Hari terus berganti dan waktu terus berputar tak terasa sudah tiga bulan lamanya Indra mencari Pemilik Tas tangan bernilai milyaran Rupiah, yang mahal hanya isinya, sebenarnya Tas Branded itu berharga £4.930 jika dirupiahkan harganya bisa dapat satu buah motor sport keluaran terbaru

Bukankah di dalam tas itu ada Cek-nya, pasti tertera nomor Rekeningnya?, Ya memang ada nama dan nomor rekeningnya, tapi setiap lembar nama pemberi cek semuanya atas nama pribadi bukan atas nama perusahaan atau lainnya. Bisa dibayangkan untuk mengetahui alamat pemilik rekening yang tertera dalam cek tidak mudah mendapatkan nya, pihak Bank pun menolak memberikan data pribadi nasabahnya. dan nama yang tertera di tujuan penyerahan nya kosong. Bukannya ada Black card pasti di sana ada nama pemiliknya?, ya memang ada nama pemiliknya tapi nama pemiliknya bukan atas nama Tuan Yusuf / Anisa ataupun Kakeknya Anisa. yang tertera nama di Black Card itu atas Nama Ziko Pratama. Ini yang membuat Indra semakin bingung.
"Duh Gusti, Amanah ini sungguh berat. aku harus cari kemana pemilik tas ini?" Indra bermonolog dalam hati. "Tas ini yang pasti bukan punya Tuan Yusuf ataupun temannya, tapi bisa jadi punya kerabat nya. Duh mana aku tidak minta kartu nama Tuan Yusuf lagi, Hai tunggu siapa aku ini?, orang sekaya Tuan Yusuf memberikan kartu nama ke tukang ojek macam aku ini" Indra terus bergelut dalam pikirannya.
"Atau punya Nona Anisa, ya bisa saja ini punya dia, oh ya Nona Anisa sempat memberikan kartu namanya, sebentar dimana aku taruh kartu nama nya?" Indra berfikir dan mengingat dimana dia taruh kartu nama Anisa. "Ya Allah kenapa bisa lupa aku taruh dimana kartu nama itu"
Saat indra tampak merenung dan berfikir seorang pengurus masjid lelaki paruh baya memperhatikan nya dan kemudian mendekat
"Assalamu'alaikum Nak, apa kamu baik-baik saja, bapak lihat kamu gusar? " Indra tersentak kaget
"Astaghfirullah, eh Walaikumsalam maaf Pak saya sedikit kaget" ucap Indra.
"Maaf kalau bapak mengagetkan mu, tapi bapak lihat kamu gusar, kalau boleh tahu ada apa?, apa boleh bapak tahu? "
"Iya Pak, saya sedang pusing dan bingung saya dapat Amanah"
"Kalau boleh tahu apa itu nak? " tanya bapak pengurus masjid , Lalu Indra menceritakan tentang penemuan tas itu.
"Astaghfirullah, Lalu apa sudah ketemu pemiliknya? "
"Belum pak, itu dia pak yang membuat saya gusar. Saya sebenarnya mendapatkan titik terang, tetapi saya jadi lupa dimana saya menaruh kartu nama Nona itu. Oh ya pak di masjid ini kan ada CCTV-nya bisa tidak pak saya melihatnya?"
"Kalau CCTV disini memang ada, tapi kamu menemukan nya disebelah mana?" tanya bapak itu lagi "Takutnya tempat jadi blank spot, tidak tersorot kamera"
"Disebelah sana pak, Dibawah pohon besar itu" Indra menunjuk tempat asal tas tersebut.
"Ehm, baiklah sepertinya memang tempat itu tidak tersorot kamera, Tapi untuk lebih jelas besok kamu kembali lagi ke mari ba'da sholat Maghrib. karena yang biasa cek CCTV baru bisa besok habis maghrib.
" Baik Pak, terimakasih besok saya kembali kesini, Saya permisi dulu pak. Assalamualaikum "
.
.
.
.
.
"Sayang, kamu liat clutch aku tidak? " Pekik Yusuf sambil mengobrak-abrik tempat penyimpanan tas dan aksesoris miliknya
"Memangnya kamu taruh mana mas?" tanya Zulaikha sambil berteriak dari arah luar kamar.
"Ish, Kalau aku bertanya berarti aku lupa taruh nya dimana?, kamu ini aku tanya malah bertanya balik, Sayang!! Kemari dulu dong sayang bantuin aku cari"
dengan tergopoh-gopoh Zulaikha menuju tempat penyimpanan aksesoris milik suaminya.
"Astaghfirullah, Mas... kamu apa-apaan sih kenapa semua jadi berantakan seperti ini?, Kamu ini ya bener-bener" Pekik Zulaikha sambil mengelus dada kesel dengan tingkah suaminya yang tidak pernah berubah.
"Sudahlah sayang marahnya nanti saja, kamu bantu aku cari Clutch hitam aku merk Hermes" ucap santai Yusuf
"Memangnya kamu taruh mana?, sudah lama aku tidak lihat clutch kamu itu" ucap Zulaikha sambil merapikan kembali barang-barang suaminya
"kamu serius sayang?, dimana aku taruh nya?" ucap Yusuf sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal
"Coba kamu tanya mas Jono mungkin dia tahu" Zulaikha merapikan kembali aksesoris suaminya dan Yusuf merogoh kantung celananya mengambil benda pipih canggih miliknya.
