.
.
.
ke esokan harinya sesuai dengan janji Raya pada keluarganya. Raya harus pergi ke Vila di tepi pantai tempat Ella, Ramzi, Kaira dan Pasha menghabiskan masa bahagia disana sebab mereka juga bertetangga.
Raya fokus dengan kemudinya, tak ada siapapun yang menemaninya karna itu atas permintaannya sendiri dan tak ada yang bisa menentangnya juga walau Alya bersikeras minta ikut tapi tak mau membuat adiknya dalam bahaya membuat Raya tegas tak mengizinkan siapapun ikut dengannya termasuk Satria.
"apalagi sih". kesal Raya seketika saat mobilnya terhenti di jalanan sepi
Raya membuka seatbeltnya lalu keluar dari mobilnya, ia menaikkan lengan bajunya yang panjang sambil melihat keadaan mobilnya.
"tidak ada masalah". gumam Raya menggaruk hidungnya sendiri hingga menghitam.
Raya tau sedikit tentang mobil tapi tidak mempelajarinya secara khusus jadi belum sempurna ilmunya sebagai ahli mesin kecuali saudara kembarnya Satria yang ahli memperbaiki mesin.
Raya masih terlihat tenang berkutat dengan mobilnya seolah bukan hal yang menakutkan, jika perempuan lain pasti ketakutan tapi tidak bagi seorang Raya.
"tidak ada yang berubah". gumamnya keheranan kini mengusap pipinya hingga menghitam juga.
cukup lama Raya mencoba memperbaiki mobilnya tak ada yang berubah hingga Raya kebingungan.
"hp ku". gumamnya kini kelimpungan mencari ponselnya.
"haisshh.. aku tidak bawa ponsel". gumamnya baru menyadari keteledorannya yang meninggalkan ponselnya di sofa kamarnya.
Raya melihat situasi yang benar-benar sepi hingga sebuah mobil tiba dan Raya melihat banyak preman keluar dari dalam sana.
Raya memiringkan kepalanya melihat mereka semua, mereka semua hendak menggoda dan merampok Raya yang dianggap seorang gadis lemah namun kedatangan mobil mewah membuat mereka lari terbirit-birit memasuki mobil.
Raya bahkan belum melakukan apa-apa hanya menatap mereka semua dengan datar, wajahnya yang belepotan oli masih terlihat sangat cantik malah terlihat menggemaskan.
"apa mereka takut dengan pemilik mobil ini? ". batin Raya berwajah datar memperhatikan mobil yang kini berhenti di belakang mobilnya.
seorang Pemuda tampan keluar dari sana dengan stelan jas formalnya seperti mau berangkat ke Perusahaan saja.
"ada yang bisa saya bantu? ". tanya Pria itu menatap mobil Raya yang terasa tidak asing baginya.
Raya masih diam dan memicingkan matanya memperhatikan Pria itu dengan curiga namun tak terlihat kalau Raya sedang waspada sebab Raya sangat pintar menyembunyikan ekspresinya.
Pria itu menoleh ke Raya sebab tak kunjung mendengar jawaban, ia berpikir Gadis yang hendak ia bantu sedang terpesona padanya tapi Pria itu malah tersentak melihat wajah yang pastinya sangat ia kagumi.
"Raya? ". batin Pria itu namun melihat wajah Raya yang belepotan oli membuat senyumnya terbit namun segera ia menutupinya.
Raya berwajah datar, "apa? ".
"wajahmu". tunjuk Pria tampan itu dengan bibir berkedut menahan tawa.
Raya terlihat acuh, "cepat lihat mobilku kalau mau menolong ku".
"kenapa mobilmu? ". tanya nya dengan senyum tertahan.
"tidak tau." jawab Raya memutar kepalanya melihat ke depan mobilnya.
Raka Mahawira, dialah Master R yang ditakuti oleh lawannya baik yang kuat maupun yang terlemah. saat ini Raka ingin pergi ke makam mendiang Ayahnya tak di duga ia malah bertemu dengan kekasih impiannya.
Raka membuka jas nya dan memberikannya pada Raya yang sontak saja melototkan matanya dengan tak senang.
Raka melemparnya ke wajah Raya hingga Gadis itu terpaksa memegang jas Raka,,
"Kau tidak tau siapa aku? aku bisa saja membunuhmu saat ini.. berani sekali kau memerintahku.. kau fikir aku istrimu ha? ". Raya untuk pertama kalinya berbicara panjang lebar pada orang asing.
Raka seolah acuh melepas kancing lengan bajunya dan menariknya ke atas hingga lengan kekarnya terlihat jelas, Raya menghela nafas dalam-dalam menahan emosinya yang ingin mencakar Pria didepannya jika tak ingat dirinya memang butuh bantuan saat ini sebab ia lupa bawa ponsel.
Raya melihat situasi hingga tak sadar banyak mobil bergerombolan tengah mengepung mereka kini.
