.
.
Raka tiba di mansionnya dan kini ada di kamarnya. Mood nya hancur malam ini, sungguh menjijikkan baginya berdekatan dengan keluarga yang dulu membuangnya.
"Pergi kau dari sini anak pembawa sial...! "
"pembawa sial.. hanya akan memberi kesialan saja di rumah Smith, dasar sialan".
"pergi jauh jangan bawa apapun dari sini, kau membunuh suamiku... "
ingatan kecil Raka saat di usir seperti binatang dulunya terbayang-bayang kini.
Raka memukul Meja seketika, bukannya hancur hanya membuat tangan Raka memerah saja.
begitulah kehidupan Raka yang tak pernah bahagia, ia diliputi dendam dan musuh di kalangan Mafia. tapi apa salah jika Raka jatuh cinta? disaat semua orang menyebutnya hama pembawa sial, Raya malah memberikan hal penting bagi Raya (gelang) padanya hanya untuk biaya kehidupannya.
Raya dan Satria, mereka adalah orang yang tak pernah memandang jijik atau kasihan pada nya padahal saat itu Raka benar-benar seperti pengemis jalanan.
sementara kehidupan Raya benar-benar berbanding terbalik dengan Kehidupan Raka. Raya hidup bahagia bergelimang harta dan penuh kasih sayang, walau begitu ia tak pernah menyombong atau menyalah gunakan kekuasaannya.
tapi hanya satu kekurangan Raya, ia gadis yang dingin dan datar. biasanya gadis yang di sayangi oleh keluarga akan membangun pribadi yang ceria dan bahagia pada dirinya tapi tidak bagi Raya malah jutek dan tak peduli, berbeda dengan adiknya Alya yang cerah dan ceria.
.
pagi-pagi
Raya keluar kamar untuk sarapan dengan keluarganya.
"mau kemana sayang? ". tanya Shindy melihat penampilan sang putri.
"Raya mau berburu mami". jawab Raya dengan senyum tipisnya.
"perlu Papi ikut sayang? ". tanya Dylan
"No.. Papi. ! Raya bisa sendiri". tolak Raya
"kakak? ". rengek Satria, Arya dan Alya
bola mata Raya memutar malas,, "cari kegiatan lain ok? kakak malas membawa beban".
"Satria bisa beladiri kak". bela Satria
"Arya bisa menembak kak". bela Arya
"issh.. apa-apaan sih, kak.. Alya bisa memanah kak tidak akan meleset sedikitpun". bela Alya juga tak mau kalah.
"kakak menguasai semua keahlian kalian itu jadi tak usah mengacau! ". tekan Raya
"sudah-sudah.. tidak usah ganggu kakak kalian, cari kegiatan lain saja nanti kalau ikutpun kalian akan di tinggal entah dimana oleh kakak kalian ini". Shindy menengahi.
"hmm.. sarapan saja kita ya". timpal Dylan
hening..
hanya suara dentingan sendok saja yang ada di ruangan makan mereka kini.
Raya memang suka dengan kegiatannya sendiri, tidak suka membawa adiknya, sebelumnya Raya pernah membawa Alya namun adiknya pernah terluka karnanya. sejak saat itu Raya tidak mau membawa adiknya sekalipun, walau tidak parah tapi Raya juga sayang dengan adiknya dan tidak suka adiknya terluka walau sedikit apalagi karna kesalahannya.
.
.
Raya menutupi wajahnya hanya mata hitamnya saja yang terlihat, Raya memakai lensa mata. kini ia ada di hutan lebat yang terlihat menyeramkan,
hutan yang Raya masuki adalah hutan terseram yang ada dikota siapapun yang memasuki hutan itu pasti tidak akan selamat tapi tidak bagi Raya malah begitu menguasai seluruh hutan itu dan sangat hafal setiap tempat didalam sana padahal hanya ada pohon saja dimana-mana.
"waah... Uty Mayra pasti suka burung cantik itu". gumam Raya tersenyum miring.
Raya mengeluarkan anak panahnya dan mulai ingin memanah targetnya
syuuuuttt...!
Raya membelalakkan matanya saat targetnya mati terkena panah orang lain bukan panahnya yang hanya mengenai sayapnya.
"sial.. kau mau mati ditanganku hah? ". Raya memutar kepalanya mencari pelaku hingga matanya menangkap sosok yang ia kenal.
"kau...? ". Raya menunjuk Raka dengan tatapan tajam dan menusuk.
"kau siapa memangnya? ". tanya Raka dengan acuh karna ia memang tidak mengenali Raya yang berpenampilan begitu tertutup itu.