"Jon ke kamarku, dengan istrimu juga ya! " ucap Yusuf diseberang telepon
"Baik tuan"
"Sayang ikut aku ke kamar tuan, Tuan seperti nya butuh kita" ucap Jono sambil mengelus kepala sang istri, lalu berjalan menuju kamar Yusuf
tok... tok.. tok...
"Masuk Jon, Sum" perintah Yusuf
"Ya Allah Tuan, Nyonya kenapa jadi seperti kapal pecah begini? " Sumi terpekik kaget melihat kamar Tuannya bak kapal pecah
"Sudah lah Sumi kamu jangan berisik, cepat bantu istri ku beberes, aku sedang butuh dengan suamimu"
ucap Yusuf santai lalu menarik Jono ke ruang kerjanya
"Nyonya kenapa bisa begini?" tanya Sumi sambil memunguti aksesoris Yusuf
"Kamu seperti tidak tahu kebiasaan laki-laki Sum"
"Iya Nya, kadang mas Jono juga seperti itu, kesel sama sifatnya. memangnya Tuan cari apa Nya?" tanya Sumi
"Dia cari Clutch nya, sudah cepat bantu aku merapikan ini" Zulaikha dan Sumi merapikan isi lemari penyimpanan aksesoris Yusuf, sementara di ruang kerja Yusuf menyenderkan tubuhnya di kursi kerja kesayangan nya.
"Huft, Kamu tidak lihat Clutch milik ku yang berwarna hitam merk Hermes Jon? "
"Maaf Tuan, terakhir Tuan memakainya tiga bulan yang lalu, saat pertemuan dengan Tuan Bondan"
"Hmmm" Yusuf berusaha mengingat kejadian tiga bulan yang lalu,
"Astaghfirullah, benar kamu Jon saat kita sebelum sholat kamu bilang tasnya di bawa masuk, tapi aku tidak membawa tas, tapi selesai sholat aku kembali ke mobil untuk mengambil clutch ku" Yusuf menyandarkan bahunya di sandaran kursinya
"Jangan bilang Tuan menghilangkan beberapa lembar cek itu? " ucap Jono sambil Mengerinyitkan dahinya
"Ya sepertinya begitu, tidak masalah lah cek itu. yang jadi masalah black card milik anakku, padahal black card itu baru dikirim dari bank pusat nya" ucap Yusuf dan Jono membelalakkan matanya tidak percaya dengan barusan yg dia dengar, untuk cek tidak masalah katanya, bener bagi dia tidak masalah tinggal tagih lagi kelar. yang jadi masalah adalah kerjaan Jono semakin bertambah untuk menagih kembali cek itu dari si pengirimannya.
"Iya Tuan, biar nanti cek itu saya tagih kembali" Jono lemes menyandarkan tubuhnya di sofa ruang kerja Yusuf.
"Jon Ini sudah tiga bulan dari aku terakhir memakai clutch itu, apa tidak ada laporan mengenai pencairan cek atau penggunaan balck card itu? " tanya Yusuf
"Sebentar Tuan biar saya cek dulu" ucap Jono sambil mengotak-atik Ponselnya dan menghubungi para pemberi cek. tidak butuh waktu lama Jono mendapatkan informasi tersebut
"Tuan, Cek tersebut masih aman belum ada pencarian dan black card juga tidak ada laporan pengeluaran" Ucap Jono
"Alhamdulillah, jika seperti itu. Oh ya Jon bagaimana kelanjutan pencarian anak ku yang hilang? apa sudah ada titik terang? "
"Belum Tuan, kemarin anak buah ku sudah menyusuri tempat yang kata abah kiayi tempat terakhir Tuan Muda dibesarkan, Tuan Muda di besarkan oleh pasangan kakek nenek dan keduanya sudah meninggal dunia, jadi kita kehilangan jejak" ucap Jono
"Jangan khawatir Tuan, Orang-orang kita selalu mencari informasi keberadaan Tuan Muda" ucap Jono lagi
"kerahkan terus orang-orang kita untuk mencari anak ku Ziko"
"Tuan, Apa ada ciri-ciri khusus Tuan Muda? " tanya Jono dan Yusuf berusaha mengingat
"anak ku ada tanda lahir di tengkuknya, dan memakai kalung bermata merah delima, sebenarnya kalung itu ada dua. kalung itu yang satu di pakai Zaki dan yang satu di pakai ziko tapi yang kepunyaan zaki itu hilang dengan sendirinya sebelum kejadian anakku zaki di tabrak orang" ucap Yusuf sendu
"Baik Tuan terimakasih informasinya, sabar Tuan semoga Tuan Muda segera kita temukan" ucap Jono tidak berapa lama handphone Jono tampak berbunyi
drttdrtt...
Jono : "Halo... bagaimana? "
Mr X : .....
Jono : "Bagus, segera susuri dan cari terus dan beritahu aku"
.
.
.
"Taun, kita mendapatkan titik terang keberadaan Tuan Muda "
Gubrak....
...****************...
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments