Utari dan teman-teman sudah sampai di rumah Widuri, sampai di rumah Widuri teman-teman Violet di sambut hangat oleh Widuri, karena sudah sangat siang kakek juga sedang tidur maka hanya Widuri yang menyambut kedatangan teman-teman Violet, semua wajah teman Violet menunjukkan ekpresi bingun, cemas dan takut.
"Ada apa dik, kok wajah kalian pucat semua seperti ini?" tanya Widuri setelah mempersilakan Utari dan teman-temannya masuk rumah "Vi mana?" tanya Widuri penasaran.
Mereka bertuju tidak langsung menjawab malah saling senggol, sedangkan wajah Utari sudah sangat pucat sekali.
"Mbak, maaf ehm... ehm... maaf mbak kami...." Veto yang mewakili teman-temannya berbicara namun sangat gugup sehingga bicaranya terbata-bata.
"Kalian minum dulu." perintah Widuri, menyodorkan air mineral yang sesalu tersedia di atas meja ruang tamu.
"Terima kasih mbak." sahut Fero gugup.
Mereka segera meminum air mineral yang ada di depannya.
"Sekarang kalian bicara dengan jelas ada apa? sepeda motor Vi, Ada Vi-nya pergi ke mana?" tanya Widuri mulai gelisah namun berusaha menyebunyikannya.
"Berarti Vi, belum pulang ya Mbak?" tanya Utari spontan.
"Belum." jawab Widuri "Katakan ada apa?" Widuri semakin cemas.
"Begini mbak, ehm... tadi kami makan mi ayam di depot Kamboja, tadi saya ke WC, dan Vi saya suruh vi nunggu sebentar di parkiran sedang yang lainnya sudah pergi, setelah kembali dari WC, ehm... Vi gak ada di parkiran, sedang sepeda motor dan kuncinya aman masih nyantol di kontak," jelas Utari dengan mata sudah sembab dan suara juga serak.
"Vi, kemana?" seru Widuri, panik.
"Ehm... ehm... kami gak tahu mbak maaf, sudah satu jam kami berusaha mencari dan menghubungi teman yang lainnya tapi kami tidak berhasil, dan tidak ada yang tahu Vi, ada di mana." jelas Utari, gugup dan keringat sudah bercucuran.
"Astaqfirullah hal'adzim!" seru Widuri cemas"lalu bagaimana?, semoga tidak terjadi apa-apa pada Vi." ucap Widuri lemas dan cemas.
"Mbak kami akan tetap mencari Vi," ucap Veto.
"Iya mbak kami akan tetap berusaha mencari keberadaan Vi," ucap Fero.
"Hand phone ya hand phone-nya Vi!" seru Widuri.
"Kami dari tadi sudah berusaha menghubunginya mbak, tadinya masih menyala namun entah bagaimana setelah beberapa panggilan, hand phone-nya juga mati." sahut Utari di angguki teman lainnya.
"Semoga Vi, tidak ada apa-apa, Vi, kaku kemana Vi? tidak biasanya kamu mengalami hal seperti ini." ucap Widuri yang sudah lemas.
Utari dan teman-temannya berusaha menenangkan Widuri, beruntung kakeknya belum bangun jadi tidak begitu repot.
"Mbak, ikut kalian mencari Vi." ucap Widuri.
"Kalau mbak ikut kami siapa yang menjaga kakek? apa mungkin Vi, di culik?" tebak Veto.
"Lalu siapa yang menculiknya, Vi, anak yang baik dan apa tujuannya menculik Vi." sahut Utari.
"Kalian pulang dulu saja, nanti orang tua kalian mencari kalian, soal Vi, nanti mbak minta bantuan teman dan saudara mbak." ucap Widuri setelah tenang.
"Aku akan tetap di sini mbak menemani mbak, tadi Aku sudah minta ijin ke orang tuaku dan sebentar lagi mereka datang." ucap Utari.
"Ya, beneran mbak ibunya Utari, kan polisi jadi bisa membantu sekali." tambah Fero.
"Terima kasih." ucap Widuri.
"Kalian pulang saja dulu biar aku yang di sini menemani mbak Wid." ucap Utari.
