Sebelum makan malam, Dhiarra mendapat panggilan telepon dari gege Chen. Panggilan berisi kabar baik sesuai harapan yang diinginkan gadis itu.
"Jadi, kedai obat itu milik orang Indonesia juga, gege Chen?" Dhiarra sedikit berbisik menerima panggilan dari gege Chen.
"Ya betul. Orangnya akan pulang ke Jakarta, lusa. Sangat terdesak perlu uang. Kebetulan kau sedang mencari. Jadi kau mendapat harga yang bagus, Dhiarra. Jauh dari harga yang seharusnya." Chen menerangkan pada Dhiarra di seberang dalam telepon.
"Berapa harga seharusnya, dan juga harga yang ku dapat, gege Chen?" Dhiarra ingin tahu lebih pasti, seberapa beruntung dirinya.
"Kau hanya perlu membeli dengan harga tiga puluh ribu ringgit Dhiarra, sedang harga yang seharusnya mencapai angka lima pulu ribu ringgit. Kau sangat beruntung, Dhiarra." Gege Chen terdengar berdehem di seberang telepon.
Dhiarra berfikir sesaat, menghitung berapa kurs uang ringgit jika dibawanya ke dalam hitungan rupiah Indonesia. Segera didapat jumlah hitungan rupiahnya. Menimbang sebentar dengan perbandingan sisa keuangan yang masih akan Dhiarra miliki. Akhirnya,Dhiarra menyetujui. Berharap, bisnis loncatan pilihan ini, bisa juga mengantar Dhiarra untuk lebih mendulang ringgit. Dhiarra kembali melanjutkan perbincangan bersama Chen di telepon.
*******
Shin yang hendak turun makan malam dan melewati kamar tamu, melambatkan langkah karena mendengar dering panggilan telepon di dalam. Rasa penasaran di hati muncul saat terdengar sang pemilik kamar menerima panggilan itu dengan sangat antusias.
Shin berhenti di balik pintu dan mendengar percakapan Dhiarra dalam perbincangan di telepon. Shin beberapa kali mendengar bicara Dhiarra yang merayu orang di seberang dalam telepon.
*'Dhiara akan membeli kedai obat? Siapa gege Chen..Bukankah itu nama orang Cina? Kenapa Dhiarra terdengar sudah begitu akrab? Di mana mereka kenal dan sejak kapan? Gadis itu memang liar!*
Shin merasa heran dan memikirkan percakapan Dhiarra barusan. Shin tidak melanjutkan jalan menuju ruang makan, namun kembali berbalik menuju kamarnya. Kamar Shin bersebelahan dengan kamar tamu yang sedang ditempati oleh Dhiarra. Namun kamar Shin, jauh lebih tinggi lagi dari kamar Dhiarra, dan terpisah oleh taman kecil di antara dinding kamar mereka.
*****
Malam telah berada di pukul satu dini hari. Dhiarra tidak tidur, lampu meja di kamar masih terus menyala, tak terganti oleh lampu tidur di samping ranjang. Dhiarra memang sengaja begadang, menyiapkan desain rancang baju untuk mempercepat proses pemasaran karyanya. Jika tidak, Dhiarra akan segera kehabisan sisa uang tabungan yang ada. Karena pembelian toko obat itu benar-benar menguras simpanan terakhirnya.
Setelah selesai membuat belasan desain baju di buku, Dhiarra baru merasa mendapat kepuasan di hati. Kini merasa perutnya sangat perih akibat lapar di lambung. Dhiarra sengaja tidak keluar saat makan malam. Selain sebab sibuk pada desain baju di buku, tapi juga karena tak ada pelayan rumah yang memanggil keluar makan seperti hari-hari sebelumnya.
Gadis cantik dengan dress tidur pendek dan transparant, berjalan cepat-cepat menuju ruang makan atau dapur. Bahkan apapun tempat yang bisa memberi sumber makanan baginya. Dhiarra merasa sangat lapar.
Dhiarra tidak paham letak tombol lampu di dapur, hanya berjalan dalam samar cahaya lampu dari luar yang menyorot masuk ke dapur. Lemari pendinginlah salah satu harapan gadis lapar itu. Perasaan gembira tak terlukia, isi kulkas sungguh sesuai harapan di hati.
Dengan sebiji buah jeruk dan sebulat kecil bolu kukus dalam kemasan di tangan, Dhiarra menutup kembali pintu kulkas. Belum sempat berbalik sempurna dari kulkas, lampu dapur telah menyala terang benderang. Tidak susah mencari, Shin telah nampak sedang memegangi tombol lampu di dinding yang baru ditekannya.Keduanya beradu pandang dengan rasa terkejut dan serba salah.
"Dhiarra..." Shin mendapati sosok gadis cantik yang seperti peri malam hari, sedang memegangi buah jeruk dan sebuah bolu kukus. Dhiarra dengan pakaian terawang seperti itu, tidak di sangka akan dilihatnya di dapur saat ini.
"Encik Shin.." Dhiarra pun seperti tercekat dengan pandangan Shin yang meremang je arahnya. Sadar dengan kesalahan baju yang dikenakan, terlebih lampu telah terang benderang karena baru dinyalakan tiba-tiba oleh Shin.
Lampu dapur mendadak mati, keadaan menjadi temaram kembali. Dhiarra mengerti kenapa Shin mematikan semula lampu dapur. Dengan berjalan cepat lagi, Dhiarra meninggalkan dapur dan akan melewati tempat Shin berdiri.
"Permisi, encik Shin." Dhiarra melambatkan langkah dan akan mempercepat langkahnya lagi setelah menyapa Shin.
"Dhiarra.." Shin memanggil namanya, Dhiarra berhenti dengan jarak dua meter dari Shin. Berdiri diam menunggu kenapa om tirinya itu memanggil.
"Kau jangan terlalu liar Dhiarra.. Bersopanlah dengan bajumu di rumah ini. Tidak bermasalah jika yang melihatmu itu, aku. Tapi bukan aku saja lelaki di rumah ini. Jika ada apa-apa menimpamu, kau sendiri yang ku salahkan, Dhiarra. Ingat itu baik-baik." Suara Shin yang berat itu terdengar keras di kegelapan. Meski seperti berbisik, tapi begitu tajam menyayat bagi Dhiarra.
Dhiarra melangkah menuju kamar dengan sedikit rasa gemetar. Menyesal tidak menyangka akan bertemu lelaki di dapur meski malam begini, dan itu adalah Shin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
hooh encik emang bener Diara untung bukan Hisyam
2022-11-03
1
Novelable uwwu
yess..akhirnya dpt juga jeruk dan roti apa td ya..bolu kukus?? okelah yg penting makan dhiara abaikan yg liat
2022-08-28
2