Hari berikutnya.
Setelah dari pemakaman, Rio pun langsung berpamitan pada Daffin dan Meira. Karena sepertinya ia tak ingin menambah kesedihan anak-anaknya, bila harus berlama-lama dirumahnya Daffin. Karena otomatis anak-anaknya pasti akan sedih melihat kemesraan Meira dan anak-anaknya.
Maka dari itu, Rio pun langsung mengajak anak-anak pulang ke kota M, hari itu juga. Dan kini mereka telah sampai kembali ke villa Rio yang terletak di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit milik keluarga Rio.
"Loh apa yang terjadi Nak? kenapa wajah cucu-cucuku bertambah sedih?" tanya Harun, ketika, melihat Rio yang sedang duduk bersandar di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga.
"Mereka menginginkan kehadiran seorang Mama Pah," jawab Rio, terdengar lemah.
"Ya Allah, kasihan cucu-cucuku," ucap Harun, yang wajahnya langsung berubah iba. "Nak, mungkin sudah waktunya kamu mencari istri buat kamu, juga Ibu buat anak-anak kamu Nak," lanjutnya sembari ia duduk di sampingnya Rio.
"Tidak Pah! Brian tidak akan pernah mengkhianati cinta Cindy!" balas Rio terdengar tegas.
"Tapi Nak, anak-anak kamu membutuhkan seorang Ibu! Apa kamu tidak kasihan melihat mereka nak?" tanya Harun, sembari ia mengubah posisi duduk agari menghadap ke Rio.
"Nak, bukankah kamu yang menyaksikan sendiri saat mereka mengungkapkan keinginan mereka itu Nak. Apakah hati kamu tak merasa iba mendengarnya?" lanjut Harun lagj, sembari menggenggam tangan kanannya Rio. Dengan tatapan yang terlihat mengiba membayangkan wajah quadruplets.
"Pah? Papa ingatkan bagaimana perjuangan Cindy untuk Brian? Bahkan, ia mengorbankan nyawanya demi anak-anak Brian Pah. Apakah Papah tega melihat perjuangan Cindy di balas Brian dengan pengkhianatan Pah?" tanya Rio, seraya menatap wajah sang Ayah dengan lekat.
"Nak, Papah tahu perasaan kamu terhadap Cindy. Tapi Nak, perjuangan Cindy, sudah dibalas Allah dengan surga-Nya. Jadi saat ini Dia sudah bahagia disisi-Nya Nak," balas Harun dengan lembut.
"Jadi sekarang sudah waktunya kamu untuk membahagiakan diri kamu serta anak-anak kamu Brian. Dan Papa juga yakin pasti Cindy akan bahagia bila melihat kamu dan anak-anaknya bahagia Nak," lanjut Harun lagi, seraya ia menepuk pundak Anaknya.
"Sudah larut, Papa mau istirahat Nak, kamu juga pergilah istirahat, kamu pasti lelahkan?" katanya lagi, sembari ia bangkit dan langsung berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Rio hanya memandangi kepergian sang Ayah, hingga ia menghilang di balik pintu kamarnya.
Setelah sang Ayah tak terlihat lagi, Rio menghelakan nafasnya. "Huft.. sebaiknya gue tidur juga deh, karena besok masih banyak yang mau dikerjakan," gumamannya, sembari ia bangkit dari sofanya. Lalu ia pun beranjak meninggalkan ruangan keluarga tersebut, menuju ke kamarnya.
Setibanya di kamar, Rio langsung duduk di sisi tempat tidurnya. Tatapan matanya mengarah kesebuah figura foto, yang berada di atas meja, tepat di samping tempat tidurnya itu. Lalu, ia mengambil figura kecil itu dan menatap dengan lekat, wajah yang terdapat di figura tersebut.
"Acha, Kak Bian harus bagaimana? Kamu dengarkan keinginan anak-anak kita? Tapi kak Bian tidak ingin mengkhianati cinta kita Sayang," ucap Rio terdengar lirih. Dengan tatapannya mengarah ke wajah Cindy yang berada di figura kecil itu.
"Acha, benarkah kamu sudah bahagia disana sayang? Tidakkah kamu merindukan kak Bianmu ini Acha? Sehingga kamu tak pernah datang lagi kedalam mimpinya Kak Bian," lirihnya lagi, sembari ia mengelus figura foto tepat pada wajah almarhum istri kecilnya itu.
"Acha, Kak Bian sangat merindukan kamu, bisakah kamu datang kemimpinya kak Bian malam ini, Sayang?" gumamnya lagi, sembari ia membaringkan tubuhnya ketempat tidur. Dengan tangan yang masih memegang figura foto istrinya.
Selang beberapa menit Rio pun memejamkan matanya. Dan membiarkan figura foto tersebut berada di atas dadanya, seolah ia sedang memeluk Istrinya. Dan tak berapa lama juga nafasnya mulai teratur menandakan ia telah terlelap dalam tidurnya.
...*****...
Keesokan paginya.
Rio tersentak dan langsung terbangun, ketika ia mendengar suara ketukan pintu dikamarnya. Lalu dengan spontan ia pun turun dari tempat tidurnya dengan sedikit tergesa-gesa. Karena ia bermaksud membuka pintu kamarnya. Namun saat bersamaan ketika ia turun. Terdengar suara benda yang terjatuh.
PRAAANK!
Seketika mata Rio, langsung beralih ke lantai. Dan nampaklah olehnya pecahan kaca didekat kakinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat figura foto istrinya telah hancur berantakan.
"Astaghfirullah! Pertanda apa ini Acha? Mengapa figura kamu hancur begini?" gumam Rio, sembari ia berjongkok, dan langsung mengambil lembaran foto yang tak berbingkai lagi. Lalu ia pun membersihkan sisa-sisa pecahan kaca yang berada di foto tersebut.
"Itu sepertinya pertanda dari Cindy Nak, dan sepertinya dia memberi pertanda agar kamu secepatnya move on darinya Brian," ujar Harun yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya Rio.
Mendengar perkataan Harun Rio, langsung tersentak, dan ia pun langsung menoleh ke belakang dan ia pun melihat wajah Harun, dengan tatapan terlihat begitu sedih.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin Acha!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
revinurinsani
bukan menghianati bang Rio..move on aja liat tuh quadruplets pengen ibu yah masa Cindy Balik lagi ke dunia kan engga..
2023-12-16
0
oppa seo joon
namanya Acha ap cindy
2023-11-27
0
Ida Lailamajenun
klu dah meninggal mah jika nikah lagi bukan berkhianat nama nya Rio Cindy udh menempati sebagian hati mu dan sebagian lagi buat ibu sambung anak " mu..
2023-02-08
2