Lelembut Berbulu Hitam

Aji menyambut kedatangan Sari dan Doni dengan penuh sukacita. Tidak ada tanda-tanda lelembut nakal pengganggu yang mempengaruhi keputusan Aji.

"Kok lama mbak, apa susah ya nemuin rumah saya?" sapa Aji setelah jarak mereka dekat.

"Ehm, kita sedikit kesulitan tadi?" jawab Sari dengan senyum penuh arti.

"Mari masuk mbak, mas … istri saya udah nunggu di dalam," ajak Aji dengan ramah.

Sari dan Doni mengikuti langkah Aji, "Kamu yakin, kita bisa melewati pagar ini?" Doni sedikit khawatir karena Medan energi yang tercipta cukup besar.

Sari tidak menjawab, ia menarik senyum di bibir merah jambunya dan menggenggam tangan Doni kuat.

"Percaya aku sayang!"

Sari membuat perisai untuknya dan Doni, awalnya langkah kaki mereka sedikit berat seolah gravitasi menarik kuat kedua kaki mereka. Sari merapal mantra, menjejak bumi dan meminta pertolongan penguasa sekitar agar membantunya menjebol pagar ghaib.

Tak berapa lama, Sari berhasil masuk membuat koyakan besar di pagar depan. Lelembut penjaga rumah spontan waspada dan bergerak menghadang, mereka belum menyerang Sari sebelum ada perintah dari sang pemimpin.

"Beb bisa urus mereka, biar aku tangani istri mas Aji."

"Ok, berapa persentase kemenangan ku beb?"

"Ehm, eighty?" sahut Sari tertawa kecil.

"Ccckk, berarti aku harus sedikit olahraga."

"Selesai ini kita makan Gecok Tlogo- nya Bu Siti Sundari ok?" 

"Ehm, iya deh tapi dua porsi ya?" rajuk Doni

"Hhhhm, ada maunya nih?" 

Doni tergelak karena Sari sudah paham kebiasaannya.

"Kerja dulu, jangan mesum aja pikiranmu!" Sari tertawa kecil mencubit pinggang Doni.

"Usaha beb, kali aja kamu berubah pikiran mau punya anak," sindir Doni yang disambut deheman Aji.

"Ehem … maaf ganggu mas, mbak, ini istri saya gimana ya?" 

"Aaah iya sori mas, mana istrinya mas Aji?" tanya Sari.

Aji mengantarkan Sari dan Doni ke ruang tengah dimana Septi berada. Tekanan ruang hampa menyapa Sari dan Doni.

"Bersiap Beb, mereka bakalan nyerang tanpa peringatan!" bisik Sari.

Aura gelap menyelimuti Septi. Sari mengembangkan senyum yang dipaksakan pada Septi yang sedang duduk termangu.

"Siang mbak Septi!" sapa Sari

Septi hanya melirik pada Sari, kilatan amarah tampak di netra hitamnya.

"Apa mbak Septi baik-baik saja? Sepertinya mbak kurang sehat?" Sari kembali bertanya tapi tidak mendapat respon.

Sari belum menyerah, ia duduk bersebelahan dengan Septi. Aji yang tak enak hati pun akhirnya berusaha mengajak istrinya bicara.

"Sayang, kenalin ini mbak Sari dan mas Doni. Mereka yang order gypsum ke kita," 

Septi tidak merespon juga hanya memberikan tatapan tajamnya pada Sari dan Doni.

Bayangan hitam besar tampak memeluk Septi dari belakang. Sebagian dari dirinya telah merasuk ke dalam tubuh dan pikiran Septi. Menguasai Septi dengan paksa. 

Makhluk tinggi besar dengan bulu hitam legam yang menutupi seluruh tubuh. Matanya yang besar merah seolah ingin keluar dari lubang mata. Dua taring panjang melingkar di sisi kanan dan kiri sudut bibirnya belum lagi barisan gigi tajam yang tampak mengerikan saat dia menyeringai.

"Wah, sepertinya ada yang sedang kasmaran lagi," Sari tersenyum masam.

"K-kasmaran?" Aji mengucapkannya dengan gemetar.

"Mas Aji, maaf tapi saya harus melakukan ini!" 

Doni dengan cepat kembali membuat Aji tidak sadar. Ia tidak ingin lelembut mengambil kesempatan menguasai raga Aji. 

"Step one done," gumam Doni.

Sari tersenyum, "Saatnya kita berhadapan lelembut nakal! Beb, lima belas menit habisi mereka"

"Bimasena bantu Doni, habisi mereka cepat!" sambungnya memberi perintah pada keempat penjaganya.

