Tidak berapa lama dua orang office boy datang dan membereskan barang-barang termasuk piring dan gelas yang pecah. Setelah agak lama ke dua office boy itupun pergi meninggalkan ruang perawatan VVIP. Tuan Richard hanya diam dan menatap langit-langit kamar rumah sakit.
ceklek
Dokter Rebecca membuka pintu dan berjalan ke arah tuan Richard sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
" Tuan, buburnya sudah datang?" ucap Rebecca sambil meletakkan nampan tersebut ke meja dekat ranjang.
" Aku ingin disuapin apakah boleh?" tanya tuan Richard sambil menatap mata dokter Rebecca dengan tatapan sendu.
" Boleh." Jawab dokter Rebecca singkat sambil duduk di kursi dekat ranjang.
Dokter Rebecca menyuapi tuan Richard sesuap demi suap. Belum ada lima menit buburnya habis tanpa sisa kemudian dokter Rebecca meletakkan mangkok tersebut ke meja kemudian mengambil gelas yang sudah ada sedotan. Setelah selesai meminum dokter Rebecca meletakkan kembali gelas tersebut.
" Dokter sudah baik padaku, apa yang dokter inginkan?" tanya tuan Richard.
" Maksudnya?" tanya dokter Rebecca dengan nada bingung.
" Maksudku karena dokter perhatian dan baik padaku aku ingin memberikan hadiah buat dokter. Apakah dokter ingin hadiah mobil atau perhiasan mewah atau pakaian mewah?" tanya tuan Richard
Dokter Rebecca hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Lalu dokter ingin apa?" tanya tuan Richard penasaran.
" Aku ingin satu hal dari tuan apakah tuan bersedia?" tanya dokter Rebecca.
" Selama aku sanggup tentu saja boleh, apa yang dokter minta?" tanya tuan Richard yang masih penasaran apa yang di minta oleh dokter Rebecca.
" Aku ingin apapun yang terjadi tuan Richard tidak menyakiti diri sendiri. Tuan harus yakin suatu saat nanti tuan pasti bahagia dan menemukan seseorang yang benar - benar tulus mencintai tuan. Aku hanya ingin hadiah itu saja tidak ada yang lain." jawab dokter Rebecca sambil menggenggam tangan tuan Richard.
" Biasanya semua wanita paling senang apa yang aku tawarkan tapi kenapa dokter tidak mau?" tanya tuan Richard tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter Rebecca.
" Tidak semua wanita sama ada yang matre dan ada yang tidak." jawab dokter Rebecca sambil melihat jam tangannya.
( " Seandainya saja aku bertemu dokter ini lebih awal mungkin hatiku tidak sesedih dan sesakit ini. Dokter ini sangat berbeda, aku sangat nyaman tapi tidak mungkin dokter ini mau menerima pria lumpuh dan cacat sepertiku pasti dokter ini mencari pria yang lebih sempurna." Ucap tuan Richard dalam hati ).
" Maaf tuan aku ada pasien lagi, saya tinggal ya." Pamit dokter Rebecca.
" Kapan ke sini lagi?" tanya tuan Richard penuh harap.
" Sebelum pulang aku akan datang ke sini lagi tapi dengan satu syarat." pinta dokter Rebecca.
" Apa itu?" tanya tuan Richard penasaran.
" Tuan harus kuat menghadapi semua yang telah terjadi. Jangan lagi menyakiti diri sendiri karena hatiku sangat sakit jika tuan terluka. Maukah melakukan itu demi diri tuan dan juga demi diriku?" tanya dokter Rebecca penuh harap.
" Baiklah asalkan dokter selalu datang untuk menengokku." jawab tuan Richard.
" Aku akan usahakan datang jika tidak ada pasien, maaf tuan aku tinggal dulu." pamit dokter Rebecca sambil menyentuh tangan tuan Richard kemudian membalikkan badannya meninggalkan tuan Richard sendirian.
" Hatiku merasa nyaman jika dokter itu bersamaku. Seandainya saja aku tidak cacat dan lumpuh aku ingin mengatakan padanya kalau aku mulai jatuh cinta padanya. Secepat itukah aku jatuh cinta? atau hatiku yang merasa nyaman bersamanya?" tanya tuan Richard pada dirinya sendiri.
Tidak terasa waktu sudah sore dan sesuai janjinya dokter Rebecca datang menemui tuan Richard.
" Bagaimana keadaan tuan sudah lebih baik?" tanya dokter Rebecca sambil tersenyum.
