Tak juga mendapat taksi biru berlogo, taksi gelap pun jadilah. Dhiarra sedang meluncur menuju Mahkota Parade dengan menumpang mobil umum tanpa ada logo taksi. Ingin membeli beragam model dan warna kancing baju khusus keluaran terbaru tahun ini.
Dari hasil penelusuran di surfing net, sebuah garment shop di mahkota parade adalah pilihan terbaik yang lengkap dan variatif serta tepat dikunjungi di wilayah Melaka Bandaraya. Berdasar rekomendasi searching itulah Dhiarra sedang menuju ke sana dengan yakin saat ini.
Telah lewat seminggu, Dhiara berniaga di toko obat baru. Sambil menunggu kedatangan pembeli untuk singgah dan membeli obat, adalah waktu kosong terbaik untuk mewujud nyatakan karya yang telah Dhiarra buat di buku rancangnya.
Dan dalam waktu seminggu, Dhiarra telah berhasil mencipta nyatakan selusin baju wanita yang beragam, modelnya menarik, terbaru, serta berkelas. Dengan prediksi kuat, bahwa model ciptanya ini akan mampu menembus dan bersaing di pasar mode milenium. Hanya satu yang harus Dhiarra perjuangkan dan itu belum dilakukan. Yaitu manawarkan pada pihak kuat yang bersedia memasar resmikan cipta rancangnya. Inilah PR besar bagi Dhiarra saat ini.
"Nak pak cik hantar kat mane ni, cik ..?" Drive taksi gelap berseru dari kemudinya.
"Tolong pak cik hantar saya kat Mahkota Parade..!" Dhiarra menyahut dengan sedikit seruan pada driver itu.
"Cik adik, gadis pendatang dari Indon ke?" Dhiarra ragu menjawab.
Seharusnya pertanyaan ini tidak perlu. Terlebih, driver taksi hanya menyebut Indonesia dengan kata Indon saja, Dhiarra merasa tidak nyaman. Teringat akan sebutan Hisyam yang serupa dan terkesan merendahkan dirinya pagi itu.
Pak cik driver tak melanjut soalan. Seperti sadar dengan kesalahan akan ucapan barusan pada penumpang taksi gelapnya di belakang. Driver itu baru bercakap lagi setelah bangunan Mahkota Parade mulai terlihat di depan.
"Nak simpan nomor pak cik ini tak, cik ? Bila-bila perlu, bolehlah calling pak cik...!" Ini adalah tawaran bagus untuk Dhiarra.
"Baik..! Manalah, biar aku yang simpankan nomor ponselmu, pak cik....!" Dhiarra dengan tepat telah menyimpan nomer drive taksi gelap itu di dalam ponsel miliknya.
🍒🍒
Bergegas menuju garment store di lantai dua, sesuai arahan posisi di surfing, Dhiarra tak ingin lebih kemalaman lagi kali ini. Tidak ada toko garment lainya di lantai dua selain satu toko besar bertulis Shin's Garment Store.
Dhiarra merasa heran dengan penggunaan nama Shin sebagai nama toko. Tentu juga ingat akan paman tiri handsomenya yang punya nama sama persis. Mungkinkah..? Bisa jadi.. Sebab, hari itu semasa hujan deras dan terjebak dalam mahkota parade, dirinya pun bertemu Shin di sini. Dan Dhiarra juga menyadari bahwa dia dengan om tirinya itu terlalu berasingan. Tidak saling ingin tahu, juga tidak saling mengurusi.
Seorang prmuniaga wanita berparas melayu di Shin's Garment Store mendekati Dhiarra dan bertanya lembut hati-hati, khas logat melayu.
"Minat beli apakah, cik adik?" Wanita berkerudung itu senyum menyapa dan setengah menghadang langkah Dhiarra.
"Boleh cuba tunjuk ragam kancing baju yang terbaru kat saya, kak..?" Gadis jelita Indonesia itu telah belajar menggunakan bahasa tempatan, bahasa melayu Malaysia. Meski sadar itu masih juga campur baur.
"Sila cik adik ikut saye..!" Dua wanita beda usia itu bergegas berjalan beriringan. Dan wanita pramuniagalah yang memimpin di depan.
Sebuah ruangan terpisah dan cukup luas menyambut Dhiarra untuk masuk. Ruangan khusus menata barang dagangan berupa benang bermacam warna dan ukuran, jarum bermacam model dan ukuran, serta barang utama yang sedang Dhiarra perlukan, kancing baju.