Keempat penjaga Sari muncul dan bersiap menghajar anak buah si makhluk hitam berbulu itu. Sari meraih tangan Septi, tapi ia menepis tangan Sari. Enggan disentuh.

"Keluarlah, kita punya urusan!"

"Beraninya kau datang kemari!" Septi murni dikuasai makhluk itu. Suaranya bahkan berubah berat, kasar, dan serak.

"Suaminya ingin Septi kembali, kau sudah mengganggu ketenangan mereka harusnya kamu yang pergi!"

"Dia milikku!"

"Telingaku sepertinya agak terganggu?! Milikmu? Dia manusia dan kau setan tidak mungkin menjadi milikmu kecuali ada perjanjian diantara kalian!"

"Pergi atau kematian yang menjadi pilihanmu!" Sari menghardik keras, memberikan peringatan pada lelembut nakal menggoda manusia.

Makhluk itu tertawa keras, Sari tidak punya pilihan lain selain mengambil kesadaran Septi.

"Maaf ini agak sedikit sakit," bisiknya di telinga Septi.

Sari mengunci pergerakan tangan Septi dan menekannya kuat. Ia masuk melalui salah satu gerbang tubuh yang telah terbuka. Septi mengerang sesaat, Sari menarik paksa kesadaran Septi dan menidurkannya sementara waktu.

Makhluk itu wujud di depan Sari menampakkan dirinya yang tingginya bahkan tiga kali lipat dari Sari. Ia marah dan mengamuk, menyerang Sari dengan kuku panjang hitamnya.

Sari melirik ke arah Doni dan keempat penjaganya, mereka tidak ada kesulitan menghadapi lelembut penjaga rumah itu. 

Aman, aku percayakan padamu beb!

Sari kembali fokus pada sosok hitam berbulu di depannya. Ia harus beberapa kali menghindar dari kuku tajamnya.

"Menyerahlah cantik, sepertinya dirimu lebih berharga dari wanita itu!"

"Menyerah? Never!"

Mata Sari berkilat merah, pedang Sengkayana muncul di tangannya. Mengeluarkan aura angker dalam energi panas kemerahan. 

"Kau?!"

Kilatan merah di mata Sari mengingatkan makhluk itu pada berita Dewi kematian yang tersebar di jagad lelembut.

"Ya, ada apa dengan aku? Mengenaliku?" ejek Sari seraya melakukan lompatan tinggi dan tanpa ampun menyerang makhluk berbulu itu.

Serangan bertubi-tubi Sari membuahkan hasil, ia berhasil melukai beberapa bagian tubuhnya meski hanya berupa goresan-goresan. 

"Jangan selalu menghindar!" seru Sari kesal.

Makhluk itu menggeram keras, menggetarkan udara disekitar mereka. Tak lama kemudian ia menghilang.

"Pake acara ngilang lagi, aku bosan kalau begini lima belas menit nggak akan cukup!"

Sari menajamkan matanya, hembusan angin terasa di tengkuknya. Makhluk itu ada dibelakang, secepat kilat ia berbalik dan menyabetkan pedang Sengkayana yang memijar kemerahan.

Serangan itu mengenai dada dan sedikit bagian wajah, mematahkan salah satu taring miliknya. Makhluk itu meraung dan berbalik menyambar tubuh ramping Sari. Kedua tangannya yang lebar menggenggam erat tubuh Sari. Membuat Sari sesak dan tak bisa bergerak.

"Manusia bodoh, aku menawarkan kesempatan untukmu menggantikan wanita itu tapi kamu menolaknya!"

"Maaf tapi suamiku jauh lebih tampan darimu jelek!" umpat Sari kasar.

"Kalau begitu terima lah kematianmu!" Makhluk itu menggeram dan semakin mengeratkan kedua tangannya pada tubuh ramping Sari.

Tapi ia tidak mempertimbangkan pedang yang masih ada ditangan Sari, ia lengah.

"Yang bodoh itu kamu jelek!"

Energi pedang Sengkayana ditingkatkan pada level tertinggi, lonjakan energi maha dahsyat mengaliri setiap aliran darah Sari. Dan hanya sekejap mata Sari menggerakkan tangannya membelah kedua tangan si makhluk berbulu dan memutuskan kedua tangannya.

Makhluk itu ambruk, Sari tidak menyia- nyiakan kesempatan ia memutar mutar pedangnya, berlari, dan membuat satu lompatan tinggi. Pedang Sengkayana menancap sukses di tengah dadanya.

"Selamat kamu dapat satu tiket VVIP kembali ke neraka!"

