...The Heaven Kingdom...
...👑...
Aku bersama rombongan Raja sudah sampai di tempat yang kami tuju, setelah berhari-hari di perjalanan yang melelahkan ditambah berada disatu kereta dengan pria menyebalkan itu.
Tempat ini tidak seburuk yang aku bayangkan, yaa aku kira benar-benar dibuang ke medan perang yang sangat menakutkan. Ternyata hanya sebuah desa yang padat penduduk.
“Kenapa tidak ada rumah atau bangunan kokoh disini?”
Sejak sampai, aku tidak melihat ada rumah bahkn gubuk sekalipun di tempat ini.
“Apa yang kau harapkan, disini hanya tempat pengungsian sementara”
Aku mengangguk paham, ya namanya juga tempat pengungsian sementara tidak akan ada yang nama nya bangunan kokoh. Yang ada hanya tenda-tenda sebagai tempat berteduh.
“Lalu dimana desa asli dari rakyat disini?”
”Desa mereka sudah merubah jadi ladang abu”
Jawab nya singkat.
“Maksud nya?”
“Bukan kah sudah dijelaskan kalau ini adalah wilayah perbatasan yang tidak jauh dari sini adalah medan perang”
Jadi ladang abu maksud nya itu adalah desa nya yang sudah hancur, oke aku paham.
“Lalu untuk apa aku disini, mereka terlihat hidup baik-baik saja”
“Kau buta? Lihat itu!”
Tunjuk nya pada gadis kecil yang tengah mengais makanan dari tempat pembuangan.
“Lihat itu!”
Dia menunjuk lagi seorang anak laki-laki yang tengah meminum air genangan ditanah.
“Itu hanya satu kasus dari sekian banyak kasus yang tidak terlihat”
“Kau yang hidup dengan baik sejak dalam kandungan, pasti tidak akan mengerti dengan penderitaan yang mereka alami”
Dia menyindir ku tanpa tahu hidup seperti apa yang pernah aku jalani.
“Tidak! Kau tidak tahu apa-apa tentang ku. Jadi tutup mulut mu!”
Aku berucap sarkas, dari semua sindiran yang pernah dia katakan pada ku. Sungguh kali ini aku benar-benar terluka dengan ucapan nya.
Persetan dengan status nya sebagai Raja, lagi pula aku bukan manusia yang berasal dari dunia ini.
“Jangan membandingkan nasib seseorang jika kau hanya melihat apa yang bisa kau lihat, mengukur dangkal rasa kemanusiaan seseorang dengan pikiran sempit bukanlah hal yang bagus”
Setelah mengucapkan itu aku meninggalkan dia, mendekati kedua anak kecil tadi mengajak mereka duduk lalu mengobrol.
Melihat mereka berdua rasanya seperti melihat cerminan diri ku dimasa kecil, kurus kering, baju lusuh.
“Dimana orang tua kalian?”
Mereka berdua kompak menggeleng kecil dengan wajah polos nya.
“Bawa mereka ke tenda persediaan makan disebelah sana”
Suara pria dingin itu datang menyapa ku, tapi aku tidak menyahut.
“Kalian ingin makan?”
Mereka mengangguk antusias begitu mendengar kata makanan.
“Ayo ikut aku\~”
Aku berucap dengan nada ceria, membuat kedua anak itu berdiri dengan semangat lalu mengamit lengan ku.
Aku melewati pria itu begitu saja, tidak bicara apapun bahkan tidak menatap kearah nya.
Dia pasti tengah memperhatikan ku dengan tatapan tajam andalan nya, tetapi aku tidak peduli karena terlalu sakit hati mendengar ucapan nya yang menilai dangkal rasa kemanusiaan ku.
.
.
Aku cukup sibuk hari ini membantu para pengawal dan pelayan kerajaan untuk membagikan beberapa persediaan bahan pangan yang dibawa dari istana.
Aku juga baru tahu kedatangan pria itu ke tempat ini bukan hanya untuk meminta laporan pada prajurit nya tetapi juga membagikan bantuan pada rakyat, pantas saja kereta iring-iringan nya sampai puluhan kereta.
