Dewandaru, sudah menyelesaiakan pendidikannya, karena kepintarannya Dewandaru bisa menyelesaikan S1 tepat di usia dua puluh satu tahun. Dewandaru memutuskan kembali kerumah setelah menyelesaikan sidang skripsinya sambil menunggu jadwal wisuda kelulusan. Dewandaru sekarang menjadi pemuda yang tampan kas pemuda jawa, kulit sawo matang, rambut sedikit ikal, tinggi seratus tuju puluh, mata lebar, badan padat berisi walau tidak seperti roti sobek enam, karena kedua orang tuanya merupakan asli orang jawa jadi Dewandaru memiliki kulit yang sangat eksotik.
"Assalamu'alaikum Mama!" seru Dewandaru begitu masuk ke dalam rumah, di ruang tengah ada Swasti dan Gayatri yang sedang bersantai menonton acara televisi kesayangannya.
"Wa'alaikum salam, anak Mama tambah ganteng saja!" sahut Swasti haru, mereka berdua berpelukan untuk saling melepas rindu, pasalnya dalam satu tahun ini Dewandaru tidak bisa kembali ke rumah karena jadwal mata kuliah yang padat.
"Mama sangat rindu sekali dengan anak mama ini," puji Swasti.
"Ndaru juga rindu Mama, ayah masih di bengkel?" balas Dewandaru.
"Tentu, jam segini Ayahmu pasti di bengkel, kamu mau menyusul Ayahmu ?" sahut Swasti.
"Capek Ma," sahut Dewandaru " Tahu anaknya pulang bukannya menjemput anaknya malah bekerja terus," gerutu Dewandaru.
"Kalau Ayahmu tidak kerja bagaimana bisa menghidupi kita to Nda Nda, oh ya berapa lama bakal tinggal di rumah, gak cepet balik kan?" tanya Swasti ingin memastikan lagi.
"Kurang lebih sebulan di rumah Ma, aku masih kangen Mama dan ayah." sahut Dewandaru, menggelayut manja pada Swasti.
"Baiklah, biar cuma sebulan minimal ada waktu sedikit panjang."
"Mama masak apa tadi?" tanya Dewandaru.
"Mama ya jelas gak masak Nda, Nda, yang masak yo mesti mbak Aya." sahut Swasti.
"Eh sampai lupa belum nyapa mbak Aya, bagaimana kabarnya mbak? Sehat kan?" sapa Dewandaru.
"Alhamdulillah, sehat to mas, setahun gak pulang tambah ganteng ae mas, mumpung mas Ndaru di rumah bisa ambil cuti nih." ucap Gayatri.
"Tentu dong mbak, mbak Aya boleh cuti dua minggu seperti yang aku janjikan pada mbak." sahut Dewandaru.
"Kebiasaan, ya sudah mbak Aya, kamu cuti dua minggu, sekali-kali biar Ndaru yang di rumah." ucap Swasti.
"Terima kasih bu, terima kasih mas, lusa saya pulang kampung." ucap Gayatri.
Kepulangan Dewandaru menambah kebahagiaan Swasti, setelah menahan rindu satu tahun akhirnya bisa berkumpul dengan anaknya, Dewandaru dengan telaten menemani dan membanru Swasti dalam melakukan aktifitasnya.
Jam sudah menunjukkan pukul tuju malam, itu artinya Abyas seharusnya sudah berada di rumah, namun hari ini karena jadwal Abyas berada di rumah Widuri maka, Abyas tidak pulang, sebenarnya Abyas ingin juga bersama dengan Putra semata wayangnya namun Swasti melarang dengan alasan demi keadilan sebagai istri.
"Ayah, tidak pulang Ma, susah pukul tuju?" tanya Dewandaru, rebahan di sofa sambil menonton TV bersama dengan Swasti.
"Mama lupa, hari ini ayah pergi ke luar kota, ayah sedang mengecek bengkel yang di sana." sahut Swasti santai.
Dewandaru tahu jika sudah dua tahun ini Abyas membuka cabang bengkel di luar kota.
"Ayah apa sering pergi?" tanya Dewandaru.
"Tidak sering, jika penting saja, kenapa? Ndaru kelihatannya khawatir gitu?" tanya Swasti.
"Entahlah Ma, ehmm ma boleh Ndaru tanya?" tanya Dewandaru tetap fokus ke layar TV
"Tanya saja?" jawab Swasti enteng.
"Apa ayah mempunyai wanita lain? atau Ayah memilik karyawan perempuan?" tanya Dewandaru penuh selidik.
"Ya, tentu tidak ada Nda, Ayahmu kan tipe orang yang sulit jatuh cinta pada wanita, Ayahmu itu tipe suami yang sangat setia pada istrinya dan juga tipe ayah yang patut menjadi panutan untuk kamu." jelas Swasti santai " Kenapa kamu tanya begitu pada mama?" Swasti bertanya balik.