Sari melepas pedangnya dan berjalan mundur menjauhi tubuh raksasa lelembut berbulu itu yang meraung meratapi kekalahannya serta perlahan terbakar, hilang menjadi abu.

"Step three done!"

...----------------...

Gecok adalah bumbu karya kuliner yang biasa diterapkan untuk mengolah daging kambing khas eks Karesidenan Semarang. 

...----------------...

Terpopuler

Comments

buk e irul

buk e irul

gecok baru denger mantap kah rasane 😀

2022-07-13

1

🌹*sekar*🌹

🌹*sekar*🌹

eh🤔kmarin hbis ada acara di Semarang, knpa ngk mmpir k.rumah mbk Sari dlu y..😅biar dmsakin ini🤭
😂😂😂

2022-06-30

2

yamink oi

yamink oi

up

2022-06-24

2

lihat semua
Episodes
1 Gerimis yang Mengundang
2 Hantu Tanpa Kepala
3 Kesabaran Doni
4 Hari yang menguras keringat.
5 Awal Hidup Baru
6 Super Blood Moon
7 Firasat dari Mimpi
8 Kemunculan Hantu Tengil
9 Lelembut Pencuri Sukma
10 Menyergap Lelembut Nakal
11 Roh yang Tak Terselamatkan
12 Kecurigaan Sang Suami
13 Hasrat Terpendam
14 Munculnya Lelembut Penggoda
15 Siluman Ular yang Jatuh Cinta
16 Akhir Cinta Siluman Ular
17 Rumah yang Menghilang
18 Lelembut Berbulu Hitam
19 Pembersihan Rumah
20 Pemuda dalam Ramalan
21 Kidung Pemanggil Roh
22 Tamu tak Diundang
23 Menjadi Official Team
24 Kunjungan ke Pakualaman
25 Garis Takdir
26 Pesta Penyambutan 1
27 Pesta Penyambutan 2
28 Energi yang Mengancam
29 Rasa Penasaran
30 Menyelidiki Hargo Baratan 1
31 Mengunjungi Gia
32 Pertemuan Tak Terduga
33 Hadiah Kecil untuk Giandra
34 Hari Pertandingan
35 Tawaran Menggiurkan
36 Pertarungan Menegangkan 1
37 Pertarungan Menegangkan 2
38 Hari yang Melelahkan
39 Anna Van de Groot
40 Anna Kabur
41 Menemukan Anna
42 Perjanjian yang sia - sia
43 Lawan Baru atau Kawan
44 Kakek Wisesa
45 Sebuah Petunjuk
46 Teror yang Meresahkan
47 Menghadang Balak
48 Teluh yang Merepotkan!
49 Pak RT Sakit?
50 Kiriman lagi?
51 Tamu tak Diundang
52 Pengantar Pesan 1
53 Akhir dari Pengantar Pesan
54 Collateral Damage
55 Untung Dobel
56 Mbah Wito
57 Memori yang Terpendam
58 Cantik yang Mematikan
59 Mika yang Ceroboh
60 Rencana untuk Saka
61 Rencana sang Kesatria
62 Rencana sang Ksatria 2
63 Antara Rindu dan Ilusi
64 Dimensi Cermin
65 Bersyukur Memilikimu
66 Bisikan Gaib
67 Sesekali Gratis
68 Munculnya Pilar Kegelapan
69 Kontak Pertama Sari vs Maroz
70 Gelang Iblis
71 Ular versus Ular?
72 Mission completed
73 Mata dalam Gelap
74 Bangkitnya Kegelapan
75 Macet yang Bikin Seram
76 Antara Mencari dan Kesiangan
77 Pak Hisyam
78 Air Mata Sang Ayah
79 Menguak Misteri 1
80 Menemukan Shinta
81 Pagi yang Menggemparkan
82 Bantuan Kecil Pak Agus
83 Tantangan untuk Doni
84 Hitam Versus Putih
85 Mika Sang Penjaga
86 Peperangan Besar
87 Mustika Penyihir
88 Bayu dan Kakek Wisesa
89 Sepupu dari Holland
90 Pembawa Pesan 2
91 Pedang Sihir
92 Seseorang di Celah Kecil
93 Kembali ke Semarang
94 Pertemuan di Pakualaman
95 Negosiasi
96 Kedatangan Mika
97 Debut Berburu Mika
98 Burong Tujoh
99 Dukun hitam yang tampan
100 Trik Jitu Sari
101 Mika Penasaran
102 Perang Besar??
103 Janji Palsu Iblis
104 Rencana dan Strategi
105 Serangan Pertama
106 Waktunya Berkenalan
107 Menjajal Kemampuan
108 Percobaan
109 Teror berlanjut