Raka berlari mengambil santapannya,
Raya menarik nafas dalam-dalam, ia mengatur emosinya saat ini.
"pria ini selalu bisa membuat darahku mendidih". batin Raya dengan tatapan tajamnya.
Raya yang kesal mendekati Raka dan menjambak rambut Raka hingga pria itu mendongak ke atas.
"berani sekali kau memegang rambutku? ". Raka berkata dengan dingin
Raya malah tidak takut, ia membuka penutup wajahnya hingga Raka terkejut melihat wajah gadis impiannya.
"itu targetku. .! kau membunuh targetku". kata Raya melirik ke burung cantik yang sangat ingin ia dapatkan untuk Aunty cantiknya.
"lepaskan rambutku". titah Raka
"jangan memerintahku Mafia KO, kau harus menghidupkannya lagi cepat..! ". Raya makin kuat saja menjambak rambut Raka.
Raka menarik lengan Raya karna tidak tahan rambutnya yang sakit di tarik Raya. Raya dan Raka jadi berkelahi hanya karna seekor burung cantik yang sudah mati.
Raya benar-benar sangat hebat dimata Raka, bahkan Raka cukup mengeluarkan banyak energi melawan Raya yang tenang tapi pukulan dan tendagannya agresif karna sedang marah.
"woww...! ". tepuk tangan dan decak kagum seseorang menghentikan adegan perkelahian mereka.
Raka menyembunyikan Raya di belakangnya, Raya dengan cepat menaikkan penutup wajahnya. ia malas bertemu dengan orang lain di dalam hutan apalagi mengenalinya.
"sedang apa kau disini? ". tanya Raka dengan sinis.
"aku menyaksikan perkelahian sengit kalian..! gadis itu hebat juga ya? hei.. siapa namamu? ". teriak Robert seorang bos Mafia saingan Raka di dunia Mafia.
"sedang apa kau disini? ". tanya Raka sekali lagi dengan tenang.
"aku..? bersenang-senang tapi tidak disangka aku bertemu seorang yang aku kenal dan bertemu sebuah harta karun". kata Robert begitu dramatis nya.
"harta karun? ". sinis Raka
"hmm.. sepertinya Gadis itu bukan gadis sembarangan, siapa dia? ". tanya Robert penasaran.
Raka menutupi Raya di belakangnya, "jangan libatkan orang lain dalam masalah kita Robert..! "
"orang lain? ck... aku tertarik dengan wanita itu tentu saja aku mengabaikanmu bodoh". cibir Robert
Raya terlihat mengabaikan mereka berdua, ia berjongkok dan menatap kesal burung cantik yang ingin ia dapatkan tadi.
"apa aku bisa cari yang seperti ini lagi? ". batin Raya mengedarkan pandangannya.
Raya bangkit tanpa menoleh sedikitpun ia berlari memasuki hutan terdalam hingga Raka menoleh ke arah Raya.
"apa dia mengenal tempat ini? ". batin Raka penuh tanda tanya.
"wowww...! amazing...! dia memasuki hutan terdalam? aku makin tertarik padanya, menyingkir kau". usir Robert.
Raka menghalangi jalan Robert membuat pria tampan itu makin curiga akan apa yang Raka perbuat.
"apa dia wanitamu? ". tebak Robert
"kau tidak lihat kami tadi berkelahi? dasar bodoh". Raka melirik burung cantik yang menjadi targetnya dan Raya tadi
Robert pun percaya karna ia melihat sendiri Raka dan Raya berkelahi kalau sepasang kekasih tidak akan seperti itu kan?
"lalu apa yang kau lakukan? ". Robert menepis tangan Raka
Raka mendorong kasar tubuh kekar Robert.
"kau berburu saja sana! lakukan semua sesuai rencanamu tidak usah mengacau kegiatanku dan kegiatan gadis aneh tadi." Raka berkata dengan tajam mengambil burung cantik yang telah mati itu.
Robert menatap dingin saja Raka yang berjalan ke arah lain,
"siapa gadis itu? ". gumam Robert begitu penasaran sosok gadis menawan tadi.
bagi Robert wanita yang bisa berkelahi itu menawan.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 290 Episodes
Comments
Ernadina 86
knapa gak d bunuh skalian ..kan musuh
2023-02-16
3
Hasnah Siti
hayoook..kau penasaran banget bang robert...kalo berani langsung kejar tuh ratu iblisssssss....🔥🔥🔥🔥🔥.
2022-12-01
1
Sahril Banon
y ila knp nga di bunuh sja si robert knp mlah di biarkn pdhal sudah dpn mta
2022-08-19
1