Fero dan kawan-kawannya berpamitan, Utari tetap berada di rumah Widuri, tidak berapa lama ibu dan kakak Utari sampai di rumah Widuri. Ibu Utari segera mengintrigasi Utari, karena belum empat puluh delapan jam, maka beluk bisa lapor kehilangan di kantor polisi. Sebagai seorang polisi ibunya Utari dengan di temani kakaknya serta Utari mereja menuju depot mi Kamboja, di sana ibunya Utari, mulai melakukan penyidikan.
"Tar, dari penyidikan ibu, Violet telah di culik, pelakunya juga cuma satu orang, kita harus kembali ke rumah Violet, kita tanya siapa yang patut di curugai." ucap ibunya Utari setelah hampir dua jam melakukan penyidikan di lokasi kejadian.
"Tapi apa motifnya, Bu, selama ini Utari sangat baik dengan siapapun, begitu pula mbak Wid." ucap Utari, seolah tidak percaya dengan penuturan ibunya.
"Kamu ingat-kan apa pekerjaan Widuri?" tanya ibunya Utari.
Utari mengangguk bertanda mengerti kemana arah pembicaraan ibunya, sedangkan kakaknya tetap fokus menyetir mobil.
"Bukankah sudah dua tahun ini, mbak Wid tidak bekerja di klup malam lagi," ucap Utari keceplosan.
"Lalu?" tanya ibunya Utari.
"Mbak Wid, sudah menikah dua tahun lalu dan sejak saat itu mbak Wid, tidak lagi bekerja di klup malam lagi,bak Wid fokus merawat kakek, semua kebutuhan Violet dan keluarganya di tanggung oleh suaminya mbak Wid, tapi suaminya seperti apa aku juga belum pernah bertemu." jelas Utari, jujur.
"Ibu belum bisa menyimpulkan siapa dan apa motifnya, kamu tetap temani Wid, ada apa-apa kaku cepat kabari ibu, masmu juga ikut menemanimu dan Widuri."
"Baik bu." Utari.
Mereka bertiga setelah menyantap makan sore di salah satu warung nasi, sebelum mereka kembali ke rumah Widuri. Di saat menyantap makan hand phone Utari, berdering nama Widuri yang muncul di layar hand phone-nya.
"Bu, mbak Wid, telpon." ucap Utari.
"Angkat." perintah ibunya.
Utari segera mengeser tombol hijau tersebut.
"Assalamu'alaikum mbak Wid, apa ada berita bagus?" tanya Utari.
"Dik, sebaiknya dik Tari tidak usah ke sini, soalnya tadi mbak bilang ke kakek jika Violet menginap di rumahmu." ucap Widuri di balik telepon.
"Tapi bagaimana dengan mbak?" tanya Utari, cemas.
"Mbak, gak apa-apa, ada suami mbak, terima kasih dik, sampaikan maaf dan terima kasih mbak ke ibu dan mas nya dik Tari." ucap Widuri, berusaha tenang.
"Baik mbak ada apa-apa segera hubungi kami," sahut Utari.
"Baik dik Tari, assalamu'alaikum." pungkas Widuri.
"Wa'alaikum salam mbak," sahut Utari, Utari segera menutup panggilam teleponnya.
"Kita pulang, besok ibu akan berusaha menyelidiki lagi." ucap ibunya Utari.
"Kasihan dari kecil sudah yatim piatu, masih harus mengurus kakek yang sakit." ucap Utari.
"Makanya kamu itu harus banyak bersyukur Dik, ada mas ada mbak ada ibu dan bapak." sahut kakajya Utari.
"Sudah ayo makan, setelah ini kita pulang, setelah ini ibu ada jadwal apel malam." pungkas ibunya Utari.
Mereka bertiga menyantap makanannya dengan santai, bagi mereka hisa berkumpul dan makan di leseham warung pinggir jalan merupakan peristiwa langka karena, jadwal ibunya Utari sebagai seorang polisi bagian kriminal sangat padat.
Selesai menyantap menu makan malamnya mereka pulamg ke rumah, sesampainya di rumah Utari tidak tinggal diam Utari, terus berusaha menghubungi teman lainnya untuk mencari informasi tentang keberadaan Violet.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Eka Bundanedinar
lagian violet masih sma gaya niruin mb widuri
2022-07-30
0
Vita Zhao
hm semoga dewandru tidak melakukan hal2 buruk sama violet
2022-05-12
0