Serasa ada di pameran lautan kancing baju saja bagi Dhiarra. Lebih tepatnya galeri kancing baju....Seluruh model dan warna kancing baju, semua ada dan terpajang sampelnya di sana. Designer muda jelita itu menatap cerah bahagia. Tempat seperti inilah yang dicari. Segala yang diperlu untuk karyanya, di sini semua ada!
Namun, bukan lalu lupa diri.. Dhiarra hanya membeli sesuai yang diperlu, serta sejumlah kebutuhan kancing yang telah teliti dihitung sebelumnya.
Godaan untuk menambah apa-apa model kancing lainnya yang menggoda, tanpa ragu ditepis. Sebab, belum tentu digunakan.Dan mungkin hanya terasa indah saat baru. Kemudian jadi sampah yang harus didisingkirkan dan lalu dibuang.
Selesai dengan urusan kancing baju, gadis jelita itu bukannya keluar untuk turun dan pulang. Tapi lanjut berkeliling mencuci mata. Menyapukan pandang pada hamparan dan gulungan kain beragam warna, di lantai dua garment store. Dhiarra benar-benar tenggelam karena merasa keasyikan di sana.
Jam di Mahkota Parade berbunyi nyaring untuk yang terakhir malam ini. Bermakna, seluruh pengunjung harus segera keluar meninggalkan gedung bangunan mall.
🍒🍒
Satu jam lalu... Dua orang pria dewasa nampak bersiap mengakhiri kerja penatnya hari ini.
"Faiz, kerja kau sudah habis?" Shin telah bersiap untuk pulang. Duduk menyandar di kursi kebesaran sambil melihat sang asisten berkemas.
"Dah, kejap lagi fin tuan.." Lelaki melayu itu sambil mengunci laci di meja kerjanya.
"Apa Sazlina sudah menelepon?" Shin menyebut nama seorang wanita yang cukup penting bagi bisnisnya.
"Sazlin pun baru cakap nak bertolak terbang kat bandaraya. Tuan Shin tak dapat pesan, kah?" Faiz telah mematikan seluruh lampu di ruangan. Serta merta meremang gelaplah suasana di ofis direktur Shin.
"Mungkin ada. Tapi aku malas nak tengok, Iz.." Mereka telah memposisi diri di dalam lift.
"Apa baiknya kau jumpa Sazlina sorang saja, Iz.." Shin mengangkat alis lebat hitamnya memandang pada Faiz.
"Boleh saja tuan, tapi kupastikan Sazlin tak kan jadi menyerahkan hasil rancangannya padaku...." Faiz memandang sang tuan penuh makna. Sang tuan bungkam, wajah lelah itu sama sekali tak mencuri sedikitpun kharismanya.
🍒🍒
Taksi yang didapatkan kali ini bukanlah taksi gelap, melainkan taksi resmi dan berlogo. Memang cukup lama menunggu, tapi akhirnya datang juga yang diharap. Dhiarra menahan keinginannya untuk menghubungi nomor pak cik pemilik taksi gelap. Kini telah disimpan lagi nomer baru, milik driver taksi berlogo.Kali ini pemilik taksi adalah seorang warga India namun telah ber IC Malaysia.
Seperti biasa, langkah kakinya akan dipercepat begitu memasuki area jalan di halaman. Rasa malas berjumpa dengan segala keluarga tirinya akan terasa dan hadir begitu saja. Saat berjalan menuju rumah besar milik sang paman tiri, uncle Shin..Hati Dhiarra sering merasa tidak tenang tiba-tiba.
Langkah kaki yang lelah dipercepatnya, seseorang dalam remang nampak berjalan dari arah garasi yang ada jauh di sebelah samping halaman. Orang itu berjalan searah denganya. Mungkin saja dia Hisyam... Anak bungsu Hazrul itu terlalu berbadan besar. Jika tak terlanjur, Dhiarra ingin tidak usah saja mengenalnya.
Sedikit berdebar karena berlomba langkah, dengan gusar dicapainya pintu kamar. Terasa lega, sepertinya orang itu menghilang. Anak kunci di lubang pintu telah mulai diputarnya..
"Dhiarra..!" Jantung Dhiarra serasa disentak keluar dari dada.
Seseorang yang disangka telah berhasil dihindari dan menjauh. Mungkin orang yang sedang memanggil di belakang itulah wujudnya. Dan tanpa berbalik menoleh pun, Dhiarra paham itu siapa...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
UTIEE
perasaan makin seruu
2022-10-23
1
Siti aulia syifa Az_zahra
masuk rumah uncle Shin serasa masuk ke rumah angker ya Arra??
2022-08-25
1
Bunda Nian
Kalau gak salah ganti judul ya thor..?
2022-08-21
2