.
.
ke esokan harinya
Raya kembali ke kota bersama Ella, Ramzi, Kaira dan Pasha yang ingin bermain ke kota bertemu Randi dan Rhiana.
mobil mereka berbeda karna Raya memang mau bawa mobil sendiri.
"Raya mau kemana? ". tanya Kaira menoleh ke Pasha di sampingnya.
"palingan tempat Kalila". jawab Pasha
"ikuti aja sayang.. aku mau bertemu dengan Aisha ku". Ella memegang tangan Ramzi yang tengah menyetir.
Ramzi mengangguk setuju sambil tersenyum melirik sang istri sesekali, baik Ella, Ramzi dan Kaira, Pasha sibuk dengan dunia masing-masing.
.
.
"kakak?? ". Kalila yang baru saja keluar dari kelas berlari ke arah Raya dan memeluk Raya begitu manja
Ella dan Kaira saling pandang lalu tertawa sambil menggeleng gemas.
"Omaaa? ". sapa Aisha yang sedang di genggam oleh Rahman dan juga berjalan bersama Kanaya.
"haloo.. cucu Omaaa? ". Ella berjongkok dan Aisha berlari riang lalu memeluk Ella dan bergantian memeluk Ramzi.
"Paa... Maa? ". Kanaya menyalami kedua orangtuanya juga menyalami Pasha dan Kaira.
bagi Kanaya Pasha dan Kaira juga orangtuanya, Rahman juga menyalami sopan kerabat tercinta sang istri.
"Papa.. Naya kangen". Kanaya memeluk manja Ramzi hingga Rahman hanya tersenyum.
"udah punya suami masih butuh papa juga ya? ". gemas Ramzi mengelus sayang kepala Kanaya.
"sayang.. kita bawa masuk tamu kita ke dalam rumah ya? ". bujuk Rahman
Kanaya melepaskan pelukannya dengan Ramzi lalu tersenyum malu karna melupakan etika nya saat menerima tamu.
Kanaya dan Rahman mengajak Raya tapi sepertinya Raya tidak mau masuk karna ingin bertemu dengan Kama.
semua mengikuti Kanaya dan Rahman, lebih tepatnya mengikuti Aisha yang tengah menggandeng kedua tangan Oma dan Opa nya.
Kaira dan Pasha berpegangan tangan saja berjalan mengikuti mereka, karna anak Ella juga anak Kaira begitu juga sebaliknya.
.
.
"bagaimana keadaanmu Lala? ". tanya Raya melihat raut wajah Kalila tampak lebih baik
Kalila tersenyum cerah, "Lala udah berdamai dengannya kak".
Raya tersenyum mendengarnya, "baguslah..! kalau dia tidak becus masukkan saja dia kembali ke dalam botol itu dan buang ke samudera ".
kalila tergelak keras saat temannya bernama Jinny itu tengah meringkuk di balik punggungnya takut dengan ancaman Raya.
"kenapa? dia takut? ". tebak Raya mengelus kepala Kalila
"iya kak". jawab Kalila terkikik lucu
"baguslah". Raya tersenyum jahat melihat belakang Kalila sebab Kalila tadi terus saja melihat punggungnya sendiri yang artinya Jinny bersembunyi dibelakang tubuh Kalila.
"kalau begitu kakak ke tempat Kama". Raya hendak bangkit.
"kak Kama laki-laki.. kakak tidak bisa masuk kesana". Kalila menahan tangan Raya
"lalu? ". Raya menaikkan sebelah alisnya.
"Jinny kau saja yang datangi kak Kama dan bilang kalau kak Raya dan aku ada dirumah Uty Kanaya dan Uncle Rahman". Kalila berbicara dengan teman barunya.
Raya tak mengelak hanya menuruti kemauan Kalila, tinggal di lingkungan Pesantren memang banyak aturan nya yang tidak boleh di langgar.
.
.
"waah.. Granmaa..? " Kama berlari memasuki rumah Rahman dan Kanaya yang berada di dalam area lingkungan pesantren.
"iya sayang". Kaira merentangkan tangannya.
mereka saling melepas rindu sambil makan bersama lalu mereka berpencar, Raya kembali ke Mansion Melviano sedangkan Kaira dan yang lainnya pergi ke rumah Gala dan Kaisha.
.
.
"Raya sayang..? kenapa kamu suka sekali buat mami khawatir hmm? ". Shindy berkacak pinggang di hadapan Raya.
Raya mengusap tengkuknya yang tak gatal, "maaf mami.. Raya nginap tempat granma.. sekarang Granma pergi ke rumah aunty Kaisha". Raya
"benarkah? ". tanya Shindy berbinar melupakan kekhawatirannya.
"kita berkumpul kesana yuk! ". ajak Satria
"ayookk...! ". jawab Arya dan Alya serentak meletakkan ponsel dan Iped yang mereka pegang sedari tadi.
