"Kami mau Mama! Huhuhu!" kata Yumna dan Yunda secara bersamaan. Membuat Rio, Daffin dan Meira kaget mendengar perkataan Yumna dan Yunda.
"Oke, oke, Sayang! Kita akan ketempat Mama," ujar Rio, yang langsung memeluk kedua putrinya.
"Loh-loh, tuan putri kecil yang cantik-cantik ini kenapa menangis? Apakah masakan Umah Ira tidak enak ya?" tanya Meira, sembari ia menghampiri Yumna dan Yunda, yang kini berada digendongan sang Ayah.
Mendengar pertanyaan Meira, Yumna dan Yunda seperti enggan menjawabnya. Sehingga mereka menyembunyikan wajah mereka dileher sang ayah. Rio yang seperti paham akan sifat anaknya Ia pun merasa tidak enak hati pada Meira.
"Maaf Mei, sepertinya saat ini mereka sedang sensitif. Karena pada awalnya kami mau langsung ke makam Mama mereka. Tapi malah kesini dulu, jadi ya kamu pahamkan? Jadi mereka seperti ini bukan karena masakan kamu nggak enak kok," jelas Rio, dengan wajah yang terlihat begitu segan pada Meira.
"Nggak papa kok Bang, ana maklum. Namanya juga anak-anak bang, ya seperti itu. Mereka tidak akan sabaran bila menginginkan sesuatu. Jadi Abang santai saja, tidak usah sungkan Bang," balas Meira, yang sepertinya ia paham dengan rasa ketidak enakkannya Rio.
"Benar yang dikatakan Bini gue Rio, Lo jangan merasa bersalah gitu dong. Lagiankan gue yang salah main bawa kalian kesini dulu. Padahal kalau kita lebih dulu mengunjungi makam almarhum istri Lo dulu, nggak bakalan begini jadinya," sambung Daffin, terlihat merasa bersalah.
"Sudah lupakan saja Bro. Ya sudah kalau begitu gue langsung pamit saja deh ya. Dan maaf karena anak-anak gue, makannya jadi tidak nyaman," ucap Rio, masih terlihat merasa bersalah.
"Sudah nggak usah di pikirin Bro! Sekarang ayo gue antar kalian kemakam Cindy, sekalian gue juga kami mau ziarah," ujar Daffin, sembari ia bangkit dari duduknya. "Mai, bersiaplah, bukankah dari kemarin kamu ingin berziarah?" lanjut Daffin pada Meira.
"Baiklah Mas," balas Meira seraya ia mulai melangkahkan kakinya. "Oh iya, Twins, jaga adik-adik ya dirumah, Biyah dan Umah mau ziarah," lanjutnya lagi pada Twins, sebelum ia melanjutkan langkahnya.
"Baik Umah!" balas Twins, secara bersamaan. Setelah mendapatkan jawaban dari anak kembar pertamanya Meira pun melanjutkan langkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Sementara Rio, Daffin, serta anak-anak Rio, sudah lebih dahulu ke mobilnya Daffin. Mereka terlihat masih menunggu kedatangan Meira. Dan tak berapa lama akhirnya Meira pun datang.
"Maaf ya quadruplets, Umah lama ya?" tanya Meira sembari ia masuk kedalam mobil dan langsung duduk di sebelah Yumna, yang kebetulan tadi masuk lebih belakangan.
"Nggak papa kok Umah," jawab Yunda, karena sepertinya Yumna lagi enggan mengeluarkan suaranya.
"Anak pintar," ujar Meira sembari mengelus kepalanya Yunda. "Ya sudah Mas, jalankan mobilnya," lanjut Meira pada Suaminya.
"Baiklah Nyonya," balas Daffin, membuat Meira menjadi canggung.
"Eh, Maaf Mas, bukan maksud Ira mau.." kata Meira jadi merasa tidak enak pada suami.
"Nggak papa kok Sayang, Mas cuma ingin bercanda aja biar nggak tegang, soalnya nih didalam mobil kok tegang banget ya," potong Daffin, seraya ia melirik ke kursi belakang, tempat anak-anak Rio duduk.
Melihat pandangan suaminya yang mengarah ke quadruplets. Membuat pandangan Meira juga beralih ke mereka. Dan terlihatlah olehnya wajah-wajah yang terlihat tak bersemangat.
"Haii, kenapa wajah quadruplets yang cantik dan tampan ini jadi berubah jadi masam ya? Bukankah hari ini kalian akan kerumah Mama? Seharusnya bergembira dong," ujar Meira sembari menoel pucuk hidung Yumna dan Yunda.
"Emang begini kok Wajah kami Umah, tapi didalam hati kami senang kok, karena mau kerumah Mama," sahut Fanza, mewakili saudaranya, yang terlihat enggan membalas pertanyaan Meira.
"Ooh begitu? Oke dimengerti Sayang," balas Meira, seraya mengusap rambut Fanza, yang terlihat ia gemas melihat rambut Fanza yang terlihat rapi dan klimis seperti rambut Rio, sehingga membuat wajah terlihat dewasa.
"Eh, Iis Umah! Jadi berantakan nih Rambut Anza!" protes Fanza terlihat kesal. Membuat Meira langsung tertawa melihat wajahnya yang terlihat lucu ketika sedang kesal.
"Hehehe, maaf sayang, habis Umah gemas melihat rambut kamu, yang masih kecil begini, memiliki model rambut seperti orang dewasa. Tidak cocok Sayang," ucap Meira, yang terlihat masih gemas melihat putra Sahabatnya itu.
"Huh! Nggak asik sama Umah!" cetus Fanza masih terlihat kesal.
"Fanza! Tidak boleh seperti itu! Hayoo minta maaf sama Umah Meira," tegur Rio yang ternyata ia memperhatikan anaknya juga.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Author mau pantun dulu Yee
Pak rektor berjalan-jalan ke pantai.
Melihat Pak Raden berkumis putih.
Author begitu bersemangat update.
Namun Readersnya pelit ngasih VOTEnya.🙄🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Ummi Alfa
Smoga aja anak2nya Rio merajuknya Ndak lama karena akan berkunjung ke makam mamanya.
2022-11-11
1
Devi Sihotang Sihotang
lanjut thor
2022-10-07
0
Neulis Saja
next
2022-10-01
0