"Master.. apa yang sedang kau lakukan? ". ejek orang itu.
Raka terlihat acuh malah terlihat fokus memperbaiki mobil kekasih impiannya yang memang terlihat serius hingga cukup memakan waktu.
"diam saja..? sepertinya dia memang harus di beri pelajaran".
Raya diam melihat situasi tanpa ada rasa takut dimatanya,
"bukankah gadis ini nona Melviano tuan? ".
"oh ya? itu tidak mungkin, pasti orang yang mirip saja".
"iya juga ya.. ngapain juga Nona Melviano ke tempat sepi ini".
"kalian berisik sekali". Raya akhirnya mengeluarkan suara hingga para anggota Mafia musuh Raka saling pandang di tempat.
Raka tersenyum tipis saja mendengarnya,
"Nona.. sedang apa kau disini? ".
"pergilah jika masih ingin hidup".
Raya memutar bola matanya dengan jengah lalu melirik mobilnya yang tengah di perbaiki oleh Raka.
"apa dia wanitamu Master? ". tebak salah satu musuhnya dengan takjub dan tak percaya.
merasa diabaikan mereka mulai terpancing emosi dan hendak menendang Raka tapi dengan santainya Raka mengelak dan kembali fokus dengan pekerjaannya memperbaiki mobil Raya.
"tidak bisakah kalian menungguku selesai? aku tidak akan lari bodoh". umpat Raka
"baiklah kalau begitu jangan harap kau bisa menipu kami nantinya".
Raka mengangguk saja tanpa menoleh sedikitpun.
Raya hanya diam tanpa ingin terlibat sebab dari cara Raka yang terlihat tenang tak terusik dengan banyaknya orang yang mengepungnya membuatnya tau kalau Raka bukan orang biasa.
"bagaimana jika kita serang wanitanya saja tuan? ". bisik salah satu dari mereka mulai merasa bosan menunggu Raka selesai mengerjakan mobil Raya.
Raya menatap tajam orang yang memberi ide itu, "jangan bawa-bawa aku kalau kau memang pria sejati, ingat saja tujuan kalian jangan berubah kalau tidak mau kesasar".
yang lainnya menertawai rekannya yang memerah malu ditertawai oleh rekannya sendiri.
"waah.. sepertinya wanita mu lumayan juga master". decak kagum Ken orang kepercayaan musuh besar Raka pastinya.
Raka tidak juga menjawab karna memang tidak ingin Raya dilibatkan dengan masalahnya jika Raka membenarkan di depan mereka kalau Raya adalah gadis yang telah di cap sebagai wanitanya.
"selesai.. ". Raka segera menutup mobil Raya dan mencoba mesin nya yang langsung hidup.
Raya menghela nafas lega saat mobilnya bisa hidup.
Raka keluar dari mobil Raya lalu mengulurkan tangannya dan Raya langsung memberikan jas Raka.
"terimakasih". ucap Raya dengan datar melirik situasi.
"hmm.. jangan pedulikan aku.. pergilah". pinta Raka terlihat serius dan datar tak tertebak bahwa jantungnya tengah berdebar saat ini melihat secara langsung Raya setelah sekian tahun lamanya.
Raya dan Raka saling bersitatap, Raya adalah gadis yang pintar dan sangat mengerti apapun lewat sorot mata seseorang karna memang itu salah satu dari pesonanya.
tanpa ragu Raya langsung memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Raka sendirian di tengah kerumunan banyak orang itu.
Raya sebenarnya ingin membantu tapi ia sudah berjanji pada Shindy tidak akan berkelahi dengan mencampuri masalah orang lain dan Raya tidak akan melanggar janjinya pada sang mami dan Raka sendiri memintanya pergi lewat sorot mata tajamnya itu.
"kau melepaskan wanitamu tuan? " ejek Ken
"tau apa kalian tentang wanitaku? dia bukan wanitaku hanya orang yang kebetulan aku tolong". jawab Raka dengan tenang menggantung Jas nya di pohon disampingnya.
"ck.. kau fikir aku bodoh tuan? berjam-jam kau menghabiskan waktu memperbaiki mobilnya itu? padahal kau tau kami mengintaimu?".
"haha...? dia berfikir kita akan percaya? "
tak ada yang percaya akan kata-kata Raka.
Raka tersenyum misterius,, "Kalian telah mengetahuinya dan siapapun yang tau wanitaku dia akan mati hari itu juga, aku tidak akan mengampuni musuhku yang telah melihat kelemahanku. " gumam Raka dengan sinisnya.
Raka tidak akan mau membuat Raya masuk dalam masalahnya yang pelik hingga wanitanya tidak aman kemanapun pergi.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 290 Episodes
Comments
Dewi Kijang
lanjut
2022-09-01
2
Mamax Garissa
santuy
2022-08-18
2
❄️ sin rui ❄️
kerennn,, suka kalau mafia nya gak lemah, gak bodoh,
2022-08-12
3