Usai mengunjungi dua korban Sari pulang ke rumah. Di Sepanjang jalan mbak Pur dan mbak Asri terus membicarakan gosip yang beredar di tetangga. Kebanyakan dari mereka mengatakan kalau makhluk yang membuat Anita dan gadis lainnya itu adalah sejenis pesugihan yang dilakukan salah satu warga.
Sari tidak berkomentar apapun, ia hanya mendengarkan ocehan kedua asisten rumah tangganya itu.
"Nek katane tetangga, itu ada yang nyupang Bu lek!" bisik Asri perlahan setelah mereka melewati rumah warga yang dicurigai.
"Ssstt, Sri menengo sek! Kuwi kan omahe sing nyupang to? Suaramu lo banter men le crito!"
(Sssst, Sri diem dulu! Itu kan rumahnya yang nyupang kan? Suaramu itu lho keras bener ceritanya!)
"Eh ndak tenanan to Bu lek? Aku kok nggak percaya kalo itu orang lelaku?! Kalo Mbak Sari gimana?"
Sari yang sedari tadi diam hanya tersenyum dan tidak menjawab. Ia melirik sepintas ke rumah yang dijadikan tersangka oleh warga, tanpa menyurutkan langkah kakinya untuk pulang.
Bukan, itu bukan ulahnya! Orang itu memang melakukan sesuatu yang tidak pada jalurnya tapi bukan dia! Iblis itu berbeda, aku jadi tidak sabar menanti malam.
Sesampainya di rumah, Sari langsung masuk ke ruang kerjanya. Sebelumnya ia berpesan pada mbak Pur untuk tidak mengganggunya. Sari membutuhkan konsentrasi untuk berpikir dan mencari cara memusnahkan lelembut nakal pencuri Sukma.
Sari membuka salah satu buku yang memuat pengetahuan dunia lelembut pemberian Bayu.
"Disini hanya ditulis rupa dan cara kerja makhluk itu … tapi, nggak ada cara menyelamatkan roh yang dicuri?"
"Bima …," Sari belum selesai memanggil namanya ketika Bimasena sudah muncul di sebelahnya.
"Ya Sar,"
"Eeh, tumben cepet banget datangnya?"
"Saya penjaga siaga Sar!" jawabnya dengan senyuman.
Sari tertawa kecil, "Heem, penyakitnya Doni udah nular juga ke kamu rupanya."
"Ehm, saya cuma menyesuaikan saja dengan kalian."
"Ya … yaa, itu bagus. Makhluk ini, apa ada yang kamu ketahui?"
"Pencuri Sukma? Hhm, setahuku dia termasuk bangsa siluman,"
"Hhhm, itu sih aku tahu Bimasena … maksud aku gimana cara nyelamatin roh mereka? Bunuh silumannya?"
"Ada pilihan lain?" Bimasena balik bertanya.
"Cck, kamu ni ditanya malah balik nanya? Trus ngapain kamu kesini kalo nggak bisa bantuin?" tanya Sari kesal.
"Nemenin kamu, sepertinya kamu butuh persiapan untuk nanti malam,"
"Biasanya yang kita bunuh nggak bawa roh manusia, jadi aku nggak perlu mikir dua kali buat habisin mereka. Ini sedikit berbeda kan?"
"Iya, sedikit sulit. Mereka pintar menyembunyikan, jadi kamu harus jeli dan perhatikan dimana dia menyimpan roh curiannya sebelum membunuh dia," jawab Bimasena.
"Ehm, emang biasanya dimana makhluk itu sembunyiin hasil curiannya? Nggak mungkin juga di brankas gaib kan?"
Bimasena tertawa, "Memangnya dia kemana mana bawa brankas Sar?"
"Ya kali aja, terus dimana biasanya mereka simpan? Apa kamu tahu?"
Bimasena menggelengkan kepalanya, "Setiap siuman memiliki tempat favoritnya masing-masing, Sar."
"Malam ini dia pasti cari mangsa lagi kan? Kita pancing dia, roh Anita harus segera kembali kalo nggak dia bisa mati," Sari hanya bisa membayangkan bagaimana perasaan mas Zul.
Malam telah larut, para warga juga sudah terlelap dalam tidurnya. Tapi tidak untuk Sari dan empat penjaganya. Mereka bersembunyi di suatu tempat, sebelumnya Sari telah memetakan rumah yang memiliki anak gadis atau wanita dibawah usia tiga puluh tahunan. Ia juga menahan energinya sendiri agar tidak terdeteksi oleh siluman itu.
Sari bersembunyi dalam tabir gaib yang ia ciptakan diantara rumah-rumah yang sudah dipetakan.
"Apa kamu yakin dia akan muncul malam ini?" tanya Sari pada Bimasena.
"Kemungkinan begitu, ia harus segera mendapatkan roh manusia lagi jika tidak penyempurnaan itu akan sia-sia."
"Licik sekali dia, penyempurnaan kekuatan dengan roh manusia! Emang dia malaikat pencabut nyawa apa?!" gerutu Sari.
"Yang dia ambil hanya tujuh roh yang tersimpan dalam tujuh titik manusia Sar. Roh utama jelas bagian malaikat pencabut nyawa," Bimasena mencoba menjelaskan lagi pada Sari.
"Eeh, ada cadangan gitu rohnya?"
"Sepertinya kamu melewatkan informasi pentingnya Sar?" Bimasena mengejek Sari dengan tertawa kecil.
"Cck, harusnya itu bagian kamu buat kasih tahu aku Bimasena," gerutu Sari.
Bimasena hanya tersenyum tapi sesaat kemudian senyumnya menghilang berganti ekspresi rumit. Ia menangkap energi gaib lain yang ada disekitar mereka.
"Sar, ada yang datang,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
🌹*sekar*🌹
🤔ada bnyak mbk Sari, tpi klo ilang 1 aja, ya kya' mobil kelangan ban😁 (langsung oleng)🤭🤗😘😘😘
2022-06-30
3
Bintang kejora
Ayo Sari, kamu pasti bs 💪🏻💪🏻..
Ttp waspada, jgn sampai ada korban selanjutnya.
2022-06-16
2
winda hikari
pindah d sini ,🤭🤭🤭🤭
2022-06-15
1