Taksi yang di tumpangi oleh Abyas terus mengikuti kemanapun Dewandaru mengemudikan motor CBR-nya. Dewandaru sama sekali tidak menyadari jika ada Abyas di dalam taksi yang mengikutinya karena hati dan pikiran Dewandaru tertuju pada Violet, yang telah di tinggalkannya sendirian di rumah tua.
Sebelum menuju hutan tempat Dewandaru menyekap Violet, Dewandaru membeli nasi bungkus di pinggir jalan, ketika Dewandaru sibuk membeli nasi bungkus Abyas segera ganti taksi agar Dewandaru, tidak curiga, kebetulan ada taksi yang sedang parkir di lokasi dekat Abyas berhenti.
"Pak ikuti motor itu." perintah Abyas pada sopir taksi yang baru.
"Baik pak." sahut sopir taksi.
Dewandaru tanpa merasa curiga dia terus melaju menuju desa yang berada di dekat hutan, di saat Dewandaru masuk jalan kecil menuju hutan, taksi yang di tumpangi Abyas tidak bisa terus mengikutinya karena jalan tersebut tidak bisa di lewati oleh mobil. Dewandaru benar-benar tidak curiga jika ada yang mengikutinya, karena jalan yang biasa Dewandaru, lewati barusan merupakan jalan yang biasa di lewati oleh kendaraan umum termasuk taksi, hanya saja dari jalan desa yang besar untuk menuju hutan masih harus lewat jalan setapak dan hanya sepeda motor yang bisa lewat, serta memakan waktu kurang lebih dua puluh menit dengan sepeda motor.
"Pak, kita ke bengkel Swasti." perintah Abyas, setelah Dewandaru, masuk jalan setapak.
"Baik pak." sahut sang sopir taksi.
Abyas terus memikirkan tentang kebohongan Dewandaru, Abyas segera menelpon nomor Dewandaru namun hasilnya sama dengan hari-hari sebelumnya nomor Dewandaru tidak aktif. Selama dalam perjalanan menuju bengkel Abyas, tetap berusaha tenang, Abyas terus berusaha meneloon dan mengirim pesan pada Dewandaru.
Taksi yang di tumpangi oleh Abyas, sampai di bengkel Swasti, Abyas msduk ke dalam bengkel dalam keadaan gusar, memikirkan kemana perginya Dewandaru, barusan dan mimikirkan tentang Violet, yang belum di ketemukan. Abyas duduk di kursi tempat dia biasa berada sambil melihat buku laporan yang ada di atas meja, namun pikirannya malah melayang, tatapannya kosong walau seprti melihat buku tersebut. Ketiga karyawan Abyas melihat dan saling senggol melihat majikannya yang tidak biasa kusut seperti sekarang ini.
"Bos, ada masalah?" tanya Suro, sudah duduk di depannya.
"Sedikit Kang, kamu longgar Kang?" tanya Abyas serius.
"Kalau, bos mau cerita aku, ada waktu, kebetulan anak dan istriku lagi di rumah orang tuaku," ucap Suro yang paham dengan maksud pertanyaan Abyas.
"Kita, keluar sekarang, ada hal yang ingin aku kerjakan di luar, tapi kita sholat Ashar dulu." ajak Abyas.
"Beres, aku mandi dulu." Suro langsung bangkit berdiri meninggalkan Abyas, yang masih kalut dengan masalahnya.
"Dam, Zar, nanti bengkel kalian tutup aku mau ajak kang Suro, keluar, mau ngecek bengkel lainnya." perintah Abyas pada Izar dan Damar.
"Baik, pak." sahut Damar dan Izar bersamaan.
Abyas segera menuju ruang istirahat, di sana biasanya dia dan karyawannya untuk melepas lelah dan juga untuk melaksanakan ibadah. Abyas dan Suro melaksanakan sholat asyar berjamaah, Suro yang menjadi imam, karena Suro di samping lebih tua dari Abyas, juga lebih tahu soal ilmu agama.
Setelah melaksanakan sholat ashar Suro dengan di bonceng Abyas dengan sepeda motor supra X milik Suro, menuju sebuah warung lesehan yang tidak ramai dan tentunya setiap pengunjung bisa duduk di sebuah gazebo, antara tamu satu dan tamu lainnya agak bejauhan sambil menikmati segarnya udara sore di pinggir sawah.
"Pasti ada hal berat yang membuatmu mengajakku ke sini." tebak Suro, langsung pada inti, begitu sudah duduk di salah satu gazebo paling, sepi.
"Iya Kang, kita pesan dulu makanan dan minuman." ucap Abyas seperti biasa jika sedang keluar dengan karyawannya.
Mereka memesan makanan ringan, dan minuman.
"Beberapa hari ini, aku lihat kamu seperti memiliki masalah yang berat?" tanya Suro mengawali percakapan.
"Kang Suro jangan kaget, jika Aku cerita." pinta Abyas, gusar.
"Tentang istri-istrimu?" tebak Suro "Maaf jika aku lancang, aku tahu jika kamu menikah lagi dua tahun yang lalu, kamu jangan khawatir hanya aku yang tahu." ucap Suro merasa tidak enak.
"Dari mana kang Suro, tahu?" tanya Abyas terkejut dengan ucapan Suro, barusan.
"Aku tahu, karena pak modin di desa istrimu itu kakak iparku, dan waktu kamu melaksanakan akad, aku ada di sana sedang mengantar kakak ipar, aku sengaja sembunyi agar kamu tidak tahu." jelas Suro secara gamblang.
"Ya, aku memang menikah dua tahun lalu, itupun atas permintaan Swasti, dan sekarang masalahnya adik, istriku hilang diculik orang sudah enpat hari ini, belum di ketahui keberadaannya, di tambah Ndaru, bikin ulah barusan Aku membuntuti Ndaru, dia pamit pergi ke luar kota nyatanya dia malah masuk ke hutan kucing, entah apa yang di lakukan bocah itu." keluh Abyas.
"Aku turut priharin, atas hilangnya adik iparmu, yang aku tahu Ndaru anak yang baik, sebagai orang tua kita harus tetap waspada, sebaiknya kita ke hutan kucing, untuk memastikan?" usul Suro.
"Aku, sendiri dari tadi mikir gitu cuma gak mungkin jika aku pergi sendirian, sebenarnya aku takut jika Ndaru, terlibat dengan penjualan obat-obatan terlarang." ucap Abyas.
"Kita, tidak tahu kalau kita menyelidikinya, sebaiknya besok kita bergerak sendiri dulu." nasehat Suro.
"Ya, rencana aku tidak akan melapor ke polisi, jika kecurigaanku ini belum terbukti, aku berharap semoga Ndaru tidak terlibat kriminal apapun." ucap Abyas gelisah.
"Besok, kita selidiki dulu bagaimana? kita jangan menggunakan motor," usul Suro.
"Aku setuju kang." Abyas menyetujui usulan Suro, untuk menyelidiki keberadaan Dewandaru di hutan kucing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Eka Bundanedinar
kriminal nyulik violet
2022-08-07
0
Vita Zhao
ya kenapa gak langsung ikuti saja ndaru itu pak abyas.
kelamaan nanti ndaru curiga atau malah keburu dibawa pergi sama ndaru si violet.
kak author lebih banyak lagi update dong🥺
2022-05-15
2