.
.
waktu terus berlalu,
Raka merindukan Raya yang beberapa hari tak bertemu dengannya lagi.
"aku tidak bisa fokus bekerja". gumam Raka di ruang kerja nya.
Raka kini ada di perusahaan barunya, ia menyibukkan diri bekerja untuk menghilangkan bayang-bayang Raya yang terus saja menari-nari di kepalanya.
"apa kepalaku tidak bisa di kendalikan sama sekali? kenapa sulit sekali melupakan Raya sebentar saja?". gerutu Raka pada diri sendiri.
"tenangkan dirimu...! tenang.. tenang.. oke.. begitu.. bagus.. tenang". gumam-gumam Raka
Raka membuka matanya seketika mengingat tatapan Robert pada Raya yang sampai hari ini tidak bisa ia lupakan.
"ada apa dengan tatapan itu? apa sebenarnya terjadi? apa aku ketinggalan sesuatu untuk diketahui? ". Raka bergumam heran.
betapa kerasnya Raka melupakan hal itu semakin kuat saja ingatan itu hingga Raka tak punya pilihan selain keluar perusahaan mencari angin segar.
Raka pergi ke Mol MattGroup
Raka tau mol terbesar indonesia itu adalah milik keluarga Raya,
"apa yang aku lakukan disini? ". gumam Raka menatap gedung tinggi nan luas itu.
Raka hendak berbalik lalu terdiam sesaat.
"aku bisa menghilangkan stress disini". gumam Raka mengingatkan diri.
cukup banyak pertimbangan akhirnya Raka memasuki Mol MattGroup, banyak para pengunjung mol terkesima dengan penampilan Raka. baru beberapa hari Raka mendirikan perusahaan baru ia sudah dikenal diberbagai kalangan terutama di kalangan perempuan.
Maisy berbunga-bunga seketika melihat Raka dari lantai teratas, tadinya ia tidak tau Raka ada di mol MattGroup tapi orang-orang disekitarnya heboh berlarian menuju balkon melihat Raka yang menginjakkan kaki di mol megah itu.
Raka mengedarkan pandangannya lalu melangkahkan kakinya menuju lift langsung menekan lantai teratas tempat bermainnya anak-anak.
"apa aku bisa bermain saat ini? ". gumam Raka meregangkan jari jemari tangannya.
Raka berjalan menuju permainan tembak-tembakan.
"akkh... ".
Raka terkejut seketika saat kakinya di peluk seseorang.
Raka menoleh ke bawah dan menaikkan sebelah alisnya, "hei.. tikus kecil! apa yang kau lakukan? ".
"aku bukan tikus kecil om.. aku anak manusia". bantah anak itu dengan kesal.
"kau memanjat tubuhku artinya kau tikus". Raka menonyor kening bocah nakal itu.
"kakak cantik.. lihat om ini merebut mainanku". adu anak itu pada seorang gadis yang tengah membelakangi mereka.
Raya menoleh seketika sambil menjauhkan ponselnya dan matanya bertemu pandang dengan Raka, mereka bertemu lagi setelah berhari-hari lamanya tak bertemu.
"kau..? " Raya kaget melihat Raka
Raka juga sama, "sedang apa kau disini?".
"mol ini milik keluargaku apa aku tidak boleh masuk kesini? ". tanya balik Raya dengan tajam.
Raya mendekati anak laki-laki itu lalu mengelus kepala bocah pria itu yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.
"mainlah.. jika dia mengacau katakan saja. ! kakak akan melindungimu". Raya berkata
Raka menganga lebar saja akan ocehan bocah nakal dan Raya yang terlihat kompak seperti ibu dan anak saja.
"heiii.. tikus kecil". Protes Raka hendak merebut pistol mainannya bak anak kecil saja.
Raya segera mematikan panggilannya dan menarik pergelangan tangan Raka membawanya menjauh dari tempat itu.
"aku sedang mencari kesenangan disini tapi kenapa kau dan bocah itu malah menggangguku? ". protes Raka
"anak itu baru saja bebas dari penculikan". ujar Raya membuat Raka terdiam seketika.
"penculikan? ". beo Raka
"iya.. dia sudah di kurung berhari-hari, tubuhnya kehilangan kurus tapi dia bukannya sedih atau menangis, dia malah bangga akhirnya badannya kurus". jelas Raya
Raka menoleh ke bocah yang ia sebut tikus kecil itu.
