Pagi itu nampak Rio berserta keluarganya sedang berada diruang makan untuk bersarapan bersama. Dan pagi itu suasananya ruangan makan terlihat berbeda. Biasanya mereka akan bersarapan begitu bersemangat. Namun pagi itu wajah-wajah mereka terlihat sedang bersedih, termasuk Rio.
Yaa, semenjak peristiwa pecahnya figura foto milik Cindy. Membuat suasana hatinya tidak menentu. Ditambah lagi sang ayah mengatakan bahwa pecahnya figura tersebut adalah pertanda dari istri yang amat ia cintai.
Ayah Rio menggelengkan kepalanya, saat melihat wajah anak serta keempat cucunya. "Kenapa wajah-wajah kalian begitu asam ya? Membuat makanan disini jadi ikutan asam," ujar Harun, namun tidak yang meresponnya.
"Oh iya, hari ini kakek diundang loh ke pondok pesantren Putri An-Nur, adakah yang mau ikut kakek kesana?" tanya Harun pada Quadruplets, yang terlihat masih makan sarapannya namun tidak bersemangat.
Mendengar perkataan sang kakek, Yumna dan Yunda, yang tadinya masih memandang makanannya langsung mengalihkan pandangannya ke sang Kakek. Dengan wajah yang terlihat langsung berubah ketika mendengar nama pondok pesantren tersebut.
"Pondok pesantren An-Nur? Bukankah itu pondok kakeknya Bang Farhan sama Kak Farahkan Unda?" tanya Yumna, sembari natap wajahnya Yunda.
"Ho'oh, benar banget Umna, itu pondok Kakek Bang Farhan dan kak Farah!" balas Yunda dengan mata yang berbinar senang.
"Berarti, Aunty mata hijau juga ada di sana!" seru mereka secara bersamaan. Sembari kedua tangan mereka saling menyatu tanda tos mereka.
Lalu keduanya langsung menuju tangan.
"Kakek ikut Kakek!" teriak keduanya terlihat begitu bersemangat. Membuat sang kekek langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Bagus! Sekarang cepatlah habiskan sarapan kalian, setelah itu bersiap-siap oke Nak?" balas Harun, sembari ia mengacungkan jari jempolnya pada para putrinya Rio.
"Alright Grandpa!" kata Yumna dan Yunda secara bersamaan, sambil Keduanya mengangkat tangannya memberi hormat pada sang Kakek dengan begitu bersemangat.
"Kakek, apakah kami Asya boleh ikut juga?" tanya Pasha dengan wajah penuh pengharapan.
"Anza juga mau ikut Kakek," sambung Fanza yang terlihat ia juga berharap sang kakek mengizinkannya ia ikut.
"Tentu saja boleh dong, makanya cepat habiskanlah sarapan kalian. Setelah itu pergilah bersiap," ujar Harun, pada kedua anak laki-laki yang berada di sebelahnya.
"Siap Kek!" balas Fanza dan Fasya, secara bersamaan. Sama seperti Yunda dan Yumna, mereka berdua juga ikut memberikan hormat pada Sang Kakek. Harun yang melihat itu ikut tersenyum senang melihat para cucunya, yang kini kembali bersemangat.
Karena begitu bersemangat ingin ingin bertemu dengan seseorang, membuat quadruplets terlihat begitu semangat menghabiskan makanannya. Hingga dalam hitungan menit mereka telah menghabiskan sarapannya.
Setelah Mereka menyelesaikan sarapannya mereka pun langsung beranjak pergi menuju ke kamar mereka untuk bersiap-siap. Dan tinggallah Rio dan Harun yang masih berada di ruang makan tersebut. Karena merasa terlihat sedang menikmati kopi hitam mereka.
"Nak, ikutlah bersama kami, ini hanya pengajian bulanan yang diadakan oleh Ustadz Khairul Nak. Bukankah hati kamu sudah lama tak mendapatkan siraman rohani. Jadi untuk kali ini ikutlah ya Nak," ujar Harun pada Rio yang masih terlihat, nampak tak bersemangat.
"Baiklah Pah," ujar Rio singkat, dan terdengar tidak bersemangat.
"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu Papa pergi bersiap-siap ya Nak, kamu jangan lupa bersiap juga ya," kata Harun, sembari ia bangkit dari duduknya.
"Hmmm," balasnya dan kali ini hanya hmm saja, tanpa ingin berkata apa-apa lagi. Setelah sang Ayah pergi, Rio pun akhirnya beranjak dari duduknya. Dan seperti ia, bermaksud untuk bersiap-siap juga.
Tiga puluh menit kemudian, nampak mereka telah rapi. Karena yang mau mereka hadir adalah acara pengajian maka mereka pun memakai setelan baju muslim. Seperti Rio, Harun, Fanza dan Fasya, memakai setelan baju Koko berwarna putih. Sedangkan Yumna dan Yunda, memakai baju gamis putih, dengan hijabnya yang berwarna biru muda.
Setelah dirasa semuanya telah siap. Harun pun langsung meminta Gilang untuk membawa mereka, ke pondok pesantren An-Nur. Dan sesuai yang diperintahkan oleh oleh bos besarnya. Gilang pun mengemudikan mobilnya menuju alamat yang disebutkan oleh Harun.
Karena memang posisi pondok tidak begitu jauh dari villanya Rio. Sehingga hanya membutuhkan waktu empat puluh menit saja, mereka pun sampai dipondok pesantren An-Nur. Setelah Gilang memarkirkan mobilnya dengan sempurna, mereka semua pun langsung turun.
Terutama Yumna dan Yunda, terlihat sekali mereka sudah tidak sabar ingin menemui seseorang. Sehingga begitu mereka turun mereka langsung berlari, membuat Rio kaget melihat keduanya.
"Yunda! Yumna! Kalian mau kemana?" teriak Rio, memanggil kedua putrinya. Sembari ia mengejar keduanya. Namun panggilan Rio, tidak direspon oleh kedua putrinya,
Mereka terus berlari-lari hingga akhirnya Yumna tersandung oleh batu kecil, dan ia pun langsung terjatuh. Dan disaat bersamaan seorang pria langsung membantu Yumna,.
"Astaghfirullah kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Pria itu, yang kemudian ia langsung menggendongnya. Namun karena sakit Yumna hanya bisa menangis. Dan tak berapa lama Rio pun datang.
"Yumna, kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Rio terlihat panik. Dan ia pun langsung mengambil alih untuk menggendong putrinya.
"Brian? Kamu Rio Febriankan?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Author mau pantun lagi Yee 😉
Buah manggis rasanya Manis
Rambutan dikupas menjadi putih.
Ucapkan salam manis dihari Senin.
Sudahkah Readers memberikan VOTEnya😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
revinurinsani
siape tuuuch
2023-12-16
0
꧁🦋⃟⃟ ˢⁿ᭄𝔎𝔄𝔉𝔎𝔄𝔎꧂
sapa tuh
2022-10-25
1
Nursyati Ahmad Ramadhani
cerita semakin menarik
2022-10-09
1