Begitu sampai aku tidak sempat istirahat, tujuanku kesini adalah untuk menjalani masa hukuman bukan untuk liburan jadi aku harus sadar diri.
“Apakah masih ada lagi yang perlu dibagikan?”
Aku bertanya pada salah satu pelayan pria yang dibawa Raja.
“Tidak ada nona, hari ini sudah cukup”
Jawab nya sopan meski aku bukan tuan nya.
“Kalau begitu aku sudah bisa kembali ke tenda?”
Ini sudah malam dan aku bahkan belum sempat membersihkan diri.
“Sudah nona, terimaksih untuk bantuan nya hari ini”
”Tidak perlu berterimakasih, ini memang tugas ku disini. Kalau begitu aku permisi”
Tanpa menunggu balasan dari nya aku sudah pergi lebih dulu menuju tenda peristirahatan ku. Ingin segera mandi karena tubuh ku rasanya sangat lengket dengan keringat.
Begitu memasuki tenda aku terkejut menemukan keberadaan pria itu berdiri disamping peti tempat perlengkapan ku. Seharian ini aku tidak melihat nya dimana pun, mungkin dia sibuk mengurus urusan nya. Hemm aku juga tidak peduli.
Aku mengacuhkan nya, berjalan mendekat ke peti untuk mencari dress tidur yang nyaman dipakai untuk malam ini.
Aku bisa merasakan tatapan tajam nya mengikuti semua pergerakan ku di dalam tenda ini, tetapi itu sama sekali tidak memancing ku untuk bicara padanya.
Setelah mengambil semua hal yang aku perlukan aku berjalan keluar tenda meninggalkan pria itu didalam. Untung lah dia tidak mencegah ku karena aku yakin emosi ku akan langsung meledak jika dia mencegah ku.
Badan ku yang lelah membuat emosi ku tidak terkontrol.
Tidak jauh dari tempat ini ada sumur yang digunakan warga setempat untuk mandi meski air nya tidak bersih dan jernih tapi setidak nya bisa untuk membasuh wajah.
Untuk sumber air minum, ada sungai yang letak nya lumayan jauh dari tempat ini. Harus memasuki hutan dulu.
Darimana aku tahu? Tentu saja dari warga disini.
.
.
Aku sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan dress tidur berwarna putih, ketika aku kembali ke tenda ku ternyata pria itu masih disini.
Apa aku harus mengusir nya? Tapi aku malas bicara dengan nya dan pasti dia akan membalas dengan kalimat menyebalkan nya.
Jadi kuputuskan untuk tidak menganggap keberadaan nya, ku lepas kain yang melilit rambut panjang ku.
Tidak ada ranjang disini, hanya ada tumpukan tanah liat yang dibentuk menjadi persegi panjang menyerupai tempat tidur. Lalu di alas dengan beberapa kain, meski tidak empuk tidak masalah selagi masih bisa berbaring.
Dia pasti akan pergi kalau aku abaikan bukan?
Ugh! Keras sekali tanah ini, ku tebak ketika bangun besok pagi pasti tubuh ku pegal.
Aku berbaring membelakangi dia, menarik selimut sampai leher dan memejamkan mata.
“Pergilah\~\~”
”Pergilah\~\~”
Mantra ku tidak mempan, karena tidak ada pergerakan dari nya sama sekali. Dan tatapan tajam nya masih terasa mengunus punggung ku.
Tapi siapa peduli? Aku mengantuk!
Terus saja pandangi aku sampai pagi agar mata mu lepas dari tempat nya.
Entah di menit keberapa kantuk mulai menyerang, aku berada diambang kesadaran ku dan sayup-sayup terdengar langkah mendekat kearah ku.
“Kau mengabaikan ku hm?”
Bisikan itu terdengar tepat di depan wajah ku, angin hangat menerpa wajah ku. Sampai ku rasa ada jemari yang mengelus lembut pipi kiri ku.
Dan—aku benar-benar terlelap.
...👑👑👑...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
MARY DICE
balada romansa,,, ☺😀
2022-06-30
0
C1nt4
next
2022-06-03
1