Pagi mulai merayap, suara kicauan burung di luar bangunan tua itu sangat berisik sehingga mengganggu sang penghuni bangunan tersebut. Dewandaru tidur di lantai tanpa alas hanya dengan menggunakan jaket. Violet mulai membuka mata, Violet menyadari jika keadaan dirinya sudah memakai pakaianya, Violet tidak sadar siapa yang memakaikan kembali pakiannya, Violet merasa tidak teralu dingin, dia baru menyadari jika semua telah berubah tidur di atas tikar serta mengenakan selimut serta bantal kecil, namun masih tetap dengan tangan dan kaki di ikat, mulutnya juga masih ditutup, walau sudah tidak serapat kemarin.
Violet menangis, air matanya terus mengalir tiada henti rasa nyeri di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa nyeri di hatinya. Violet sangat terpukul dan putus asa dengan kejadian semalam, tangisan Violet yang terus menerus membuat Dewandaru terjaga. Dewandaru mendekati Violet yang meringkuk ketakutan, sorot mata Violet, penuh dengan amarah dan kebencian, semakin Dewandaru mendekat Violet, semakin ketakutan Violet, terus menggelengkan kepala dengan tatapan mata penuh ketakutan dan kebencian.
"Maafkan aku, aku akan pertanggung jawabkan semua perbuatanku padamu." ucap Dewandaru penuh penyesalan.
"Ehm.. Ehmmm!" Violet berusaha berteriak walau mulutnya masih dibekap, dengan tubuh menggigil.
Dewandaru memegang kening Violet," kamu demam aku akan keluar dulu, membeli makanan dan obat".
Violet tidak menjawab apapun ucapan Dewandaru, pertama karena mulut Violet yang masih dibekap, kedua Violet masih sangat trauma dengan sikap dan perilaku Dewandaru, selama ini.
"Aku pasti akan memulangkanmu, namun tidak sekarang, aku cepat kembali." ucap Dewandaru, dengan wajah penuh penyesalan dan frustrasi.
Dewandaru meninggalkan Violet di dalam rumah tua sendirian, Violet, masih tetap diam dengan ekpresi wajah dan bahasa tubuh yang sama. Dewandaru dengan mengendarai sepeda motor CBR, meninggalkan rumah tua untuk menuju kota. Jarak antara hutan dan pinggir kota memerlukan waktu dua puluh menit, Dewandaru sampai di sebuah pasar tradisional pinggiran, Dewandaru karena sudah biasa mandiri dan belanja sendiri sehingga sampai di pasar Dewandaru segera membeli beberapa keperluan wanita, seperti baju wanita komplit untuk ganti Violet. Selain baju wanita Dewandaru membeli nasi bungkus dan beberapa makanan untuk persiapan kurang lebih dua hari. Dewandaru juga membeli beberapa obat untuk turun panas, demam batuk, selimut dan handuk juga tidak luput dari daftar belanja Dewandaru.
Setelah hampir satu jam belanja Dewandaru segera kembali ke rumah tua, sesampainya di rumah tua Dewandaru, menemui Violet semakin menggigil ketakutan. Setelah menaruh semua barang belanjaannya Dewandaru, mengambil dan membuka makanan juga teh panas yang dibelinya tadi.
"Makan dan minumlah aku suapi!" perintah Dewandaru sambil melepas bekap mulutnya Violet.
"Ti... ti... tidak to... to... long le... pas... pas... kan aku." pinta Violet frustrasi penuh ketakutan.
"Aku pasti melepaskanmu, dan aku akan mengantarkanmu pulang, sekarang kamu makan dan minum obat dulu, demam kamu tinggi." ucap Dewandaru, lembut.
Kondisi Violet, sangat lemah karena Violet mengalami depresi berat, Violet sangat putus asa, dengan kondisinya sekarang, di otak Violet sudah di pemuhi dengan bayangan guncingan dari teman, tetangga maupun kerabat, apalagi Violet, menyadari jika dirinya sudah kehilangan madunya.
"Biarkan aku mati!" teriak Violet setelah dewandaru melepas bekapan mulut Violet.
Dewandaru tidak menjawab sepatah katapun dari amarah Violet, Dewandaru membiarkan Violet, meluapkan seluruh amarahnya pada dia.
"Bunuh saja aku, kamu sudah menghancurkan hidupku, kamu sudah merampas hidupku, aku perempuan kotor, bunuh aku!" teriak Violet semakin frustrasi.
Dewandaru menggelengkan kepala dia tahu jika Violet, sangat frustrasi dan putus asa.
"Maafkan aku." Dewandaru berusaha menenangkan Violet, denagn cara memeluk tubuh Violet, dengan sekuat tenaga Violet menolak pelukan Dewandaru, namun karena kondisi tubuh yang lemah perlawanan Violet tidak ada gunanya karena Dewandaru tetap bisa memeluk tubuh Violet, tanpa Violet ketahui Dewandaru menitikan air mata penuh penyesalan.
"Makanlah, aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia sebelum kamu berhasil menghukumku." ucap Dewandaru.
"Aku bunuh kamu." suara Violet, melemah.
"Makanlah!" perintah Dewandaru sambil menyuapi bubur ayam pada Violet.
"Kalau kamu ingin membunuhku habiskan dulu bubur ini dan minumlah obat ini aku tidak akan melukaimu lagi." ucap Dewandaru sabar dan penuh penyesalan
Violet menuruti perintah Dewandaru, meski dengan hati yang dongkol, Violet bertekat untuk balas dendam pada Dewandaru apalagi Dewandaru secara terang-terangan memberi kesempatan Violet untuk balas dendam.
Violet menghabiskan semua buburnya, setelah makan Dewandaru memberi Violet, minum obat.
"Aku sudah belikan baju ganti untukmu, bajumu sudah kotor dan rusak, akan Aku rebuskan Air dulu tubuhmu harus di bersihkan, lalu ganti baju." ucap Dewandaru, pergi tanpa meminta jawaban pada Violet.
"Lepaskan aku, aku mau pulang! Jangan berlagak baik padaku!" teriak Violet." Tolong ada orang tolong aku!"
Violet terus berteriak minta tolong, Dewandaru membiarkan Violet berteriak sesaat, karena Dewandaru tidak ingin ada yang mengetahui persembunyiannya maka Dewandaru kembali membekap mulut Violet.
"Kalau kamu tidak teriak aku akan buka, bekapan ini, aku pasti memulangkanmu tapi aku ingin kamu menjawab semua pertanyaanku nanti, sekarang tubuhmu masih lemah." ucap Dewandaru dingin sambil mbekap kembali mulut Violet dengan kain.
Violet terus meronta dengan sekuat tenaga, sekuat apapun Violet meronta namun masih tetap kalah dengan tenaga Dewandaru. Setelah membekap kembali tubuh Violet, Dewandaru meninggalkan Violet, sendirian, Dewandaru nerebus air dengan panci yang baru di belinya tadi, kebetulan di dapur rumah tersebut masih ada tungku kuno dan kayu bakar yang kering. Dewandaru yang memiliki hobi mendaki gunung sehingga sangat mudah bagi Dewandaru untuk hidup di tengah hutan. Dengan cekatan Dewandaru menyalakan api di tungku, sedangkan untuk airnya Dewandaru, mengambil air dari sumur yang ada di dalam dapur tersebut.
Dewandaru sambil merebus air sambil terus merenungi kesalahannya, sekitar tiga puluh menit Dewandaru sudah menyiapkan satu ember sedang air hangat, Dewandaru membawa air hangat tersebut ke dalam kamar yang sama sekali tidak ada jendelanya.
"Mandi dan gantilah baju, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," perintah Dewandaru sambil melelapas ikatan kaki Violet.
Violet meronta menolak perintah Dewandaru, setelah ikatan kakinya di lepas dengan tenaga yang masih lemah Violet, berusaha menendang Dewandaru, sekenanya.
"Pulihkan tenagamu, jika kamu ingin membunuhku." ucap Dewandaru dingin, Dewandaru tetap membantu Violet, berdiri dan melangkah menuju kamar untuk mandi, dewandaru sengaja menyuruh Violet, mandi di kamar yang tidak ada akses keluar kecuali pintu yang pastinya di jaga oleh Dewandaru.
"Mandilah, baju ganti aku taruh di sini, kamu berteriak juga percuma ruangan ini jauh dari manapun, bisa-bisa yang datang bukan orang tapi macan." Dewandaru menakut-nakuti Violet, agar Violet, tidak bertingakah.
Violet tidak menjawab, hanya mendengus kesal dan menatap Dewandaru penuh kebencian. Dewandaru membiarkan Violet, tetap diam hingga sampai sepuluh menit.
"Cepatlah mandi airnya keburu dingin." perintah Dewandaru, lalu keluar ruanganan meninggalkan Violet, mandi sendirian.
Setelah beberapa saat Violet, mulai mengguyur tubuhnya dengan air hangat, Violet merasa sedikit segar setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Vita Zhao
ayolah dewandaru cepat antarkan violet pulang sebelum dia bertambah membencimu.
thor crazy up nya dong☺
2022-05-12
0