"tapi dia keliatan baik-baik saja". gumam Raka
"dia memang keliatan baik-baik saja tapi kau harus ingat jangan percaya penampilan luarnya saja terkadang yang terlihat baik-baik saja belum tentu hidupnya bahagia".
"bagaimana kau tau dia baru bebas dari pelaku penculikan anak? ". tanya Raka
"aku membebaskannya". jawab Raya
"bagaimana caranya? ". tanya Raka balik.
"haisssh.. kau berisik sekali". Raya mendorong kesal tubuh Raka hingga pria tampan itu termundur beberapa langkah.
diam-diam Raka tersenyum tipis namun berkesan, ia sangat suka bertemu Raya disini, sungguh kejadian tak terduga seolah Tuhan sedang berpihak padanya kini selalu menuntunnya lebih dekat dengan Raya.
Raka yang dulunya hanya mengagumi Raya dari kejauhan kini telah dekat dengannya, pria mana yang tidak akan ingin bersikap serakah perihal yang mereka suka.
alhasil Raka dan Raya bermain bersama bocah itu, mereka seperti keluarga kecil yang sedang liburan.
"nama aku bukan bocah nakal om". kesal anak laki-laki itu tak terima di sebut bocah sejak awal mereka bermain.
Raka mengabaikannya saja tetap memanggil bocah nakal bahkan Raka berteriak memanggilnya tikus kecil hingga orang-orang yang mendengarnya tertawa, bagaimana bisa seorang Ayah menyebut anaknya sendiri tikus kecil.
Raya yang mendengar perdebatan mereka berdua memijit pelipisnya,, "mereka berdua berisik sekali".
cukup lama mereka bermain, orangtua anak laki-laki itu akhirnya datang dari luar kota.
"orangtua Vero? ". tebak Raya sejak awal melihat sepasang suami istri keluar dari lift sedang kecarian sana-sini.
Raya menghubungi nomor yang Vero berikan padanya, dan benar saja tebakan Raya salah satu dari orang itu mengangkat panggilan Raya.
"kami disini. ! lihat jarum jam angka 3". pinta Raya
sepasang suami istri itu berlari langkah 1000 mencari Raya yang kabarnya bertemu dengan putra satu-satu mereka yang hilang 2 minggu lebih lamanya.
"saya mamanya Vero.." kata seorang wanita yang matanya terlihat sembab
"saya papanya Vero". sambung pria disampingnya.
"hmm". Raya mengangguk percaya sebab mereka lah yang mengangkat panggilan telfon Raya tadinya.
"dimana anak kami nona? ". tanya si ibu
"iya nona.. kami sangat merindukannya". timpal si ayah.
"disana". Raya menunjuk Vero yang tengah berdebat dengan Raka.
"Vero... Nak.. " si ibu berlari dengan mata berkaca-kaca
Vero menoleh dan senyumnya mengembang seketika melihat mama nya ada di kota ini, sedangkan Ayah Vero menangis dalam penyesalan melihat tubuh putranya yang banyak kehilangan berat badan alias kurus.
"terimakasih nona.. sejak 2 minggu lamanya kami mencarinya kemana-mana, kami bahkan sudah hampir gila mencari anak kami satu-satunya, terimakasih nona".
"tidak apa. lain kali anak kalian harus di jaga, dia ditangkap oleh bandar penculikan anak penjual organ tubuh, jika saja saya terlambat anak anda sudah tidak ada saat ini". Raya menjawab begitu mudah.
si ibu menangis histeris memeluk anaknya sebab mendengar penjelasan Raya barusan dan suaminya pun berlari ikutan memeluk anaknya, mereka bersyukur anak mereka selamat.
pantas saja mereka tidak menemukan putra mereka sebab diculik oleh manusia yang penjual organ dalam, betapa kejamnya dunia ini begitulah fikir sepasang suami istri itu yang tak bisa membayangkan anak satu-satunya di keluarga mereka dibesarkan dengan cinta malah di jual oleh orang tidak berakal.
"syukurlah kamu baik-baik saja nak..! mama senang bertemu kamu lagi sayang". ucap si ibu begitu sedih namun terharu juga bisa melihat anaknya.
.
.
.
OTW episode berikutnya
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 290 Episodes
Comments
Hasnah Siti
makin seru thor...aku suka!😍
2022-12-01
1
🚬
kalo udah takdir tetep ketemu walau gak di rencanakan
2022-06-15
2
wiwik
(Maaf)emangnya Raya kerja pa ya🤔🤔🤔🤔
2022-06-12
1