110 Obrolan Pagi
111 Masuk dalam Jebakan
112 Kopi Darat
113 Pertarungan Perdana
114 Kedatangan Airlangga
115 Pertarungan Dahsyat Sepanjang Masa
116 Pandji dan Mustika Penyihir
117 Kembali ke Masa Lalu
118 Sari vs Airlangga
119 Diambang Batas Kematian
120 Akhir yang Bahagia
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Gerimis yang Mengundang
2
Hantu Tanpa Kepala
3
Kesabaran Doni
4
Hari yang menguras keringat.
5
Awal Hidup Baru
6
Super Blood Moon
7
Firasat dari Mimpi
8
Kemunculan Hantu Tengil
9
Lelembut Pencuri Sukma
10
Menyergap Lelembut Nakal
11
Roh yang Tak Terselamatkan
12
Kecurigaan Sang Suami
13
Hasrat Terpendam
14
Munculnya Lelembut Penggoda
15
Siluman Ular yang Jatuh Cinta
16
Akhir Cinta Siluman Ular
17
Rumah yang Menghilang
18
Lelembut Berbulu Hitam
19
Pembersihan Rumah
20
Pemuda dalam Ramalan
21
Kidung Pemanggil Roh
22
Tamu tak Diundang
23
Menjadi Official Team
24
Kunjungan ke Pakualaman
25
Garis Takdir
26
Pesta Penyambutan 1
27
Pesta Penyambutan 2
28
Energi yang Mengancam
29
Rasa Penasaran
30
Menyelidiki Hargo Baratan 1
31
Mengunjungi Gia
32
Pertemuan Tak Terduga
33
Hadiah Kecil untuk Giandra
34
Hari Pertandingan
35
Tawaran Menggiurkan
36
Pertarungan Menegangkan 1
37
Pertarungan Menegangkan 2
38
Hari yang Melelahkan
39
Anna Van de Groot
40
Anna Kabur
41
Menemukan Anna
42
Perjanjian yang sia - sia
43
Lawan Baru atau Kawan
44
Kakek Wisesa
45
Sebuah Petunjuk
46
Teror yang Meresahkan
47
Menghadang Balak
48
Teluh yang Merepotkan!
49
Pak RT Sakit?
50
Kiriman lagi?
51
Tamu tak Diundang
52
Pengantar Pesan 1
53
Akhir dari Pengantar Pesan
54
Collateral Damage
55
Untung Dobel
56
Mbah Wito
57
Memori yang Terpendam
58
Cantik yang Mematikan
59
Mika yang Ceroboh
60
Rencana untuk Saka
61
Rencana sang Kesatria
62
Rencana sang Ksatria 2
63
Antara Rindu dan Ilusi
64
Dimensi Cermin
65
Bersyukur Memilikimu
66
Bisikan Gaib
67
Sesekali Gratis
68
Munculnya Pilar Kegelapan
69
Kontak Pertama Sari vs Maroz
70
Gelang Iblis
71
Ular versus Ular?
72
Mission completed
73
Mata dalam Gelap
74
Bangkitnya Kegelapan
75
Macet yang Bikin Seram
76
Antara Mencari dan Kesiangan
77
Pak Hisyam
78
Air Mata Sang Ayah
79
Menguak Misteri 1
80
Menemukan Shinta
81
Pagi yang Menggemparkan
82
Bantuan Kecil Pak Agus
83
Tantangan untuk Doni
84
Hitam Versus Putih
85
Mika Sang Penjaga
86
Peperangan Besar
87
Mustika Penyihir
88
Bayu dan Kakek Wisesa
89
Sepupu dari Holland
90
Pembawa Pesan 2
91
Pedang Sihir
92
Seseorang di Celah Kecil
93
Kembali ke Semarang
94
Pertemuan di Pakualaman
95
Negosiasi
96
Kedatangan Mika
97
Debut Berburu Mika
98
Burong Tujoh
99
Dukun hitam yang tampan
100
Trik Jitu Sari
101
Mika Penasaran
102
Perang Besar??
103
Janji Palsu Iblis
104
Rencana dan Strategi
105
Serangan Pertama
106
Waktunya Berkenalan
107
Menjajal Kemampuan
108
Percobaan
109
Teror berlanjut
110
Obrolan Pagi
111
Masuk dalam Jebakan
112
Kopi Darat
113
Pertarungan Perdana
114
Kedatangan Airlangga
115
Pertarungan Dahsyat Sepanjang Masa
116
Pandji dan Mustika Penyihir
117
Kembali ke Masa Lalu
118
Sari vs Airlangga
119
Diambang Batas Kematian
120
Akhir yang Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!