.
.
"sepertinya sudah aman, ayo kita keluar dari hutan ini". kata Raka
Raya masih terlihat serius melihat punggung Raka, Raka tak dapat jawaban pun menoleh ke Raya.
"kenapa melamun? hari sudah mau malam kalau malam disini akan banyak serigala buas". Raka menarik pergelangan tangan Raya.
Raya mengikuti saja langkah kaki Raka,
"apa punggungmu baik-baik saja? ". tanya Raya
"hmm.. kenapa? ". tanya Raka tanpa menoleh
"tidak apa". jawab Raya seolah tau Raka tidak menyadari luka di punggungnya itu.
"dimana kendaraanmu? ". tanya Raka
Raya menunjuk arah utara,
"mobilku disana". Raka menunjuk arah barat.
"kita berpencar saja". Raya
"kau baik-baik saja sendiri? ". tanya Raka
"kau fikir aku perempuan lemah? sana pulang dan obati punggungmu itu". Raya berlalu meninggalkan Raka yang terbengong saja.
Raka tidak sadar luka di punggungnya yang terkena akar pohon, mereka benar-benar berpencar kembali ke rumah masing-masing.
Raka tiba di mansionnya.
"master". sapa seluruh mafia the R serentak.
Raka mengangkat tangannya saja lalu berlalu melewati mereka semua yang terkejut melihat punggung sang master.
Raka tidak pernah terluka setelah sekian tahun lamanya tapi akhir-akhir ini Raka sering terluka entah apa yang salah dengan dirinya itu.
Raka langsung masuk ke kamarnya dan berjalan ke arah kamar mandi. badannya terasa gerah saat ini.
Raka menatap lurus kedepan saat tubuh kekarnya di guyur pancuran shower.
"aakh.. ". Raka meringis seketika saat baru menyadari punggungnya terasa perih.
Raka membalik tubuhnya dan berkaca di pantulan cermin.
"dimana aku dapat luka ini? ". gumam Raka keheranan sendiri.
Raka berubah pikiran memilih berendam di bath up nya sambil menghidupkan lilin dengan bau khas nya yang menenangkan pikirannya (Lilin aroma terapi).
Raka memejamkan matanya dan teringat tatapan Robert pada Raya.
"ck... tatapan itu menyebalkan sekali.. ingin sekali aku congkel kedua mata nya itu yang mau keluar menatap Raya".
Raka tertegun seketika saat baru menyadari Raya berkata,, "kau fikir aku perempuan lemah? sana pulang dan obati punggungmu itu".
"dia melihat luka ku? ". Raka bergumam pelan
"kenapa aku selalu dalam keadaan menyedihkan bertemu dengannya? ".
Raka memukul air hingga wajahnya terkena sabun.
"aihh.. sial perih nya". Raka memaki sendiri saat matanya terkena sabun padahal akibat perbuatannya sendiri.
.
.
malam hari
Raya tidur di ranjangnya menatap langit-langit kamarnya.
"apa punggungnya baik-baik saja? ". gumam Raya penasaran.
"kenapa juga aku bertanya seperti itu? bukan salahku dia terluka, siapa suruh dia masuk ke jebakan itu dan dekat-dekat denganku".
Raya menggeleng-geleng kepalanya seketika, "dasar aneh, kenapa kau merasa bersalah Raya? kau tidak salah. dia saja yang sok jadi pahlawan kesiangan, apa dia pikir aku ini perempuan lemah? ck.. bahkan melawannya aku bisa".
Raya terus saja mengoceh hingga akhirnya ia ketiduran. jika Raya sendirian dia akan senang mengoceh sama seperti Papinya (Dylan) tapi kalau ada orang lain walau keluarganya sendiripun Raya lebih suka diam dan tak banyak bicara.
.
.
ke esokan harinya
"sayang? ". Shindy memasuki kamar Raya setelah mengetuk pintu kamar putri sulungnya.
"hmm? iya mami". Raya duduk dengan mata terpejam.
"kamu dapat undangan pertunangan teman kampusmu". Shindy memberikan undangan yang tadi diantar oleh orangtua teman kampus Raya.
"oh.. letak saja mi.. Raya tidak datang pun tidak masalah". Raya hendak tumbang namun di tahan oleh Shindy
"mi..? " . decak Raya masih dengan mata terpejam.
"orangtuanya itu teman arisan mami sayang, kamu harus datang ". tegas Shindy
Raya menguap lebar hingga Shindy kasihan melihat putrinya dan membiarkan Raya kembali tidur.
