Violet keluar dari kamar dengan tubuh yang sudah segar meski masih lemas, Violet berjalan keluar dengan cara merambat tembok, Violet sudah memakai kaos oblong lengan pendek dan kulot panjang. Dewandaru mengetahui Violet keluar dia segera mendekat dan membantu Violet berjalan namun di tepis kasar oleh Violet, tepisan Violet, tidak mengurungkan niat Dewandaru untuk Berbuat baik pada Violet.
"Aku bisa sendiri, jangan sentuh aku!" bentak Violet, kasar dengan sinar mata murka, penuh kebencian.
Dewandaru tidak mengindahkan ucapan Violet, Dewandaru langsung menggendong Violet, dan membaringkan di atas tikar yang sudah dibersihkan oleh Dewandaru, sebelumnya. Sekalipun Violet, memukul-mukul tubuh Dewandaru dan mengumpatnya kasar, Dewandaru tetap tenang.
"Istirahatlah sebentar." perintah Dewandaru sambil mengikat kembali tangan dan kaki Violet.
Violet membuang muka, dari tatapan mata Dewandaru, Dewandaru kini menatap Violet, dengan tatapan bersalah.
"Aku, tidak akan mengganggu kamu sampai kamu benar-benar tenang, semakin cepat kamu tenang, semakin cepat aku antar kamu pulang." ucap Dewandaru lalu duduk menjauh dari tempat Violet, berbaring.
Violet dan Dewandaru larut dalam pikiran masing-masing, diantara mereka tidak ada yang membuka percakapan, rumah tua itu sangat hening hanya deru nafas dari dua insan manusia yang sedang dalam keadaan kacau.
Violet, lama kelamaan memejamkan matanya, hingga jam menunjukkan pukul satu siang. Dengan pelan dan lembut Dewandaru, membangunkan Violet yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Vio, bangun," ucap Dewandaru lembut "Sudah siang ayo makan!" ajak Dewandaru.
Violet menggeliat, sebenarnya dia ingin menolak tawaran Dewandaru, tapi cacing dalam perutnya tidak bisa di ajak kompromi, setiap kali Violet dilanda setres berat perutnya selalu minta jatah lebih.
"Cacing dalam perutmu sudah meronta maaf hanya nasi bungkus tadi pagi." ucap Dewandaru lagi.
Violet tanpa menjawab dia hanya menurut pada perintah Dewandaru.
"Jangan menolak makanan ini, makanlah agar kamu punya tenaga untuk membalas dendam padaku." ucap Dewandaru, sambil menyuapi Violet yang sudah di posisikan duduk dan bersandar pada tembok.
Violet mengunyah makanan dari suapan tangan Dewandaru, namun Violet sama sekali tidak memandang wajah, Dewandaru. Violet terus makan dan membuang muka, tidak terasa satu bungkus nasi ayam penyet habis tanpa sisa. Setelah selesai menyuapi Violet, Dewandaru, baru menyantap makan siangnya.
Selesai makan siang keduanya kembali diam tanpa bersuara padahal, Dewandaru sudah membuka bekapan mulut Violet, Violet masih enggan untuk bersuara karena rasa bencinya pada Dewandaru. Dewandaru terus menatap iba pada Violet, Dewandaru tahu jika Violet masih mengalami demam.
"Kenapa kamu diam?" tanya Dewandaru menoleh ke arah Violet, yang masih posisi duduk.
Violet, hanya melengos kesal, tanpa mau memandang keberadaan Dewandaru.
"Apa kamu sudah tenang?" pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Dewandaru, padahal Dewandaru sendiri tahu jika Violet, merasa tidak tenang, bagaimana bisa tenang berada dalam satu ruangan dengan seorang penculik yang telah merenggut madunya.
Violet tetap bergeming pada posisinya, hanya hembusan nafas kasar yang keluar dari hidung Violet, hingga beberapa saat keduanya bagai patung bernyawa.