"mana papi kalian? ". tanya Shindy
"aku disini sayang". sahut Dylan yang kini telah berstelan kece didalam rumah.
"udah siap si papi.. ayok bersiap!". ajak Alya menggema
Arya dan Satria segera mengikuti Alya, mereka memasuki lift bersama hanya Raya yang tampak malas.
"kamu tidak ganti baju sayang? ". tanya Shindy
"tidak usah mami.. Raya suka baju ini.. baju pemberian granma ". jawab Raya
.
.
kini semua keluarga Melviano beramai-ramai ada di rumah Gala dan Kaisha.
Ella dan Kaira paling rempong masak di dapur dibantu Mayra. hari ini mereka membuat menu sambal setan makanan khas terkenal restaurant Mayra cuma nambah level kepedasannya.
Kaisha, Lastri, Nova, Shindy, Dr. Kinan sibuk dengan memotong lalapan. para suami mereka berkemah di belakang halaman rumah belakang Gala yang sangat luas walau ada rumah kaca di sampingnya.
Gala dan Keyzo, Bagus, Andreas membuat api unggun sedangkan Rahman dan Kanaya membuat tungku untuk bakar-bakar jagung, ayam dan sosis.
"Randi.. bantu Granfa!, enak sekali kalian darah muda malah bermalas-malasan! ". Pasha menatap kesal cucu-cucu laki-lakinya.
Randi, Kama, Satria dan Arya mulai turun tangan sambil nyengar-nyengir malu saja karna terlalu senang bermain.
"makanan siap..? ". teriak Mayra dengan senang.
"waaah... ".
para suami menolong istri-istri mereka membawa semua piring-piring makanan mereka dan meletakkan semuanya di karpet panjang.
betapa bahagianya mereka saat ini, walau ribut dan banyak cekcok mulut sana-sini tapi itulah yang membuat suasana menjadi begitu ramai dan selalu di rindukan, mereka jarang berkumpul tapi sekali berkumpul maka mereka tak akan segan piknik ramai-ramai mengotori piring rumah targetnya.
"mas.. aku pengen makan sosis ini! boleh? ". tanya Kanaya melihat ke Rahman yang tampak sangat gagah mengipas-ngipasi sosis besar di tungku buatan mereka berdua.
"makanlah istriku.. habiskan satu ini kalau mau lagi katakan saja sayang". gemas Rahman mengelus kepala Naya
Naya menyeringai lebar lalu melepaskan cadarnya tanpa ragu, semua keluarganya sudah tau wajah Naya jadi tidak perlu canggung lagi bagi Naya.
"Abi... Aisha juga mau". Aisha menarik-narik baju Rahman
Rahman mengelus kepala Aisha dan memberikan juga ukuran besar, "baca basmalah sayang".
"siap abi... terimakasih abi". ucap Aisha segera berlari kembali ke Rhiana, Kalila dan Raya yang tengah berkumpul di tenda lain.
Rahman berteriak khawatir akan tingkah putri nya itu tapi Aisha malah memberi penjelasan seolah semua akan baik-baik saja.
"sudah mas.. Aisha sudah besar dan dia sangat pintar sepertimu". Naya mengusap lengan Rahman
Rahman mengangguk lalu tersenyum ke arah Naya yang belepotan saus sosisnya.
"kenapa mas? ". tanya Naya mengambil lagi sosis yang di bakar sang suami sambil nyengir kuda.
"kalian makan berdua ya? sini makan bersama! ". heboh Lastri dan Nova ke arah Rahman dan Naya
mereka akhirnya makan bersama-sama setelah semua hidangan tertata rapi, Rahman juga menyidangkan sosis bakarnya.
"pak ustad Rahman.. kami persilahkan menuntunkan kami doa makan! ". pinta Kaira dengan senyum lebarnya.
semua orang tersenyum sambil menengadahkan tangan, Rahman mulai serius melantunkan doa lalu mereka mulai makan bersama-sama.
para istri-istri malah heboh dengan celotehan gemas anak-anak mereka berbeda dengan Naya yang tak terlibat malah fokus menyiapkan suaminya makan dan dirinya juga makan.
Naya dan Rahman sudah terbiasa makan bersama tanpa mengeluarkan suara kalaupun bersuara hanya hal penting saja.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 290 Episodes
Comments
Febriana Eka Salsabila
kumpul nya kurang anak nya Nova dan Candra Thor hehehe
2023-02-03
3
Sahril Banon
mamanya gala masih ada kah sma matt juga istrynya mely
2022-08-19
3
ENDAH_SULIS
pengen ada novel Rahman kalau gak yg berbau pesantren ustadz gtu Thor ....please bikin yaakkk
2022-08-16
2