"Wah, beruntung benar diriku karenamu, gege Chen!" Gadis berambut lebat panjang itu berseru takjub, memandang dalam toko obat yang baru dimiliki sejak beberapa menit yang lewat.
"Kebetulan, Dhiarra. Ini adalah pelangganku, akulah supplyer obat di toko ini. Pemilik yang senegara denganmu itu, menghubungiku karena merasa sudah tak mampu menjualnya sendiri." Chen menyandar di etalase obat sambil diam-diam memperhatikan Dhiarra yang tengah berkeliling dalam toko.
Ternyata ruangan di sebelah toko obat sangat luas. Justru seperti sebuah rumah yang sedang memiliki toko obat. Sungguh mimpi indah yang jadi nyata bagi Dhiarra, inilah tata tempat yang memang sedang diinginkan.
Tentu saja luas, karena toko obat miliknya itu memang gabungan dari dua bangunan atau dua pertokoan yang telah dimodifikasi menyatu oleh pemilik lamanya.
"Jika kau merasa puas, aku ikut gembira. Ku rasa sudah saatnya aku menyerahkan kunci toko ini padamu, Dhiarra. Penjualan obat di toko ini sangat bagus. Semoga kau bisa membawanya jadi lebih baik lagi." Chen mengulurkan tiga buah kunci yang diikat menyatu pada gadis itu. Juga bundel dokumen yang berisi status kepemikan toko obat itu pada sang pemilik baru.
"Terimakasih, gege Chen. Jadi, misal obat-obatan habis, siapa yang antar?" Dhiarra memandang lelaki Cina berkulit kuning cerah itu sambil menyimak lembaran bundel di tangan.
"Orangku yang akan mendistribusi awal bulan. Tapi jika mendesak dan kau tak sabar, boleh saja datang ke gudang obatku. Ada di KL, Kuala Lumpur. Dan jika kau sambil ingin berjumpa denganku, telepon saja. Ku tunggu panggilan darimu." Chen bersiap keluar meninggalkan toko Dhiarra, untuk kembali ke KL siang ini.
"Siap gege Chen. Trims pada semua kebaikanmu!" Dhiarra beseru dari tempatnya berdiri. Lalu jalan perlahan, melepas perginya Chen di pintu toko obatnya. Chen terus berjalan lurus ke depan, lalu hilang di antara kerumun pengunjung dalam bangunan megah terminal Sentral.
Gadis itu bergegas menutup pintu toko, lalu membuka tirai dan membuka jendela kaca toko bagian yang atas. Bermaksud menyediakan pandangan manakala ada pembeli yang singgah ke toko obat miliknya. Dhiarra tak ingin seseorang pun yang akan memasuki area dalam toko obatnya.
Sungguh beruntung juga Dhiarra, di kaca yang telah dibuka itu teleh menempel sebuah bell pemanggil. Tentu benda itu akan sangat berguna untuk Dhiarra dalam berjaga sambil menjahit.
Ya, Dhiarra telah memesan sebuah mesin jahit, mesin obras dan semua perlengkapan penting yang mendesak. Untuk digunakan membuat karya baju yang semalam telah dia ciptakan.
Ding ding ding ding ding ding ding ding..
Gerak cekatan gadis itu terhenti, saat bell pintu berdenting berulang banyak kali. Meletak sapu menyandar dinding, dan memegang penebah, Dhiarra meluncur menuju pintu toko dengan ponsel yang menempel di telinga. Sebab, orang yang mengantar peralatan dan perlengkapan jahit pesanannya telah datang di depan.
Tanpa banyak bicara, kedua orang lelaki sebagai kurir toko alat jahit itu mengusung barang pesanan ke dalam toko sesuai keinginan sang pemilik. Dhiarra meminta untuk langsung di letak ke dalam ruang pribadi di sebelah ruang obat. Ruangan yang sebentar lagi akan menjadi ruang kerja pribadinya.
"Apa cik puan, nak kita rakit sekali mesin jahit itu?" Sambil menunjuk tumpukan alat jahit yang habis diletak, kurir mesin jahit itu bertanya pada Dhiarra.
"Tak payah, bang! Saya ucap terimakasih, telah bantu saya angkat benda-benda tuh masuk sana." Sambil menyerahkan uang ringgit, sesuai nominal total angka di faktur penjualan barang yang diserahkan oleh abang kurir padanya.
"Terimakasih cik puan, semoga anda berjaya!" Kedua abang kurir yang ramah itu telah menuju pintu, sambil menyimpan uang pembayaran ke dalam tas kurir berlogo nama toko.
"Sama-sama, abang!!" Dhiarra berseru melepas pergi kedua abang kurir. Pintu telah ditutup rapat kembali tanpa celah.
Detak jantung di dada meningkat jauh, saat dilihatnya sosok lelaki tengah berdiri di balik kaca tokonya. Kernyitan di dahi samar terlihat saat mengenali siapa yang berdiri di luar kaca toko.
"Heeiii..Bang Faizkah ituuu..?!" Dengan setengah tak yakin, Dhiarra mendekati kaca toko untuk lebih memastikan bahwa yang berdiri di luar itu adalah bang Faiz. Pria yang jadi asisten Shin, dan telah dikenal saat pergi mengantar mengurus IC malaysianya di Johor Bahru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
oh no anak bujangku ngapain d situ apakah d suruh pak bozzz ...
2022-11-03
1
amihthaya
ahh gilllaaaa othornya jeniusss..dr 3 novel smuanya memakai bahasa yg beda² kerannn
2022-10-11
2