"Aku mau kencing." Violet bersuara dengan sangat ketus.
Dewandaru tanpa menjawab dia menggendong Violet.
"Lepaskan!" bentak Violet, marah.
"Aku tidak ingin kamu jatuh, kamu masih demam tubuhmu belum bertenaga penuh, kamu masih rawan tumbang." sahut Dewandaru pelan.
Dewandaru menurunkan Violet, di kamar yang tadi di pakai untuk mandi, Dewandaru membuka ikatan tangan dan kaki Violet.
"Aku tunggu di luar," ucap Dewandaru, lalu pergi.
Violet diam tanpa menyahut ucapan dari Dewandaru. Trauma yang di alami Violet, membuat Violet tidak bisa berpikir secara jernih selesai melakukan hajatnya, Violet keluar dengan cara merambat tembok.
"Aku bisa sendiri, jangan sentuh aku." ucap Violet, ketus, ketika tahu Dewandaru mau membantunya jalan.
"Kamu memang harus kuat." ucap Dewandaru dingin.
Violet dengan kekuatan yang ada dia berusa berjalan menuju tikar, Dewandaru terus mengawasi gerak gerik Violet, Dewandaru sangat khawatir jika Violet terjatuh karena kondisi Violet yang masih belum pulih. Violet kembali ke tikar, sesampainya di tikar Violet, membaringkan tubuhnya membelakangi Dewandaru yang tengah duduk.
"Kamu, minum vitamin ini." perintah Dewandaru, membantu Violet untuk duduk.
"Jangan sentuh aku!" bentak Violet penuh kebencian.
"Kamu butuh kekuatan untuk marah, aku tidak ingin kamu sakit." Dewandaru menyodorkan Air putih dan satu butir vitamin dan obat demam.
Violet memandang sinis pada Dewandaru.
"Ini asli vitamin, aku tahu kamu curiga, tenanglah, kamu harus pulih jangan mati, kamu belum balas dendam padaku bukan? aku tahu kamu menyimpan dendam yang mendalam padaku." ucap Dewandaru, berusaha tenang, walau sebenarnya hatinya sedang bergejolak "Jangan sampai jika kamu mati arwahmu gentayangan karena dendammu padaku belum terbalas."
Violet terpaksa minum vitamin dan obat demam yang di sodorkan oleh Dewandaru, setelah meminum obat dan vitamin Violet, kembali membaringkan tubuhnya, Dewandaru segera menyelimuti Violet, agar tidak kedingianan, selain menyelimuti Violet, Dewandaru juga memakaikan kaos kaki pada Violet, serta mengikat kembali tangan dan kaki Violet, Violet hanya diam mendapat perlakuan sepeti itu daei Dewandaru.
Violet kembali tidur dalam keadaan kacau, setelah Violet benar-benar tertidur pulas Dewandaru melepas ikatan kaki dan tangan Violet. Dewandaru tidak sedikitpun meninggalkan Violet, sendirian bahkan Dewandaru terus mengompres Violet yang sedang demam. Jam delapan malam Violet, terbangun ruangan yang tadi siang terang benderang kini remang-remang hanya satu lilin yang menjadi penerang. Setelah bangun Violet merasa tubuhnya sedikit membaik, rasa pusing dan demam di tubuhnya sedikit berkurang.
"Sudah malam, makanlah." Dewandaru yang mengetahui Violet, sudah bangun dia segera membantu Violet, untuk duduk.
Bau mie rebus sangat menggugah selera Violet, apalagi yang di masak oleh Dewandaru adalah makanan favorit Violet, mie rebus komplit telur dan sedikit sayur.
Violet tanpa bersuara dia hanya menatap Dewandaru tajam.
"Setelah tubuhmu kuat untuk duduk di boncengan sepeda motor, kita pulang, akan aku bawa kamu ke rumah orang tuaku." ucap Dewandaru.
