Kamar Pangeran Kesembilan
Tangan Rakia yang memegang gagang pintu terhenti. Wanita itu terdiam setelah mengingat kejadian tadi. Ia benar-benar tidak menyangka Pangeran Ren mengalami insiden seperti itu. Pantas saja pria itu selalu berubah kalau membahas soal dansa.
"Aku jadi merasa tidak enak bertemu dengannya setelah semua yang aku katakan."
Tiba-tiba Rakia memikirkan sesuatu membuat dirinya pergi.
......................
Kamar Rakia
Wanita itu menuju ke meja lampu. Ia mengeluarkan sebuah pena dan buku dari laci lalu menulis sesuatu.
Rakia benar-benar serius menulis. Setelah selesai, ia tidak sadar bahwa hari telah gelap. "Oh tidak, aku bolos kerja hari ini."
Pandangannya mengarah ke buku yang ia tulis tadi. "Tidak apa-apa. Setidaknya terbayarkan oleh ini. Aku tidak menyangka ilmu dari guru olahraga itu akan berguna di situasi sekarang."
Wanita itu meregangkan tubuh sambil menuju ke kamar mandi. "Ah, lelahnya."
Pagi berikutnya...
Kamar Pangeran Kesembilan
Rakia berdiri di depan pintu. Ragu-ragu ia akhirnya masuk dan menatap Pangeran Ren masih tertidur.
"Pink ... Haruskah memakai piyama warna kesukaanku?"
Wanita itu menarik selimut. "Pangeran Ren? Sampai kapan Anda akan tidur?"
"M ... Mm, eh gadis cantik ini kenapa baru datang? Aku sangat kesepian kemarin."
"Segeralah bersiap, ada yang harus aku sampaikan kepada Anda."
Pangeran Ren bangkit. "Tunggu, apa kau tidak ingin ikut ke dalam untuk memandikanku?"
Duk!
Pangeran Ren meringis setelah Rakia memberinya jitakan di kepalanya.
"Kejamnya, berani memukul Pangeran setampan diriku. Cukup berani juga tapi karena aku baik hati maka aku mengampunimu."
Rakia menghela nafas karena perilaku Pangeran Ren. "Semua Pangeran di sini sangat aneh. Kuharap semua Pangeran disini bersikap normal."
Beberapa menit kemudian...
"Bagaimana? Apakah melihatku dari sudut seperti ini membuatmu terpesona?" tanya Pangeran Ren mengambil pose.
"Aku sudah menuliskan jadwalnya dan kuharap Pangeran Ren melakukannya secara rutin," kata Rakia menyerahkan buku.
"Sungguh gadis yang tidak manis, mengabaikan pertanyaanku," kata Pangeran Ren mengambil buku sambil memasang raut wajah cemberut.
"Eh?"
Pangeran Ren terbelalak lalu memandang Rakia.
"Benar. Mulai hari ini Anda akan melakukannya dan aku yang mengawasi setiap saat," kata Rakia.
"Siapa yang memberimu hak untuk menyuruhku?" tanya Pangeran Ren melontarkan tatapan dingin.
"Kalau bilang aku sendiri yang memberimu perintah, apakah masih bertanya?"
Pangeran Ren terbelalak melihat perubahan Rakia.
"Aku paling tidak suka jika ada seseorang yang menolak perintahku."
Saat itu juga Rakia tersadar, membuatnya meminta maaf dan menjelaskan dirinya tidak bermaksud seperti itu.
"Puff hahahaha! Kau gadis yang menarik. Baiklah, aku segera bersiap."
"Dia tidak marah, ya?" lega Rakia menghela nafas.
Tidak lama kemudian, Pangeran Ren datang dengan seragam khusus olahraga. "Sudah lama aku tidak melakukan olahraga. Aku jadi sedikit bersemangat."
Sebelum keluar, Rakia menariknya agar duduk. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku melakukan teping untukmu," kata Rakia membalut kaki Pangeran Ren.
"Te-Teping?! Hei, aku ini hanya akan melakukan olahraga kecil, kenapa melakukan teping seolah-olah akan melakukan rugby?"
"Ush, kau ini banyak tanya."
Saat Pangeran Ren berdiri, ia merasakan sesuatu yang berbeda membuatnya menggerakkan kakinya secara bergantian.
"Bukankah sudah kubilang, diam dan turuti saja."
Rakia menariknya keluar. "Ayo!"
......................
Koridor Istana
Raja Rivazreich yang tidak sengaja memandang ke arah luar jendela, menghentikan langkah kakinya diikuti pengawal pribadinya.
"Pangeran Kesembilan berolahraga?"
Terukir senyuman di bibir Raja yang mengerti maksud Rakia menuntun Pangeran Ren berolahraga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
Libra Roshi
semangat capeknya 🤣🤣
2022-08-24
1
Strobery Shortcake
semangat
2022-07-13
1
Nona_Sulung
narsis juga ternyata 😁
2022-07-11
1