Flashback on
Pesta ulang tahun Pangeran Reonharu akhirnya tiba.
"Semoga kau menjadi pribadi yang lebih baik," kata Raja Rivazreich.
"Meskipun kau yang paling termuda, tetaplah menghormati kesebelas kakakmu," kata Ratu Rivazreich.
"Terima kasih Yang Mulia."
Pangeran Reonharu menatap para bangsawan yang sedang berdansa membuatnya sedikit maju.
"Perhatian! Di pesta ulang tahunku, aku akan menampilkan pedansa terbaik yang siapa pun tidak bisa mengalahkannya. Dia adalah saudaraku, Pangeran Kesembilan!"
Semuanya bertepuk tangan memberi sambutan.
"Tunggu Reonharu, kau belum meminta persetujuan Kakak Ren mengenai hal ini," bisik Pangeran Bamie yang protes.
Pangeran Reonharu mengerutkan dahi. "Ini ulang tahunku? Kenapa Kakak Ren tidak akan mengabulkannya?"
"Kau tidak tahu kalau ka—”
Pangeran Ren tersenyum sambil menepuk bahu Pangeran Bamie agar dia diam. "Tentu saja kenapa aku tidak mengabulkan keinginan adikku ini?"
Eh? Kenapa Kakak Ren malah memotong ucapanku dan menyetujui permintaan Reonharu? Ssttt, bingung Pangeran Bamie.
Pangeran Bamie memandang cemas ke arah Pangeran Kesembilan dan Pangeran Keduabelas secara bergantian. Apalagi Pangeran Ren mulai memilih salah satu putri bangsawan yang memakai topeng. "Reonharu...."
Semua terpesona oleh keanggunan Pangeran Ren, akan tetapi lampu gantung krystal lilin di atasnya tiba-tiba goyah.
Pangeran Bamie yang menyadari hal itu membulatkan mata. "Awas!"
Pangeran Ren mendengar teriakan itu dan menengadahkan kepalanya.
Bugh!
Semua yang ada di aula diam membisu, sampai akhirnya...
"Pangeran!!" seru para pengawal menghampiri Pangeran Ren yang tertimpa lampu gantung krystal lilin.
Sedangkan para pelayan datang membantu putri bangsawan yang didorong Pangeran Ren.
"Kakak Ren?" tatap Pangeran Bamie.
"Akh!" ringis Pangeran Ren memegang kakinya.
......................
Kamar Pangeran Kesembilan
"Yang Mulia, luka Pangeran cukup parah," kata seorang dokter muda.
"Berikan penjelasan yang jelas!" tegur Raja Rivazreich.
"Ini berita buruk, hamba sudah memperingati Pangeran agar tidak melakukan hal itu dulu."
Raja Rivazreich menatap Pangeran Ren. "Apa maksudnya?"
"Maaf. Saya melakukan pemeriksaan secara diam-diam karena ada yang aneh dengan kakiku," jujur Pangeran Ren.
"Karena sudah sejauh ini dengan berat hati hamba sampaikan, Pangeran Kesembilan tidak bisa berdansa lagi."
Semua membulatkan mata terutama Pangeran Ren.
"Dokter Wo, apa kau sudah bosan hidup?! Penjelasan macam apa itu?!" seru Pangeran Ren.
Raja Rivazreich menatapnya dingin. "Diamlah! Jangan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku lagi, dan terima konsekuensimu sendiri."
"Yang Mulia," kata Ratu Rivazreich mencoba menenangkan.
Pangeran Ren menunduk sambil menggertak gigi dengan tangan mengepal. "Saya mengerti."
"Beristirahatlah."
Semuanya keluar kecuali Pangeran Reonharu.
"Aku baik-baik saja," kata Pangeran Ren tersenyum.
"Maaf! Seharusnya aku tidak memaksa Kakak Ren tadi."
"Ini kecelakaan yang tidak disengaja, kau tidak terlibat, berhenti menyalahkan dirimu. Aku ingin istirahat, kau boleh kembali ke kamarmu."
"Shitsurei shimasu(Permisi)."
Setelah keluar, ia mendengar suara benda yang terbanting dari dalam kamar membuatnya tertegun.
Prank! Crash! Ding!
Suara itu semakin membuatnya terkaget.
"Kenapa? Kau baru mendengar Kakak Ren seperti ini?" tanya Pangeran Bamie yang bersandar di tembok samping kamar.
"Eh, Kakak Bamie?"
"Seharusnya kau mendengar ucapanku. Jika saja Kakak Ren tidak keras kepala, dia masih bisa berdansa, tapi kau membuatnya berhenti berdansa untuk selamanya."
Pangeran Reonharu mematung setelah kepergian salah satu kakaknya.
Flashback off
Ia menunduk. Butiran air mata Pangeran Reonharu terjatuh. "Sore wa watashi no sei da(Itu semua karena salahku)."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
Libra Roshi
sabar pangeran ren
2022-08-24
1
Ⓝⓨⓐⓘ Ⓖⓐⓑⓤⓣ
Sedih sih 😭😭😭
2022-06-26
1
Ⓝⓨⓐⓘ Ⓖⓐⓑⓤⓣ
Huwaaa kan kesian...
2022-06-26
1