"Assalamu'alaikum." sapa Dewandaru yang sudah berdiri di bengkel.
"Wa'alaikum salam, eh mas Ndaru, kapan balik?" tanya Izar.
"Kemarin Kang," sahut Dewandaru, Dewandaru segera menyalami Izar, lalu Damar dan Suro.
"Mau bantuin kita apa mau jalan?" tanya Suro.
"Mau jalan-jalan sebentar Kang, nanti siang aku bantuin." jawab Dewandaru, menaruh pantatnya di kursi yang ada di bengkel tersebut yang biasa di pakai untuk mereka istirahat atau para pelanggan untuk menunggu.
"Udah punya calon yang bisa diajak kondangan apa belum Mas?" goda Damar.
"Aduh kang, kerja aja belum kok calon, yang ada camat." jawab Dewandaru asal.
"Mas Ndaru mau mencalonkan diri jadi pak camat?" tanya Izar, penasaran.
"Zar, Zar maksud mas Ndaru Camat itu calon mati." sahut Damar yang sudah paham dengan joke Dewandaru.
"Waduh, mas Ndaru, aku belum mau mati, belum cukup sangune." sahut Izar polos.
Mereka berempat tertawa bersama-sama dengan banyolan-banyolannya.
"Aku pamit dulu kang, kasihan mama kalau di tinggal terlalu lama." pamit Dewandaru.
"Alah, biasanya juga mamamu sama Ayahmu juga di tinggal seharian, bukannya Ayahmu masih di rumah?" sahut Suro.
"Lah, bukannya Ayah di luar kota, apa gak pamit sama kalian semua?" tanya balik Dewandaru.
"Enggak tuh, mungkin mendadak, yo wes cepetan jalan-jalan Mas, soal kerjaan serahkan pada kita," sahut Damar percaya diri.
"Assalamu'alaikum, nanti aku kesini lagi." pamit Dewandaru.
"Wa'alaikum salam, hati-hati Mas." sahut mereka bertiga bersamaan.
Dewandaru mengendarai sepeda motor vario menuju pusat perbelanjaan di kota tersebut, Dewandaru pergi ke pusat perbelanjaan karena ingin membeli oleh-oleh buat Gayatri untuk di bawa pulang kampung. Hanya butuh lima belas menit dari bengkel Dewandaru sudah sampai di pusat perbelanjaan Dewandaru, menuju outlet yang menjual pakaian pria remaja, Dewandaru berjalan dengan santai sambil melihat-lihat beberapa outlet yang memajang pakian pria.
Dewandaru saat berjalan melihat sekilas sosok Abyas sedang menggandeng mesra Widuri, hari ini Widuri mememinta Abyas untuk menemaninya melihat peralatan bayi. Dewandaru merasa penasaran sekali dengan sosok wanita yang di gandeng oleh Abyas, Dewandaru berusaha mengikuti Abyas dan Widuri tanpa sepengetahuan Widuri dan Abyas.
"Apa papa selingkuh di belakang mama, gila selera papa wanita seumuranku?" gumam Dewandaru, curiga dan dan kesal sambil mengikuti langkah Abyas dan Widuri. Dewandaru mengikuti Abyas dan Widuri sampai di parkiran, Dewandaru bisa melihat jelas wajah Widuri. Sebenarnya Dewandaru ingin mengikuti Abyas dan Widuri, kemana perginya namun parkiran sepeda motor mereka berdua berada di tempat yang berbeda dan sangat jauh sehingga Dewandaru kehilangan jejak, namun Dewandaru sudah mencatat nomor plat motor yang di pakai oleh Abyas dah Widuri, pasalnya Abyas memakai motor milik Violet.
Dewandaru setelah menguntit Abyas dan Widuri, dia kembali ke outlet untuk membeli baju, selama memilih baju Dewandaru sama sekali tidak bisa konsentrasi, bayangan Widuri dan Abyas yang bergandengan mesra terus berputar-putar di otaknya.
"Aku harus menyelidikinya, sejauh mana papa melakukan perselingkuhan." gumam Dewandaru dalam hati.
Dewandaru setelah memilih dan membayar bajunya dia segera bergegas menuju ke bengkel lagi, Dewandaru berusaha mengorek keterangan dari para karyawan bengkel namun hasilnya nihil, sebab selama ini para karyawan percaya jika Abyas merupakan seorang lelaki yang setia, bertanggung jawab dan sayang kekuarga.
Dewandaru melangkah pergi meninggalkan bengkel tersebut setelah gagal mendapat informasi tentang perselingkuhan Abyas, para pagawai bengkel malah menjelaskan betapa kagumnya mereka pada Abyas.
Merasa tidak puas dengan informasi yang dua dapat Dewandaru, pulang dia bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Di rumah Swasti menyambut hangat Dewandaru yang baru saja masuk rumah.
"Ma, kapan ayah pulang ?" tanya Dewandaru.
"Nanti sore Ayahmu pulang, kenapa kamu sudah kangen ayah?" tanya Swasti.
"Apa ayah sering keluar kota?" tanya Dewandaru lagi.
"Sering, kamu kok berigu tanyanya, kamu sudah kangen banget sama ayah ya." goda Swasti.
"Tentu Mama sayang, siapa yang gak kangen dengan ayahnya." sahut Dewandaru manja.
"Assalamu'alaikum." Abyas mengucap salam.
"Wa'alaikum salam," sahut Dewandaru dan Swasti bersamaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Eka Bundanedinar
awal mula salah paham ini
2022-07-30
0