Polisi bergerak sangat cepat, polisi langsung mengerahkan pasukan penyidik kusus untuk mencari bukti dan saksi atas hilangnya Violet. Utari yang merupakan orang pertama yang mengetahui hilangnya Violet dia di jadikan saksi kunci, dan terus introgasi oleh pihak penyidik, begitu juga Fero dan kawan-kawan serta, pekerja dan pemilin depot mi Kamboja.
Setelah berita hilangnya Violet di laporkan ke polisi, satu sekolahan Violet, menjadi heboh karena pihak polisi juga mendatangi sekolahan tempat Violet, sekolah. Polisi mengintrogasi siswa maupun siswi serta para guru yang mengenal Violet.
Kepala sekolah tempat Violet, belajar juga tidak luput dari introgasi polisi, beruntung pihak sekolah sangat kooperatif saat diajak bekerja sama. Polisi minta CCTV di area sekolah, sayangnya Dewandaru, merupakan Pemuda yang sangat cerdas sehingga dia tahu area mana yang tersorot CCTV, sehingga Dewandaru tidak pernah berhenti di tempat yang tersorot CCTV.
Mamanya Utari, yang merupakan orang yang memimpin penyidikan terus bekerja keras, dia terus berinteraksi dengan keluarga korban dan saksi kunci, seperti sekarang mamanya Utari, menemui Abyas, Widuri, Swasti serta bsemua teman Violet yang datang bersama di depot mi Kamboja tempat kejadian.
"Bagaimana Bu, perkembangannya? apa sudah ada perkembangan?" tanya Abyas.
"Kasus ini lumayan rumit, satu-satunya petunjuk hanya langkah kaki, yang menuju ke ban mobil itu yang saya simpulkan hasil penyidikan kemarin lusa, bapak serta ibu jangan khawatir kami tetap burusaha keras untuk menemukan kembali Violet." jelas mamanya Utari.
"Kami percayakan pada pihak yang berwajib," ucap Abyas.
"Apa ini ada hubungannya dengan klup malam temost saya bekerja dulu?" tanya Widuri, sangat cemas.
"Dari penyidikan kami, tidak ada tanda-tanda yang berhubungan klup malam tersebut," jelas namanya Utari.
"Tolong, temukan segera Putri kami." pinta Swasti, tulus.
"Kami akan berusaha secepatnya, kami juga sudah menggunakan anjing pekacak untuk mencarinya." jelas namanya Utari.
Pertemuan antara pihak polisi dengan keluarga korban berjalan selama kurang lebih satu jam. Setelah pertemuan tersebut pihak polisi melanjutkan penyidikannya sedangkan Abyas mengantar Widuri dan Swasti pulang ke rumah. Abyas mengantar dulu Widuri kerumah sakit karena kakek masih harus di rawat di rumah sakit, setelah mengantar Widuri, Abyas membawa Swasti pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah seperti biasa Abyas, merawat sendiri Swasti apalagi sekarang Gayatri, sedang liburan di kampungnya. Selesai merawat Swasti, Abyas ngobrol santai dengan Swasti di teras belakang rumah sbil menikmati gemricik taman kecil di belakang rumahnya.
"Mama sudah dapat kabar tentang Ndaru?" tanya Abyas.
"Sampai hari ini, Ndaru tidak memberi kabar sana sekali." jawab Swasti, cemas.
"Kemana Ndaru, pergi kalau hanya ke luar kota tidak mungkinkan, dia tanpa kabar seperti sekarang? coba kita telon Gayatri, siapa tahu dia menyusul Gayatri, di kampung seperti beberapa tahun yang lalu pamitnya ke rumah teman nyatanya ke rumah Gayatri." usul Abyas.
"Sekarang mama coba, sebenarnya sejak Ndaru, pamit perasaan mama sudah tidak enak." jawab Swasti "Tolong ambil kan hand phone mama." pinta Swasti pada Abyas.
"Baiklah." Abyas segera bangku berdiri meninggalkan Swasti yang sedang duduk bersantai.
Dari luar terdengar suara motor Dewandaru yang sedang di parkir di depan rumah, Abyas yang tadinya ingin ke kamar di urungksn niatnya, Abyas malah menuju pintu utama untuk melihat dan membukakan pintu memastikan apakah benar-benar, Dewandaru, yang pulang. Abyas membuka pintu di lihatnya Dewandaru, kelihatan kelelahan turun dari motor CBR-nya.
