang Yuaneta sambil melarikan mata ke mana-mana. Mencari Denis Tan, barangkali ada.
"Mana bisa nggak kerja sehari pun, Raaaa.. Bisa kagak makan aku!" Yuaneta berkata apa adanya. Meski Denis, suaminya berasal dari keluarga China yang cukup kaya, tapi gaya hidupnya berubah seketika setelah nekat menikahi Yuaneta. Gadis guide cantik dari Indonesia yang belum lama dikenal tapi mampu merenggut hati seorang Denis Tan. Dan keluarga Denis menentangnya.
"Lah..Kau datang sini, terus si Adrian gimana, Ra?" Yuaneta menarikkan kursi untuk Dhiarra.
"Itulah... Cepatlah duduk, aku tak sabar bercerita padamu, Net.." Dhiarra juga menarikkan kursi buat Yuaneta duduk.
Yuaneta dan Dhiarra telah mengisi piring masing-masing sambil mulai bercerita. Yuaneta antusias menyimak dan menanggapi setiap bagian cerita sahabat dekatnya. Mereka berdua mempunyai cerita hidup cukup mirip. Dhiarra tiada ayah saat masih duduk di bangku SD. Sedang Yuaneta, kehilangan sang ayah saat duduk di awal SMP.
Keduanya sama-sama berjuang melanjutkan cita-cita bersama ibu tercinta masing-masing. Dhiarra memilih menekuni bakat designernya, sedang Yuaneta dengan bakat bahasanya. Yuaneta mengikuti beberap club guide di Yogyakarta, yang memanggil bergantian untuk menggunakan jasa guide bagi pelancong yang membutuhkan. Dari sanalah awal mula perkenalan Yuaneta dengan Denis Tan, yang sekarang menjadi suaminya.
"Aku sangat sedih, Ra..Ikut memahami kesulitanmu belakangan ini. Aku juga menyayangkan pada hasil jerih payah yang kau rintis tahunan itu, kini hancur berantakan." Yuaneta nampak berkaca-kaca setelah mendengar langsung kabar terbaru dari sahabatnya.
"Semua telah terjadi. Dalam ku sesali pun, tak juga kembali semuanya. Hanya masa depan yang harus ku benahi sekarang ini, Net..." Dhiarra menghirup nafas ke dadanya dalam-dalam.
"Betul, Ra..Aku tahu, kau adalah sahabatku yang tangguh selamanya. Sekarang ada aku, aku siap membantumu apa pun. Hubungi aku kapan saja memerlukan. Jangan segan, Ra..!" Yuaneta menepuk lembut punggung cantik Dhiarra.
"Terimakasih,Net. Aku akan datang lagi setelah kartu IC (Identity Card) Malaysiaku jadi." Dhiarra berdiri menuju wastafel untuk mencuci tangan berminyaknya.
"Ra..Kau belum cerita soal Adrian..Ceritalah." Yuaneta menagih cerita tentang kekasih Dhiarra.
"Sikapnya tak sehangat dulu, Net. Dia terkesan ikut menghindar dariku. Bahkan, sangat bersemangat saat menguruskan dokumen kepergianku.Keberatan di wajahnya, saat aku berangkat, seperti dibuat-buat. Aku tiba pun, tak juga membalas pesan yang ku kirim. Padahal aku rindu dia, Net.."
Kembali terlihat mendung di wajah cantik Dhiarra. Perasaan rindu pada Adrian, kekasih dua tahunnya. Salah satu pengusaha konveksi yang mempunyai darah biru, mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga di keraton. Rasa ingin bertemu tiba-tiba.Dhiarra merasa berat menanggung rindu. Tapi sang kekasih yang dicinta, seperti sedang tak mau tahu. Entah apa yang dilakukan lelaki yang dicintainya itu sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
mungkin dia sudah punya yg baru diara.. maksud ku pacar baru
2022-11-03
1
UTIEE
always healthy and happy ya 🌹🌹🌹🌹🌹
2022-10-23
1
Fairuz khaerunnisa
lanjutkan... tiap part cuma bisa komen begini,.. pengen cepet2 bc lanjutan nya 👍😘😊
2022-06-22
2