...The Heaven Kingdom...
...👑...
Bagaimana aku bisa tenang di perjalanan selama hampir seminggu jika ada orang seperti pria ini disekitar ku.
Baru sehari perjalanan saja dia sudah mencium ku dua kali, lalu bagaimana untuk sisa hari berikut nya? Ugh! Membayangkan saja aku takut.
“Kenapa kau terus melirik ku?”
Aku terkejut, kenapa dia bisa tau kalau aku terus melirik kearah nya padahal matanya sedang terpejam.
“Kau punya indera keenam?”
Aku cukup penasaran tentang mu.
“Apa maksud mu?”
Cih! Pertanyaan begitu saja dia tidak mengerti bagaimana bisa Raja seperti itu.
“Bukan aku tidak mengerti maksud dari pertanyaan mu, tapi aku bingung kenapa otak mu bisa berpikir seperti itu”
“Waaahhh….kau bisa membaca pikiran orang lain?”
Aku sangat antusias sampai tanpa sadar aku menggeser duduk ku menjadi tepat di hadapan nya.
“Tentu saja tidak! Kau pikir aku dukun?”
“Tapi tadi kau tahu apa yang aku pikirkan”
”Itu karena isi kepala mu sangat transparan dan mudah ditebak”
Sindirnya pedas, secara tidak langsung dia bilang aku berotak dangkal alias bodoh kan?
“Iya kau bodoh”
“Hah!! Kan kau membaca pikiran ku lagiii!!”
“Aku hanya menebak apa yang ada di otak dangkal mu”
“Sialan!” Aku memaki kesal “Bicaralah sesuka mu!”
Aku membuang pandangan kesal, rasanya lebih baik melihat pepohonan diluar sana daripada melihat wajah tampan yang menyebalkan itu.
Keadaan sudah hening, hanya terdengar suara tapak kuda yang beradu dengan tanah dan juga suara sang kusir yang sesekali berteriak mengarahkan kuda.
Udara nya semakin sejuk, aku tebak mungkin sudah sore karena cahaya matahari mulai kekuningan menembus ranting-ranting pohon.
Sudah sore dan aku sejak tadi pagi belum sarapan, perut ku mulai terasa perih.
Apa di novel ini juga ada istilah sakit lambung ya?
Kruyyyuuukkk
Bunyi perut lapar ku menggema kencang, mengisi keheningan yang ada diantara kami berdua.
Mata yang sejak tadi terpejam itu langsung terbuka dan menatap ku tajam.
“Maaf, perutku terlalu bising”
Aku hanya melirik nya sekilas.
“Kau lapar?”
Sudah tahu aku lapar! Kenapa masih bertanya heh!
“Tidak, itu hanya bunyi biasa yang dihasilkan oleh cacing-cacing ku yang perang memperebutkan usus duabelas jariku”
Aku bicara asal, terserah mau dia mengerti atau tidak.
“Tinggal mengaku lapar saja, susah sekali”
”Memang nya kalau aku mengaku lapar kau mau bagaimana? Menyerahkan daging mu untuk ku makan hah?”
Dia bisa melihat kalau didalam sini tidak ada makanan sama sekali, kalau aku mengaku lapar itu akan sangat memalukan.
Dan—kereta mewah ini cukup mengecewakan, karena hanya mewah dipenampilan nya tapi tidak ada fasilitas makanan sama sekali.
“Kalau kau lapar kita bisa berhenti untuk makan dan istirahat”
Yang aku perhatikan dari pria ini, dia banyak bicara tapi wajah nya selalu datar tanpa ekspresi.
“Ini tengah hutan, kau ingin berhenti makan dimana? Kau pikir ada warung makan dan motel disekitar sini hah?”
”Warung?”
Dari kalimat ku yang panjang itu dia hanya menangkap kata warung saja.
“Lupakan!”
Percuma aku bicara banyak padamu.
Aku menyender di sandaran kursi menutup kepala ku dengan tudung jubah ku, melipat tangan di dada lalu memejamkan mata.
Mungkin tidur bisa menahan rasa lapar ku saat ini, tapi aku tidak bisa tidur terlalu lelap takut nya pria ini mencuri kesempatan untuk mencium ku lagi.
“Kau tidur?”
Suara sayup terdengar, tetapi aku tidak membalas. Aku melanjutkan perjalanan menuju dunia mimpi ku.
.
.
Seseorang menepuk paha ku pelan sampai beberapa kali tepukan barulah aku terbangun.
”enngghh” Aku menggeliat.
“Apa kita sudah sampai?” Tanya ku separuh sadar.
“Belum”
Aku tersentak mendengar suara dingin itu berada tepat di samping telinga ku.
“Eh! Kenapa kau duduk disamping ku?”
Tanya ku kebingungan, karena pria itu tengah duduk bersandar tepat disamping ku padahal tadi sebelum aku tertidur dia tidak duduk disini.
“Kau berbuat mesum pada ku kan? Mengaku!”
Bentak ku kesal, sial! Niat awalnya hanya ingin tidur untuk melupakan rasa lapar tetapi justru aku malah tertidur lelap sekali sampai tidak sadar kalau pria dingin ini berpindah duduk kesamping ku.