"Kenapa kamu ingin menculik Widuri, punya masalah apa kamu dengan Widuri?" tanya Violet dingin.
"Kamu makan dulu, setelah kamu makan baru kita bicarakan." ucap Dewandaru sambil menyuapi Violet.
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati?" tanya Violet ketus.
"Aku memang brengsek, kejam dan bej4t, tapi aku tidak akan membiarkan kamu mati sebelum dendammu padaku terbalas, paham!" jawab Dewandaru menegaskan.
"Bukankah jika aku mati kamu bisa bebas, tinggal membuang mayat ku, dan tidak perlu merasakan dendamku padamu." ucap Violet, dingin.
"Membunuhmu bukan jalan terbaik, makanlah jangan banyak bicara." pungkas Dewandaru, sambil menyuapi Violet.
Violet dengan perasaan dongkol dia terus mengunyah mi rebus buatan Dewandaru, setelah beberapa saat mi dalam mangkuk plastik itu telah ludes tanpa sisa.
"Aku masih lapar!" ucap Violet, dingin.
Tanpa menjawab Dewandaru langsung bangkit dari duduknya, dia segera mengambil sisa mi rebus yang masih ada di panci yang di letakkan tidak jauh dari tempat mereka berada. Dewandaru tetap menyuapi Violet, penuh kasih, meski Violet, selalu memasang wajah permusuhan. Seperti biasa Dewandaru, baru menyantap makannya setelah memastikan Violet, sudah kenyang.
"Sekarang, sudah selesai makan aku akan menceritakan apa yang menjadi sebab aku ingin menculik Widuri." Dewandaru mulai membuka cerita.
"Apa alasanmu?" tanya Violet dingin.
"Aku melihat beberapa kali dia telah berjalan dengan ayahku mereka sangat mesra sekali, dan aku juga mendengar sendiri ayah telah mengakui sendiri pada mama kalau Widuri, telah mengandung anak ayah." ucap Dewandaru frustrasi.
"Kenapa kamu tidak tanya pada Ayah? yang kamu maksud ayah Abyas bukan?" tanya Violet dingin.
"Apa? Kamu kenal ayahku? kenapa kamu panggil ayahku ayah ?apa hubunganmu dengan Widuri? apa kamu anak dari Widuri?" Dewandaru terkejut mendengar pengakuan dari Violet, Dewandaru memberondong berbagai pertanyaan pada Violet.
"Aku, tidak pernah menyangka Putra yang ayah Abyas, bangga-banggakan ternyata bodoh." ucap Violet dingin "Kamu tidak pantas menjadi anak dari ayah Abyas!" ejek Violet, semakin dingin.
"Kamu kira kamu pantas menjadi anak dari ayahku, darah ayahku mengalir di tubuhku." sahut Dewandaru sengit.
"Aku memang bukan anak kandung ayah Abyas, kenapa? kamu takut tersaing?" ucap Violet, sengit dan dingin.
"Apa hubungan kamu, Widuri dan ayahku?" tanya Dewandaru penasaran.
"Tanya sendiri pada ayah Abyas dan mama Asti." jawab Violet ketus.
"Jawab?" bentak Dewandaru.
"Aku tidak akan menjawab, hanya ayah Abyas dan mama Asti, yang berhak menjawabnya." bentak Violet dingin.
"Sialan, bedebah, brengsek, shiiiitt." Dewandaru semakin frustrasi karena tidak berhasil mendapat jawaban dari Violet.
Dewandaru dan Violet terlibat percekcokkan yang sangat sengit, kedua remaja labil itu tidak ada yang mau mengalah, hingga Dewandaru kembali mengikat tangan dan kaki Violet, serta menbekap kembali mulut Violet sehingga mereka kembali diam, sedang Violet semakin menbanci Dewandaru, setelah mengetahui jika Dewandaru adalah anak dari Abyas, suami kakak sepupunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Vita Zhao
ayolah dewandaru cepat antarkan violet pulang
2022-05-14
0