"Assalamu'alaikum, Yah." Dewandaru mengucap salam dan menyalami tangan Abyas hormat seperti biasa.
"Wa'alaikum salam, dari mana tidak ada kabar?" tanya Abyas lega "Mah, Ndaru sudah pulang!" seru Abyas.
"Mama, mana Yah?" tahya Dewandaru berusaha tenang.
"Mama di teras belakang." jawab Abyas.
Abyas dan Dewandaru melangkah menuju teras belakang untuk menemui Swasti.
"Berapa hari kamu gak ganti baju?" tahya Abyas.
"Lupa gak bawa ganti Yah." sahut Dewandaru, biasa.
"Assalamu'alaikum Ma," sapa Dewandaru lalu menyalami Swasti, hormat.
"Wa'alaikum salam," sahut Swasti, Swasti memandangi seluruh tubuh Dewandaru, penuh kecurigaan pasalnya bekum pernah sekalipun melihat anaknya datang dalam keadaan kacau seperti sekarang.
"Ma, Yah, maaf tidak bisa ngasih kabar, setelah mandi dan ganti baju Ndaru, kembali ke luar kota lagi," pamit Dewandaru, tergesa-gesa.
"Apa ada masalah yang kamu sembunyikan dari kami?" tebak Abyas, yang paham sekali dengan gelagat putra senjata wayangnya.
"Hanya, membantu teman menyelesaikan tugas kuliah, dua hari lagi juga selesai." sahut Dewandaru berusaha tenang.
"Baiklah, kamu mandi dulu." perintah Swasti.
Dewandaru segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya, yang sedang duduk di teras belakang.
"Ma, seperti ada hal yang Ndaru, sembunyikan Ayah akan mengikutinys nanti kemana dia pergi, Ayah akan pesan taksi karena tidak mungkin ayah mengikutinya menggunakan mobil atau motor milik kita." usul Abyas.
"Ayah, lakukan mana yang terbaik, namun antar mama ke kamar dulu nanti aku suruh Gayatri untuk kembali besok, karena mama benar-benar tidak tenang kali ini." pinta Swasti.
Abyas segera mengantar Swasti menuju ke kamar Swasti, setelah mengantar Swasti ke kamar Abyas segera memesan taksi, hanya dalam waktu lima menit taksi sudah sampai di depan rumah Abyas.
"Ma, aku keluar dulu aku tunggu Ndaru di taksi, jangan jika Ndaru, bertanya bilang Ayah sedang ke bengkel." pesan Abyas sebelum pergi.
Dewandaru di kamar mandi mengguyur seluruh tubuhnya dengan cepat, karena dalam hari dan pikirannya ada Violet yang tidak bisa di tinggal lama, setelah lima belas menit Dewandaru sudah keluar dari kamarnya, Dewandaru mencari Swasti dan Abyas untuk pamitan.
"Ma, Ndaru pergi dulu lusa Ndaru, sudah kembali." pamit Ndaru, mencium dan memeluk Swasti berat.
"Kenapa hand phone-mu tidak bisa di hubungi Nak?" tanya Swasti, lembut.
"Hand phone Ndaru, jatuh dan rusak baru jadi hari ini." Ndaru memberi alasan pada Swasti.
"Jangan lupa, selalu kasih kabar Ayah dan Mama, lihat ayahmu sanhat khawatir." ucap Swasti.
"Ya, maaf, Ma, barusan Ndaru buka, Ndaru tahu Ayah menelpon Ndaru sampai ratusan kali, sekali lagi maafkan Ndaru Ma." ucap Dewandaru."Ayah mana?" Dewandaru, menanyakan keberadaan Abyad yang tudak bersama dengan Swasti.
"Jam segini Ayahmu di bengkel, kasihan Ayah, pontang-panting, mbak Aya masih di kampung." ucap Swasti.
"Sampaikan maaf Ndaru, pada Ayah, Ma, Ndaru pamit dulu sudah di tunggu teman." pamit Dewandaru.
"Jika ada masalah jangan di pendam sendiri, ada mama dan ayah." pesan Swasti pada Dewandaru.
Dewandaru mengangguk tanda setuju, setelah pamit Dewandaru mestater motor CBR-nya dengan kecepatan sedang agar tidak ada yang mencurigai gelagatnya, sayangnya Dewandaru tidak mengetahui jika ayahnya telah mengikutinya dengan menggunakan taksi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Vita Zhao
nah gitu dong abyas ikuti ndaru sampai ketempat tujuan.
thor crazy up nya dong🥰
2022-05-14
2