Lampu penerangan jalan yang menerangi sepanjang jalan itu padam secara tiba-tiba dan hanya menyisakan satu saja.
"Eeh, kok gelap Ra?!"
"Konslet kali lampunya. Buruan jalannya agak-agak nggak enak perasaan dehh." jawab Sinta dengan suara sedikit gemetar karena takut.
"Ehm, Sin ini tas kok makin lama terasa berat ya?!" tanya Naura lagi.
"Ah masa sih? Hhmm, bilang aja kamu minta dibawain tasnya! Modus nih!" Sinta terkekeh.
Wajah Naura berubah pasi, ia menatap ke arah Sinta. "Sin, tasnya gerak-gerak … apaan sih ini isinya?" tanyanya dengan panik.
Sinta beralih menatap ke arah tas plastik berwarna putih yang ada di tangan Naura.
Benar saja Sinta melihat sesuatu bergerak dari dalam tas.
"Ra … i-itu apa?"
Dengan gemetar Naura nekat membuka isi tas plastik dan betapa terkejutnya Naura ketika mendapati sebuah kepala manusia yang sedang menyeringai padanya dengan mata melotot.
Seketika Naura melempar tas plastik itu lalu, membuat Sinta terkejut.
"A-apa itu Ra?"
"Ke-kepala orang Sin …," jawabnya dengan gemetar, kakinya lemas dan tak sanggup berjalan lagi.
Sinta merasakan tangan dingin menepuk bahunya, membuatnya terkejut.
"Mbak … mana kepala saya?" suara itu terdengar serak dan menyeramkan.
Sinta gemetar tapi rasa penasarannya membuat dirinya ingin menoleh kebelakang. Sosok tanpa kepala sedang berdiri tepat di belakangnya.
Darah mengalir dari luka penggalan dilehernya, membasahi pakaiannya yang berwarna putih. Bau anyir darah dan busuk menusuk hidung Sinta.
"Raaa …" teriakan panjang Sinta diikuti dengan hilangnya kesadaran.
Sementara Naura rupanya telah terlebih dulu pingsan. Kedua gadis itu tergeletak di tengah jalan dengan hujan gerimis membasahi tubuh.
Sosok hantu tanpa kepala itu berjalan mendekati tas plastik yang berisi kepalanya. Hantu itu seolah mengerti dimana letak kepala nya berada.
Tangannya dengan perlahan mengambil kepala dalam tas plastik dan memasangnya kembali ke tubuhnya. Kepala itu melekat begitu saja tanpa perlu perekat khusus, yang terlihat hanya garis merah yang masih mengeluarkan darah.
Ternyata sosok itu adalah lelaki muda tampan yang tadi memanggil Sinta dan Naura. Ia tersenyum menatap kedua gadis yang tergeletak pingsan di jalan
Ia mendekati Sinta berjongkok lalu mendekatkan wajahnya. Membuka mulut Sinta dan mengambil hawa kehidupan milik gadis itu. Kabut tipis keluar dari mulut Sinta dan langsung dihisapnya cepat.
Belum juga selesai menghirup hawa kehidupan Sinta, sabetan pedang dengan tanpa ampun membabat lehernya. Memotongnya kembali dan membuat kepalanya terpental jauh beberapa meter.
"Huh .. sepertinya kamu menikmati acara hisap menghisap ya?"
Seorang wanita cantik dengan cadar yang menutupi wajahnya muncul begitu saja. Sebilah pedang dengan darah yang masih menetes ada di tangan kanannya. Dengan perlahan ia berjalan mendekati hantu tanpa kepala yang kini telah mendekati kepalanya yang terlempar.
"Apa urusannya kamu mengangguku?"
"Aku? Nggak ada! Aku cuma benci sama hantu rendahan model kalian, yang bisanya mencuri hawa kehidupan manusia dengan tipu daya licik!"
"Aku tidak punya urusan dengan mu! Jangan ganggu aku atau …,'
"Atau apa? Mau membunuhku? Dengan kepala seperti itu?"
"Jangan menghinaku! Kamu belum tahu siapa aku!"
Hantu tanpa kepala itu masang kembali kepalanya lalu menggelengkan kepala ke kanan dan kiri hingga terdengar suara tulang lehernya saling beradu.
Hantu itu berbalik ke arah wanita dengan cadar yang menutupi wajahnya. Mata coklatnya tampak indah ditimpa cahaya lampu, tapi sejurus kemudian matanya berkilat kemerahan.
Hantu itu terkesiap saat melihat kilatan merah dari mata wanita misterius yang ada dihadapannya.
"Kau … jangan-jangan kau adalah …,"
Belum sempat hantu menyelesaikan perkataannya, sabetan pedang dengan warna kemerahan telah menebas kembali lehernya. Tapi kali ini pedang dengan aura angker itu juga membelah dua tubuh si hantu.
Mata hantu itu melotot ke arah wanita misterius yang sedang berjalan ke arahnya. Ia melirik tubuhnya yang mulai menyatu, lalu menyeringai pada wanita misterius yang sudah berjongkok didepannya.
"Sepertinya ini hari naas mu makhluk jelek! Waktunya kembali ke neraka!"
Pedang itu menembus tulang tengkorak menimbulkan bunyi retakan lalu membakarnya seketika menjadi abu. Tubuh si hantu berhenti menyatu lalu perlahan ikut terbakar seperti kertas dan hilang ditiup angin.
Wanita misterius itu berdiri lalu tersenyum, ia membuka penutup wajahnya. Menampakkan dirinya di bawah temaram sinar bulan yang mulai muncul malu-malu dari balik awan mendung.
"Satu lagi hantu bodoh pengganggu manusia musnah," gumamnya
Tangannya menengadah dan sedikit abu dari hantu itu jatuh diatas telapak tangannya.
"Sar, gadis - gadis itu bagaimana?" tanya Bimasena Menghampiri Sari.
Sari tidak menjawab, dan mendekati kedua gadis yang masih tergelatak pingsan. Sari merapal mantra di tangannya lalu mengusapkan ke wajah kedua gadis itu. Cahaya keemasan tampak merembes dari sentuhan kulit Sari dan wajah gadis itu.
"Ayo kita pergi Bimasena, kita harus mengejar kereta pagi. Aku ada urusan ke suatu tempat!"
Sari Anneliese Van Barend, mantan jurnalis Journey to the East melesat menembus dimensi waktu.
Tugasnya kali ini bukan liputan mistis tapi beralih menjadi pemburu hantu yang ditakuti setiap bangsa lelembut hanya dengan mendengar namanya saja.
Aku akan berburu hingga ke ujung dunia manusia dan lelembut untuk mencarimu!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Dhika Ahmad
mungkin ini cerita ghostbuster versi indo ya........semangat thorr.....baru kali ini membaca novel yang penuturan kalimatnya enak ,mudah dibaca gampang difahami..ditambah nuansa ceritanya juga sedikit berbeda dengan yang lain...
2022-07-08
5
Andre Oetomo
mantab..pasti keren nih..💪💪💪
2022-07-03
4
M S Farid
asyik sari kembali lagi.srikandi pasundan😍😍😍
2022-06-26
2