Taman Bunga
Pangeran Zelho terhenti dari aktivitasnya. ‘’Jadi sudah satu pekan, ya?’’
Rakia mengangguk dan melaporkan semua aktivitas selama sepekan ini.
Pria itu menghela nafas. ‘’Sebelum pukul 18:00, datanglah ke kamarku. Kau boleh pergi."
‘’Eh, kenapa tiba-tiba?’’ bingung Rakia.
Pangeran Zelho melontarkan tatapan datar. ‘’Apakah aku harus mengulangi perkataanku?’’
Rakia hanya menurut. Ia membungkuk sebelum pergi.
‘'Ada apa dengannya? Baru saja dia terlihat tenang sambil melakukan aktivitas melukisnya, kenapa langsung menyuruhku pergi?’’
Rakia berjalan melewati taman.
"Oh itu dia, pelayan angkuh itu."
"Setelah Pangeran Reonharu, dia mengambil hati Pangeran Zelho."
"Dia bertingkah seperti memiliki jabatan lebih tinggi hanya karena melayani 12 Pangeran kita secara pribadi."
"Berpikir seperti seorang Ratu saja yang bisa menaklukkan 12 Pangeran."
"Tapi aku ragu kalau dia bisa menaklukkan 10 Pangeran lainnya."
"Dia bahkan tidak meminta maaf kepada Nona Haruka setelah apa yang dia lakukan."
"Membuatku muak saja. Memangnya dia siapa sampai diutus melayani 12 Pangeran kita secara pribadi?"
"Ush, jangan menyinggungnya. Kita bisa dilaporkan kepada Pangeran Zelho."
Rakia yang mendengarnya hanya mengepalkan tangan, dengan urat-urat di leher yang sudah menegang.
"Argh, rasanya aku ingin langsung menghapus mereka!" kesal Rakia.
......................
Kamar Rakia
Wanita itu masuk dengan tampang kesal. Ia langsung melonggarkan seragam maid miliknya.
"Ugh, aku sangat gerah memakai seragam ini. Kainnya terlalu tebal, berbeda dengan gaun milikku yang terbuat dari sutra terpilih."
Rakia berjalan menghampiri tempat tidur, lalu menjatuhkan dirinya dan menatap langit-langit kamar. ‘’Masih ada 10 Pangeran lagi. Ah~ kaki dan tanganku sudah mati rasa.’’
Ia kemudian teringat dengan tujuan utamanya berada di kerajaan tersebut. ‘’Benar juga. Tunggu sampai aku menuntaskan misiku baru bisa pergi dari sini lalu memberi mereka semua pelajaran.’’
Karena merasa kelelahan setelah dua pekan berturut ini, Rakia ketiduran.
Jendela kamarnya tidak sengaja terbuka membuat angin masuk. ‘’Mm, aku ketiduran, ya? Sudah pukul berapa?’’
Sebelum pukul 18:00, datanglah ke kamarku, kau boleh pergi. (Rakia teringat)
Ia terbelalak melihat pukul menunjukkan 17:40, membuat wanita itu bangkit dan bergegas.
"Eys, kenapa aku malah ketiduran? Aku pasti tidak sempat sampai di kamar Pangeran Zelho!" gerutu Rakia.
......................
Kamar Pangeran Kesebelas
‘’Pangeran Zelho? Um, apakah dia masih berada di taman?’’
Rakia menuju ke balkon karena melihat sebuah lukisan yang terkena sinar sunset. ‘’Wah indahnya.’’
‘’Apakah kau menyukainya?’’ tanya Pangeran Zelho muncul.
‘’Oh! Kau mengagetkanku saja. Apa kau yang melukisnya?’’
‘’Lalu siapa lagi kalau bukan aku? Kau suka, kan? Damask Rose adalah bunga favoritmu.’’
‘’Tapi kenapa lukisannya hanya setengah? Kau kehabisan kertas dan cat?’’
‘’Hem! Kau ini sama sekali tidak mengerti arti seni.’’
‘’Selain itu dari mana kau tahu aku menyukai Damask Rose?’’
‘’Selama kau menemaniku di taman. Kau selalu memperhatikan bunga itu.’’
‘’Begitu, ya? Jadi kau memperhatikan diriku diam-diam?’’
‘’Si-Siapa yang memperhatikanmu?! Aku hanya melihatnya sekilas, dan panggil aku Pangeran bukan sebutan kau.’’
‘’Puff, terima kasih, aku sangat menyukainya.’’
Pangeran Zelho terpesona sesaat melihat senyuman Rakia. Tak ingin wanita itu menyadari wajahnya merona, dia menyuruh Rakia kembali ke kamarnya sambil membawa hadiah lukisan itu.
Setelah wanita itu pergi, Pangeran Zelho menolehkan kepala ke samping ke arah sebuah lukisan Damask Rose yang sama dengan milik Rakia.
‘’Dengan begini, masing-masing dari kita menyimpan potongan lukisannya.’’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
Dewi
Hanya Rakia sih yang berani manggil gitu
2023-02-21
1
Ratna Wati
aaaahhh pangeran 11 cok cuwit..
2022-08-09
1
Strobery Shortcake
Hem hem
2022-07-13
1