"Unda juga Mah, Unda kangeeeen banget sama Mama. Mama kangen juga nggak sama Kami, Mah?" tanya Yunda sembari ia meletakkan kepalanya di atas pemakaman yang dipenuhi rumput kecil-kecil.
"Mama, Asya juga kangen Mama, apakah Mama mendengar kami Mah?" tanya Fasya, terlihat ada keraguan dari wajahnya.
"Tentu saja Mama dengar Asya! Bahkan Mama, sangat senang dengan kedatangan kita," sahut Fanza, memberikan keyakinan kepada Adiknya itu.
"Benarkah? Apakah Bang Anza dapat melihat Mama?" tanya Fasya lagi, terlihat masih ragu.
"Iya, Mama cantik banget, Mama sedang tersenyum manis banget melihat kita," balas Fanza, dengan pandangan kearah batu Nisan. Seraya ia tersenyum pada batu Nisan tersebut. Seakan ia sedang tersenyum pada seseorang disana.
Fasya mengerutkan keningnya. "Kenapa Asya, tidak bisa lihat Mama ya?" keluhnya, terlihat ia juga memandangi batu nisannya sang ibu juga.
"Apakah Dek Unda dan Dek Umna, juga bisa melihat Mama?" tanyanya lagi pada kedua saudarinya itu.
"Bisa, kok Kak Asya, tapi lihatnya pakai hati, iyakan Umna?" balas Yunda, sembari menyikut tubuh Yumna yang berada disampingnya.
Namun, nampaknya Yumna begitu enggan sekali membalas perkataan Yunda. Ia terlihat masih menatap batu Nisan sang ibu, sembari tangannya mengusap-usap batu tersebut.
"Mama? Kenapa pergi? Kenapa sih Mama? Kenapa Mama nggak mau tinggal sama kami? Apakah Mama tidak sayang pada kami Mah?" tanya Yumna, dengan mata yang telah berkaca-kaca.
"Mama, Umna ingin seperti teman-teman Umna yang setiap sekolah diantar dan ditunggui oleh Mamanya hiks... Umna juga ingin seperti kak Zura yang makan disuapin hiks.. Umna juga ingin seperti kak Zura yang dipeluk, dan dicium oleh Mamanya hiks..hiks..Umna ingin merasakan seperti mereka Mah, hiks..hiks.."
Tangis Yumna langsung pecah tatkala ia mengungkapkan keinginannya didepan pusara sang Ibu. Dan ungkapan serta isakan tangisnya ternyata didengar oleh Rio, Daffin serta Meira, yang saat ini sedang berada dibelakang mereka.
Mendengar ungkapan keinginan Yumna Membuat ketiganya menjadi sedih. Terutama sang Ayah, yang hati seperti teriris oleh sembilu. Begitu sakit ia mendengar keinginan sang Anak.
"Hiks... iya Mah, Unda juga ingin seperti mereka memiliki Mamah, hiks..hiks...mengapa kami tidak bisa seperti mereka sih Mah? Mengapa Mah? Mengapa kami tidak hiks...bisa memiliki Mama juga..hiks..hiks.."
Yunda, pun tak mau kalah ia pun turut mengungkapkan keinginan serta pertanyaannya di pusara Cindy, semabri ia menangis diatas pemakaman yang dipenuhi rerumputan nan hijau itu. Sedangkan Fanza dan Fasya hanya menundukkan wajahnya, sembari ia menarik-narik rerumputan tersebut.
Namun terlihat jelas, tubuhnya bergetar tanda keduanya ikut menangis. Namun mereka berusaha untuk tak memperhatikan itu. Karena mereka ingat pesan sang Ayah. Anak lelaki tidak boleh cengeng. Maka dari itu keduanya seperti menutupi kesedihannya.
Rio, yang melihat itu pun tak kuasa menahan air matanya. Dada terasa begitu sesak, ia tak menyangka ternyata anak-anaknya menginginkan sosok seorang Ibu. Yang ia berpikir anaknya sudah cukup bahagia, hanya berada di sisinya, dan memenuhi setiap keinginannya.
Namun ternyata dia salah, mau bagaimanapun anak-anaknya masih butuh sosok seorang ibu. Dan dengan langkah sedikit gontai ia berjalan menghampiri buah hatinya, sembari ia menghapus air matanya dengan kasar. Setelah itu ia pun menarik tangan Yumna dan Yunda, lalu membawanya kedalam pelukannya.
"Sayang, Anak-anak Ayah, jangan berkata seperti itu ya. Kata siapa Mama tidak Sayang kalian? Malahan Mama amat menyayangi kalian, saking sayangnya, Mama mempertaruhkan nyawanya demi kalian," jelas Rio, dengan suara yang terdengar bergetar, seraya ia menghapus air mata kedua putrinya dengan itu.
"Jadi, Ayah mohon jangan buat Mama sedih ya Sayang-sayangnya Ayah. Kalau kalian seperti ini Pasti Mama didalam sana ikut sedih Sayang," lanjut Rio lagi, sembari ia mengecup lembut puncak kepala keduanya.
"Maafin Umna Daddy," kata Yumna, yang kembali memeluk sang ayah.
"Maafin Unda juga Ayah, kami janji tidak akan membuat Mama sedih lagi," sambung Yunda juga.
"Iya Sayang, minta maaf juga sama Mama ya," balas Rio, dan langsung dianggukan oleh keduanya. Dan mereka pun kembali menghadapi pusara Cindy.
Sedangkan Rio langsung melangkah menghampiri kedua putranya yang terlihat masih tertunduk dengan tubuh yang masih terlihat bergetar. "Fanza, Fasya, sini Sayang," panggilnya, namun keduanya, masih enggan menunjukkan wajah kesedihannya.
"Tidak apa-apa Sayang, Ayah tidak akan marah, kalau kalian menangis untuk orang yang disayangi. Tapi Ayah akan marah kalau kalian menangis karena sebuah kekalahan, apa kalian paham Nak," kata Rio sembari ia menarik tubuh kedua putranya itu, kedalam pelukannya.
"Ayaaah.. huhuhu..hiks..huehue.." tangis keduanya pun pecah di dalam pelukan sang Ayah.
"Tidak apa-apa Sayang, keluarkanlah, biar dada kalian tidak sesak Nak," ucap Rio, yang terlihat air matanya pun ikut tumpah.
Begitu juga dengan Meira dan Daffin, yang tanpa sadar air mata keduanya ikut menetes melihat kesedihan quadruplets dan Rio.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Salma Suku
Mewek thor kasihan si kembar😭😭😭
2025-03-18
0
Eity setyowati
ikut mewek ini
2024-04-24
0
Siti Romlah
aku ikut mewek thoor.
sedih x aku juga ditinggal ayah dari bayi
sering aku 😂di makam ayah
2024-03-20
0