“Aku sudah baik hati menampung kepala batu mu di pundak ku, bukan nya berterimakasih kau malah memaki ku mesum?”
“Aku tidak meminta nya!”
Seru ku kesal, dia selalu bertindak tanpa diminta tetapi dia minta pertanggung jawaban orang lain.
“Benar juga, kalau begitu lebih baik tadi aku biarkan saja kepala mu terbentur kaca itu, jatuh lalu lepas dari tempat nya dan gelinding keluar dari kereta ku”
“Cukup! Terimakasih”
Hanya perlu ucapkan terimakasih kan? Lalu masalah selesai.
“Mana imbalan ku?”
Mendengar kata imbalan, aku cukup sensitif karena langsung terbayang saat dia menyambar bibir ku sesuka nya.
Lembut, hangat dan bergerak-gerak.
Aku menggeleng, membuang isi pikiran kotor ku.
“Tidak ada imbalan, kau yang bertindak sendiri tanpa ku minta”
Aku menggeser duduk ku kesamping agar tidak terlalu dekat dengan nya, yaa cari aman saja. Bagaimana kalau dia tiba-tiba mencium ku seperti tadi.
“Turun lah, kita istirahat dan makan”
Syukurlah dia tidak benar-benar mencuri imbalan nya.
“Apa kita sudah sampai?”
Aku melihat keluar jendela, hari sudah gelap yang artinya matahari berganti bulan.
“Belum”
Dia turun dari kereta ketika pintu dibukakan pengawal dan mau tidak mau aku menyusul turun.
“Dimana ini?”
Tanya ku penasaran karena sejauh mata memandang hanya ada kegelapan yang aku lihat.
“Hei tunggu!!”
Seru ku cepat ketika pria itu berjalan meninggalkan ku.
“Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku!”
Dengan kecepatan cahaya aku meraih ujung jubah hitam nya, sebelum dia jauh.
“Aku ikut dengan mu ya? Disini gelap sekali aku takut”
Gumam ku pelan, tapi aku yakin dia masih mendengar ucapan ku.
Kami melanjutkan langkah sampai berhenti di tempat yang sedikit lapang dengan beberapa tenda di sekitar nya. Ada juga api unggun yang dijadikan sumber penerangan disekitar tenda itu.
“Tenda apa itu?”
Dia tidak menjawab, tetapi menarik ku masuk ke salah satu tenda.
Wah makanan, air liur ku sampai banjir begitu melihat banyak makanan enak yang tersaji di dalam tenda ini.
“Apa ini warung makanan?”
Bisik ku padanya, cukup mengherankan kalau di hutan ada warung makan.
“Tidak usah banyak bertanya, kalau kau lapar makan lah!”
“Apa bisa? Tetapi aku tidak membawa uang sepersen pun, nanti bagaimana bayar nya”
Memang semenjak aku berada di dunia ini, aku tidak pernah memegang uang sepersen pun.
“Makan saja”
Seperti nya dia malas berdebat dengan ku.
“Benarkah? Kau yang akan membayar nya bukan?”
Dia hanya mengangguk.
“Tapi…”
“Apalagi!?”
Wah dia seperti nya marah.
“Tapi, apa kau membawa banyak uang? Karena aku sangat lapar jadi makan ku pasti banyak. Kau sanggup kan membayar nya?”
Aku hanya ingin memastikan, dia bawa uang banyak atau tidak karena aku sadar diri porsi makan ku tidak sedikit.
“Kau terlalu bawel! Makan saja, kalau sanggup menghabiskan semua habiskan saja”
Yeessss!! Kalau dia bicara seperti itu, artinya dia punya banyak uang kan?
Huh! Akhirnya dia berguna untuk ku.
Melihat dia duduk aku juga ikut duduk disampingnya, kali ini aku tidak ingin jauh-jauh darinya karna aku butuh.
“Sudah bisa makan?”
Dia mengangguk sambil meraih gelas berisi air minum.
Aku tersenyum lebar, selain tidur aku juga suka makan. Aku memakan semua makanan yang tampak lezat mulai dari daging, sayur-sayuran sampai beberapa makanan manis yang tersedia.
“Selain banyak tidur, kau juga banyak makan ya?”
Aku tahu dia sedang menyindir ku, tapi apa peduli ku? Makanan ini lebih menggoda dari pada wajah tampan mu.
“Pelan-pelan, tidak akan ada yang mengambil makanan mu”
Aku merasakan jemari nya mengusap sudut bibirku pelan.
Aku mematung sebentar karena perlakuan nya, dengan pipi yang menggembung karena berisi makanan aku menoleh kearah nya.
Dia sedang tersenyum tipis, lalu mengusap pipi gembung ku.
“Makan yang banyak, biar kau kuat memberikan imbalan yang akan ku minta nanti”
Sial! Aku lupa kalau dia adalah Raja yang mesum.
Huhuhu aku selalu lupa diri kalau sudah berhadapan dengan makanan lezat!
...👑👑👑...
Jangan lupa vote dan hadiah nya…
Hehehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Ixora_Javanica
bakal jadi novel yg kutunggu upnya nih kak 🥰
2022-07-24
0