Mendengar perkataan Daffin, akhirnya Rio pun masuk ke dalam mobilnya Daffin, tanpa ingin membalas perkataannya. Ia duduki tepat di samping Daffin, yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya sendiri.
Pada awalnya suasana mobil begitu hening. Rio seakan enggan untuk berbicara pada sahabatnya itu. Membuat Daffin merasa penasaran, dengan sikap Rio yang kini sangat jauh berbeda. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Sahabatnya itu.
Namun ia menahannya, karena mungkin rasanya tak nyaman kalau berbicara di dalam mobil. Makanya ia membiarkan, suasana keheningan itu. Hingga akhirnya mobil Daffin memasuki sebuah gerbang rumah mewah yang terlihat tidak asing bagi Rio. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Daffin pun mengajak quadruplets untuk turun.
"Baiklah quadruplets, sekarang kita sudah sampai di rumah Ayah Afin, mari kita turun oke," ujar Daffin, pada Anak-anak Rio, sembari ia membuka pintu mobil bagian belakang, tempat anak-anak Rio duduk.
"Okay Ayah Afin," ujar mereka serentak. Lalu mereka pun turun dari mobilnya Daffin, dan mengikuti langkahnya.
Sedangkan Rio mau tak mau ia akhirnya mengikuti langkah Daffin dan Anak-anaknya. Terlihat sekali ia seperti enggan memasuki rumah sahabatnya itu. Dan seketika wajahnya langsung berubah, saat ia melihat seorang wanita beserta kelima anak yang sedang tersenyum, menyambut kedatangannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Daffin, berserta quadruplets secara bersamaan.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Maa shaa Allah, quadruplets sudah besar ya," ucap wanita itu yang langsung menekukan lututnya setengah berdiri. Lalu ia pun memeluk quadruplets dan menciumi satu-persatu dengan wajah penuh haru.
"Aunty kenapa menangis?" tanya Yumna saat ia melihat wanita itu menitikkan air matanya saat ia memeluk serta mencium mereka.
"Jangan panggil Aunty Sayang, panggil Ummah Maira ya? Karena Ummah teman almarhum Mama kamu Sayang," ujar wanita itu yang ternyata ia adalah Meira.
"Ooh, oke Ummah," balas Yumna yang terlihat ia langsung memeluk Meira lagi. "Uhmm.. Ummah? Apakah pelukan Mama Umna seperti ini juga?" tanya gadis kecil itu, membuat Rio, Daffin dan Meira, tersentak mendengar perkataannya.
"Iya Sayang, hiks.." jawab Meira singkat, seraya ia mempererat pelukannya, pada Yumna.
"Ummah, Unda juga ingin merasakan pelukan Mama juga," timpal Yunda, dengan wajah yang terlihat begitu sedih. Membuat hati Rio semakin sakit. Dan ia pun langsung menjauh dari Meira dana Anak-anaknya, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.
Daffin yang melihatnya langsung mengikuti langkah Rio, yang ternyata ia berjalan menuju sebuah Danau buatan yang berada ditaman belakang rumah Daffin. Setibanya ia didekat Danau, ia melihat Rio duduk di bangku batu tepat didepan Danau, sambil menundukkan wajahnya dengan dalam-dalam. Tubuhnya terlihat bergetar, sepertinya ia sedang menangis.
Daffin memahami kesedihan Sahabatnya itu. Ia pun menghampirinya dan langsung di sebelah Rio. "Rio, Lo baik-baik sajakan?" tanyanya sambil mengusap punggung sahabatnya itu.
"Inilah alasan mengapa gue enggan untuk datang ke rumah Lo Fin!" kata Rio, masih posisi yang sama. Nampak ia tak memperdulikan pertanyaan Daffin. " Gue nggak bisa melihat istri dan anak-anak Lo! Karena mereka, mengingatkan gue dengan Cindy Fin, hiks...hiks.." lanjutnya, yang kini Isak tangisnya mulai terdengar oleh Daffin.
"Ooh... jadi apakah itu artinya Lo bermaksud memutuskan tali silaturahmi kita gitu hm? Dan apakah menurut Lo Cindy akan menyetujui keputusan Lo ini hah?" balas Daffin, terdengar dari suaranya yang mulai mengeras, menandakan ia mulai marah setelah mendengar perkataan Rio tadi.
Rio, tak menjawab pertanyaannya Daffin, ia masih terlihat sedih. Itu terlihat dari getaran tubuhnya yang menandakan ia masih menangis, tanpa suara. Hanya sesekali saja Daffin mendengar suara ia menyedot hidung yang mungkin sudah dipenuhi hingusnya.
"Mengapa Diam Rio? Jawablah, apakah Cindy setuju Lo menjauhi anak-anak Lo dari Meira? Yang seharusnya dari mereka bisa merasakan sentuhan seorang ibu darinyakan?" tanya Daffin lagi, yang kali ini suaranya sudah sedikit melunak.
Rio masih terlihat enggan membalas pertanyaan Daffin. Ia masih terlihat betah dengan wajah yang masih tertunduk dalam. Namun ia tetap mencerna perkataan Daffin. Sebenarnya yang dikatakan sahabatnya itu benar adanya. Karena memang sikap Meira dan Cindy sama.
Makanya seharusnya ia tak akan khawatir bila anak-anaknya menjadi dekat pada Meira. Akan tetapi ia tak bisa melakukan itu. Karena sudah pasti itu akan membuat Meira semakin repot mengingat ia juga memiliki lima orang anak.
Melihat sahabatnya yang masih membisu, membuat Daffin, semakin kesal padanya. "Rio, gini saja, gue tanya Lo untuk terakhir kalinya. Apakah Lo masih belum mengikhlaskan Cindy hah? Sehingga lo seakan marah, pada orang-orang yang pernah dekat pada istri Lo hah?" tanyanya yang kini nada bicaranya kembali mengeras.
"Gue sudah ikhlas kok, In shaa Allah gue ikhlas lahir dan batin," ujar Rio, dengan suara yang terdengar serak. "Cuma saja..." lanjutnya lagi namun langsung dipotong oleh Daffin.
"Hei, Rio! Yang namanya ikhlas tanpa syarat! Jadi tidak ada alasan Lo, memutuskan tali silaturahmi kita! Lo pahamkan?!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Nartadi Yana
boleh aja ngomong gitu tapi nggak usah Ngoto gin kan bisa ngomong secara halus, karena Lo nggak ngrasain jadi Rio
2023-09-17
1
Ida Lailamajenun
oww hanya Krn Cindy sahabat Meira jd Rio enggan ke rmh daffin ato bertemu daffin.kirain Krn apa Rio mau menjauh dari daffin.ikhlas emg susah bin sulit sih tapi klu gak ikhlas gak bisa move on bukan mksd melupakan sih tapi yg udh tiada udh tenang disana nya mikirin bocil" yg msh butuh kasih syg ibu dan kita yg msh hidup ini..
2023-02-08
0
Imelda Febriani
kok di bab ini sangat mengandung bawang yah sampai"aku nangis gak berhenti"
2023-01-17
0