Abyas dan Suro, sengaja tidak masuk bengkel hari ini, mereka berdua setelah sholat subuh menggunakan sepeda gunung untuk melakukan misinya. Beruntung Abyas memiliki hobi bersepeda pagi jika sedang longgar, jadi kepergian Abyas, tidak menimbulkan kecurigaan pada Swasti.
Abyas dan Suro mengatur sepeda dengan santai, karena jarak antara rumah mereka dan hutan tersebut lumayan jauh sehingga membutuhkan waktu kurang lebih satu jam perjalan untuk sampai di area hutan kucing.
Abyas dan Suro, terus mengikuti jalan setapak yang ada bekas ban sepeda motor. Hutan tersebut dalam keadaan sepi nan sunyi seperti jarang di jamah oleh manusia, dan hanya suara binatang yang menghuni hutan tersebut.
"Bos, kamu yakin Ndaru masuk hutan kucing ini?" tanya Suro, karena hutan benar-benar sepi yang ada hanya suara binatang saja.
"Aku, yakin!" Abyas menegaskan " Lihat ada bekas ban sepeda motor yang barusan lewat sini, kalau di lihat dari bekasnya hanya ada satu sepeda motor yang masuk dan dari ban sepeda motor yang sama, itu artinya Ndaru, masuk hutan sendirian." jelas Abyas setelah meneliti jalan setapak tersebut.
"Sepeda motor yang lewat cuma satu, tidak ada yang lain, tapi untuk apa Ndaru, masuk hutan sendirian?" tanya Suro.
"Itu yang membuat aku curiga, kemarin dia pulang dalam keadaan kacau, bajunya tidak ganti seperti sudah berhari-hari tidak mandi." jelas Abyas, bingung sambil terus mengamati jalan setapak tersebut.
"Sebaiknya kita tanya pada warga setempat tentang hutan kucing ini, siapa tahu dari mereka kita mendapatkan jawaban." usul Suro.
Abyas menerima usulan dari Suro, mereka berdua menuju sebuah warung nasi, yang letaknya agak jauh dari hutan tersebut, Abyas dan Suro memesan makanan dan minuman untuk mengisi perut mereka berdua. Sambil menikmati hidangan yang di warung, Abyas dan Suro berusaha mengorek informasi tentang hutan kucing yang ada di daerahnya. Penjual makanan tersebut menceritakan secara gamblang tentag hutan tersebut, dan menurut dari pendengaran Abyas dan Suro, semua nampak biasa saja.
Hutan kucing memang jarang di jamah oleh orang kampung di sekitarnya, semenjak pemerintah melarang warga sekitar untuk mengambil kayu bakar dan kalaupun ada yang masuk hutan biasanya hanya petugas dari instansi tertentu saja untuk mengecek kondisi hutan.
Selain penjual warung datang pengunjung warung yang notabennya juga orang desa tersebut yang ingin membeli makanan di warung tersebut.
"Kelihatannya mau ada tebang kayu." ucap warga berusia lima puluh tahun.
"Kok tahu kang?" tanya pemilik warung.
"Lawong, sudah tiga hari ini ada sinder(polisi hutan) yang masuk hutan kok, berartikan mau tebang kayu, pegawai sekarang itu muda sekali, motornya juga bagus, mungkin dia anak pejabat." tebak warga sambil menghisap rokok.
"Kok, tahu kalau anak pejabat to kang?" tanya pemilik warung.
"La Motore lo bagus sekali yang harganya di atas tiga puluh juta itu lo, sinder yang ini lain dari biasanya, kalau biasanya pakai motor tril, la ini pakai motor jian uapik e puol, motor yang biasnya di pakai bintang pilem itu lo." ucap warga tersebut sambil menyeruput kopinya.
Suro dan Abyas mendengarkan percakapan antara warga dan pemilik warung tersebut secara seksama, sambil menikmati sarapannya.
"Maaf, pak biasanya ada petugas masuk hutan itu berapa kali sekali?" tanya Abyas, ingin menggali lebih lanjut informasi dari warga tentang hutan kucing.
"Ya, gak mesti pak tergantung sindernya(polisi hutan) itu sregep atau tidak?" jawab warga apa adanya" Tapi sekarang peraturannya semakin ketat, kalau dulu banyak yang blandong(mencuri kayu), sekarang sudah tidak ada yang blandong(blandong) lagi." tambah warga.
"Oh, selain sinder siapa yang biasa masuk hutan?" tanya Abyas.
"Gak ada mas, sekarang gak ada yang berani masuk hutan, apalagi sampai blandong, soalnya sekarang sindernya tidak bisa di sogok(di suap)." jelas warga apa adanya.
"Oh, begitu ya pak." sahut Abyas.
"La mas e, ini dari mana dan mau kemana?" tanya warga.
"Cuma, olah raga saja kok pak, lapar terus mampir di sini, tadi kami nyasar sampai masuk jalan setapak yang di sana itu, eh ternyata masuk hutan yang lebat," jawab Abyas.
"Jalan di sana itu memang jalan menuju, hutan." jawab warga membenarkan.
Abyas dan Suryo semakin serius menggali informasi dari warga yang datang ke warung tersebut, mereka yang datang saling melengkapi cerita dan cerita mengalir begitu saja. Mereka ngobrol seolah mereka itu teman lama yang sudah lama tidak bertemu, demi untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas lagi, Abyas rela mentraktir warga yang ikut dalam obrolan mereka.
(Hai readerku semua jangan lupa baca novel di bawah ini ya RANJANG SANG MAFIA )
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Vita Zhao
nah ayo abyas segera temukan ndaru Dan violet.
kak author pliss crazy up dong, aku suka banget sama ceritanya loh, selalu setia menunggu update mu🥰
2022-05-16
1