"Ah, enggak semoga felingku salah." ucap Dewandaru.
"Kamu itu kebanyakan nonton sinetron." pungkas Swasti.
"Jam berapa besok ayah pulang?" tanya Dewandaru.
"Sore, biasanya tergantung pekerjaannya selesai jam berapa." jelas Swasti tetap santai.
Dewandaru, Swasti di temani Gayatri menikmati sinetron kesayangannya, ketiganya sangat serius menonton sinetron tersebut.
Abyas menikmati makan malam di rumah Widuri, mereka berempat selalu menikmati makan bersama, kakeknya Widuri sudah semakin membaik kakek Widuri sudah bisa duduk lama di kursi roda. Setelah selesai makan malam mereka berempat bersantai sambil mengobrol di depan televisi.
"Vi, ujiannya bagaimana?" tanya Abutas pada Violet.
"Alhamdulillah sudah selesai Yah," sahut Violet.
Abyas yang meminta Violet agar memanggil Ayah, padanya karena memang pantasnya violet menjadi anaknya, Violet juga sangat senang bisa memanggil ayah pada Abyas. Begitu juga pada Swasti juga memanggil dengan sebutan mama.
"Sudah memutuskan mau kuliah di mana?" tanya Abyas lagi.
"Aku ingin menjadi bidan, agar hidupku lebih berguna." sahut Violet bangga.
"Kenapa tidak dokter saja?" tanya Abyas.
"Menjadi bidan lebih menyenangkan," sahut Violet penuh keyakinan.
"Apapun pilihanmu Ayah, mama dan kakak akan tetap mendukungmu." ucap Abyas.
"Ayah dan kakak, gak mau kasih Vi adik- kah?" tanya Violet.
"Kamu ingin punya adik?" tanya Widuri.
"Tentu!" sahut Violet bersemangat.
"Ben ran? Yakin ?" ganti Abyas yang bertanya.
"Yakin seyakin yakinnya?" sahut Violet penuh semangat
"Alhamdulillah, kamu bakal punya adik kakakmu sudah mengandung sepuluh minggu," sahut Abyas dengan wajah berbinar-binar.
"Alhamdulillah," sahut kakek dan Violet secara bersamaan.
Violet segera memeluk Widuri dan memberi ucapan selamat.
"Mama sudah tahu?" tanya Violet.
"Belum, kami baru tahu tadi siang." sahut Widuri.
"Ayah dan kakak harus segera kasih tahu mama, aku yakin mama pasti sangat bahagia." ucap Violet berbinar-binar.
"Tentu, besok ayah yang akan bicara ke mama, dan kita bertiga tidak bisa memberi kejutan ke mama bersama-sama kalian tahu kan hari ini Ndaru, pulang." ucap Abyas.
"Apa mas Ndaru bakal marah pada kita yah?" tanya Violet denagn air muka khawatir.
"Kamu tenang saja, Vi, semua akan baik-baik saja." sahut Abyas.
"Jujur Vi takut, mas Ndaru salah paham, nanti di kira kakak menjadi pelakor." ucap Violet sedikit cemberut.
"Vi, Vi, kamu itu kebanyakan nonton sinetron, kalau pelakor yang ngamuk pasti bukan anaknya yang ada sang istri yang ngamuk, ini malah kak Asti yang meminta pada mbak dan Ayahmu untuk menikah." jelas Widuri.
"Apa kata mbakmu itu benar Vi, kamu gak usah mendramanisir keadaan begitu kita menikah awalnya juga gak saling cinta, kita berdua karena terpaksa memenuhi permintaan mamamu." sahut Abyas.
"Ya, Vi tahu tapi sekarang sudah ada adik di perut mbak-kan, coba dari dulu punya adik sekarang Vi, pasti sudah bisa ngajak keponakan Vi, jalan-jalan, godain adik, nyuri jajan adik." ucap Violet berseri-seri.
"Vi, Vi, pantasnya kamu itu melahirkan sendiri." gurau Widuri.
"Kayanya lucu ya kak kalau kita sama-sama memiliki anak balita, wes baju gak usha beli tinggal gantian saja kaya aku sama mbak Wid." kelakar Violet.
Mereka berdua tertawa bahagia.
"Kalian hati-hati dengan ucapan, ucapan adalah doa." nasehat kakek.
"Tuh, dengerin kata kakek, Vi," nasehat Abyas membenarkan ucapan kakek.
"Baik kek, baik Yah, sekarang ya gak mungkin dong kek Yah, Vi juga belum menikah betah lima tahun ke depan." pungkas Violet dengan cengiran di mulutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Nia Nara
Lelaki oh lelaki.. secinta2nya sama istri tetep aja ya bisa tidur dengan wanita lain. Prettt
2024-08-28
0