" Sudah dok, berkat dokter sudah lebih baik." jawab tuan Richard
" Lho kok aku? apa hubungannya?" tanya dokter Rebecca dengan nada bingung.
" Karena dokter perhatian padaku makanya aku sembuh." jawab tuan Richard.
Dokter Rebecca hanya tersenyum mendengar ucapan tuan Richard sedangkan tuan Richard hanya menatap dokter Rebecca membuat dokter Rebecca menundukkan kepalanya.
" Dokter kenapa maskernya tidak di buka?" tanya tuan Richard karena dirinya ingin sekali melihat wajah dokter Rebecca.
" Maaf, seperti yang aku bilang aku sedang flu dan tidak ingin tuan tertular." jawab dokter Rebecca.
" Aku tidak perduli, bukalah maskernya," pinta tuan Richard penuh harap.
" Baiklah," jawab dokter Rebecca pasrah sambil membuka maskernya.
Deg
Jantung tuan Richard berdetak kencang melihat wajah cantik dokter Rebecca membuat dokter Rebecca menutup kembali maskernya.
" Kenapa di tutup?" tanya tuan Richard tidak rela.
" Seperti aku bilang sebelumnya aku tidak ingin tuan tertular," jawab dokter Rebecca.
ceklek
Ketika tuan Richard ingin mengatakan sesuatu pintu ruang perawatan terbuka membuat mereka berdua menatap ke arah pintu dan melihat seorang perawat membawakan nampan yang berisi nasi, sayur dan lauk serta gelas yang berisi air mineral. Dokter Rebecca berdiri dan membalikkan badannya untuk menerima nampan tersebut.
" Terima kasih Lena, biar aku bawa saja nampannya." ucap dokter Rebecca sambil berjalan ke arah Lena.
" Baik dokter Rebecca." jawab perawat tersebut.
Perawat itupun membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
" Tuan mau makan?" tanya dokter Rebecca dengan nada lembut.
" Boleh tapi bolehkah disuapi lagi?" tanya tuan Richard penuh harap.
" Baiklah." Jawab dokter Rebecca singkat.
Dokter Rebecca mulai menyuapi tuan Richard setelah selesai makan dan minum dokter Rebecca meletakkan semuanya di meja dekat ranjang. Mereka berdua mengobrol dan tidak berapa pintu ruang perawatan VVIP di buka oleh seseorang.
ceklek
Asisten Rey membuka pintu ruang perawatan VVIP dan berjalan mendekati tuan Richard dan dokter Rebecca.
" Sore tuan Richard dan dokter." Sapa asisten Rey.
" Sore tuan. Oh iya kebetulan saya juga mau berpamitan untuk pulang karena hari ini jadwal praktek ku sudah habis." pamit dokter Rebecca.
" Besok bisa ke sini lagi kan?" tanya tuan Richard penuh harap.
" Saya usahakan untuk datang, permisi tuan - tuan." Jawab dokter Richard.
Dokter Rebecca membalikkan badannya dan meninggalkan mereka berdua. Tuan Richard hanya diam dan memperhatikan dokter Rebecca hingga menghilang dari penglihatan. Sejujurnya dirinya ingin agar dokter Rebecca menemaninya tapi hal itu tidak mungkin mengingat dirinya bukan siapa - siapa.
Asisten Rey menatap tuan Richard seakan tidak percaya melihat tatapan tuan Richard yang sendu menatap kepergian dokter Rebecca.
" Apakah tuan mulai jatuh cinta lagi dengan dokter itu?" tanya asisten Rey penasaran.
" Sepertinya begitu, dokter Rebecca sangat berbeda dengan wanita lain." jawab tuan Richard.
" Maksud tuan?" Tanya asisten Rey dengan nada bingung.
Tuan Richard menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi sedangkan asisten Rey dengan setia mendengarkan ucapan tuan Richard sampai selesai.
" Dari yang tuan ceritakan memang dokter itu berbeda dengan wanita lainnya." Ucap asisten Rey
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
🌹
Terima kasih sudah mampir di ceritaku.
Oh iya, ini ada karya teman ku di jamin pasti ok punya.... bisa mampir dan nikmati untuk para pembaca novel setiaku dengan judul :
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Reza Indra
👍🏻👍🏻👍🏻🧡🧡❤🧡🧡😘😘😘
2023-05-20
0
Okta
sungguh Dewi yg tulus 💝🥰
2022-10-02
0
Ellen Pattipeilohy L
karena Pria ingin di mengerti..lanjut thorr
2022-07-12
1