"nanti malam acaranya sayang, kamu harus datang banyak pengusaha tampan dan kaya datang keacara itu bisa jadi mami dapat menantu hebat". Shindy berkata tenang namun makin lama makin heboh saja dengan kata menantu hebat.
"issh... mimi kerjaannya menantu meluluk, carikan buat Satria aja mi". racau Raya
Shindy mengerutkan keningnya mendengar sebutan Raya itu Mimi, panggilan itu saat Raya masih kecil hal itu membuat Shindy gemas membenarkan selimut Raya dan mencium sayang kening putri juteknya itu.
"dasar tuan putri jutek". gemas Shindy
.
sementara di kamar berbeda Raka juga mendapatkan undangan dari Perusahaan asing yang cukup ternama.
"kampus Melviano? apa Raya juga datang? ". gumam Raka pelan.
senyum Raka perlahan tertarik ke atas, ia tersenyum tipis.
"aku ingin sekali mengarunginya dan membawanya pergi ke penghulu".
Raka melihat ke arah gambar Raya yang terlihat sangat cantik setiap harinya bagi Raka.
.
malam harinya.
Raya memilih asal gaun yang ada di lemari bajunya tanpa berniat membeli karna semua yang Raya miliki saat ini masih baru bahkan bandrolnya belum di lepas.
"oke.. perfect tuan putri". puji Raya pada dirinya sendiri.
Raya menenteng heelsnya, Raya tidak suka pakai heels tapi diacara-acara penting tentu saja ia harus datang dan memakai benda penting bagi perempuan itu.
"waah.. kakak cantik sekali". heboh Alya
Satria dan Arya sudah biasa melihat kecantikan Raya tapi yang membuat mereka tertawa itu adalah heels yang bertengger di bahu bersama tas Raya.
Shindy menepuk jidatnya melihat kelakuan putri sulungnya itu.
"mas lihat kelakuan putrimu". Shindy menoleh ke Dylan yang terkekeh saja melihat kelakuan anaknya itu.
"iya.. kelakuan anak kita". ralat Dylan
"Papi.. Mami.. Raya keluar ya? ". Raya masih sempatnya mengunyah permen karet di dalam mulutnya.
"heelsnya dipakai kak". Alya berdiri disamping Raya dengan sumringah
Raya mencubit pipi Alya sambil tersenyum hingga kedua lesung pipi Raya terlihat jelas,
.
.
Raya terpaksa pergi sendiri ke acara itu, Raya datang ke acara itu tidak terlihat anggun sama sekali malah terlihat seperti seorang gadis tomboy nan cantik.
"ck.. membosankan sekali". Raya berjalan seperti biasa tak ada kesan lenggak-lenggoknya sedikitpun.
Raka di sudut ruangan menyemburkan air minumnya seketika melihat sosok yang sangat ingin ia temui malam ini.
"dia cantik sekali". batin Raka mengelap bibirnya yang basah.
Raya mengucapkan selamat pada pasangan yang sedang bertunangan lalu turun dari mimbar dan berjalan menuju tatanan kue.
Raya mengabaikan tatapan para pria yang menatap kagum dan memuja padanya, Raya malah makan seperti anak kecil. ia sengaja melakukan itu supaya para pria yang menyukainya ilfil dan tak suka padanya.
Raya sudah dikenal sebagai tuan putri Melviano yang dingin, dan punya kepribadian buruk hingga tak ada pria yang berani mendekatinya jika tidak ingin kena mulut badas Raya apalagi pada Pria yang menatap bentuk tubuhnya alias mesum.
"hai...? " sapa seorang pria di samping Raya
Raya menoleh ke pria itu sebentar lalu kembali fokus dengan kuenya dan memasukkannya ke dalam mulutnya yang terbuka lebar di hadapan pria itu.
Robert bukannya ilfil malah terkekeh lucu, hingga mata Raya memicing tak senang melihatnya.
"sana pergi..! kau mengganggu saja". usir Raya dengan ketus tanpa melihat Robert yang tengah menatapnya serius.
Raka di sudut ruangan menahan diri untuk tidak mendekati Raya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 290 Episodes
Comments
Dewi Kijang
lanjut
2022-09-01
1
🚬
saingan nya Robert nih kek nya 🤔
2022-06-15
1
wiwik
pa nanti didlm pesta ada kekacauan kah🤔🤔🤔🤔
2022-06-11
1