Siska menutup mata, tetap memegang erat tangan Kiri Hanna, juga tangan Kanan oleh Ryan yang dengan bibir gagap yang berusaha menahan ingin buang air kecil. Masih mode menatap Sera yang kembali turun dan menempel pada tengah pohon.
Krekkerek! mencekik leher sendiri.
Siska tak percaya jika Hanna bisa melihat dan mampu berkomunikasi. Pertemanan lamanya baru ia sadari jika Hanna berbeda dan hal itu membuat ia merasakan aura tidak enak. Kala Siska memang tidak bisa melihat, tapi memegang Hanna dengan suhu tangan dan tubuh sangat dingin. Membuat Siska tidak berhenti berdoa membaca ayat kursi, ayat sebisa bisa yang ia hafal dan tidak berhenti kala itu.
Hanna yang memegang kalung sang nenek, harus ia teteskan air mata kala ia takut kehilangan orang yang ia sayangi. Jujur empat tahun silam ia berkomunikasi dan membantu Hantu tak kasat mata membuat ia kehilangan sang mama, satu tahun berikutnya sang papa meninggal dunia. Juga adiknya yang masih tk harus mengenaskan hanyut di sungai karena sebuah penculikan.
Hanna sudah melihat jiwanya berpegang tangan pada kedua temannya. Sosok raga Hanna kini harus melepaskan kaitan tangan makhluk hitam yang mengikat dengan rambut, bulu kuduk hitam, mengerikan itu.
'Aku bisa bantu jika kamu lepaskan temanku. Dia tidak bersalah! saya minta maaf atas nama teman saya yang sudah lancang dalam bersikap. Kami mohon! saya berjanji akan mencari potongan kuku yang terbang pada angin dan menempelkannya lagi.' ujar Hanna.
'Pastikan ketemu, jika tidak maka nyawa temanmu dan kalian terancam. Jangan berulah di rumah yang bukan milik kalian. Bagi penghuni kami yang telah ribuan tahun, kami adalah sosok penunggu yang asri ingin kedamaian. Tapi karena kalian kami terusik!' ujar sosok hitam besar itu.
Hingga beberapa saat angin tebal, membuat Hanna membuka mata. Dan Hanna sudah melihat Sera siuman, Siska dan Ryan ikut membantu dan memberikan sebuah minuman.
"Perlahan kita cari potongan kukunya Ryan! bagi dia itu kukunya yang sudah bersemayam ratusan tahun, tapi bagi manusia hanya bongkahan kayu pohon atah remah serbuk kayu."
"Ba-baik Hanna. Gue minta maaf! gue bakal jaga sikap deh janji." ujar Ryan.
Beberapa puluh menit Hanna ikut mencari, sementara Siska menenangkan Sera yang masih terlihat syok.
Ryan menutupi wajah dengan telapak tangannya. Saat dia mengintip sedikit di sela jarinya, tampak makhluk itu masih dengan tatapan tajamnya menatap Ryan.
"Lo tahu, di dalam hutan ini sangat tidak aman. Tiga makhluk besar berbulu dengan aura celaka tengah memantau kita." Hanna menjelaskan serius pada Ryan yang ikut mencari.
"Tunggu! Di belakang pohon ujung itu, sudah tidak ada siapa siapa lagi kan? Di mana pocong tadi itu, Hanna?" tanya Ryan menoleh pada Hanna, berusaha menunjuk makhluk seram yang mereka lihat saat ini.
"Mereka hilang. Saat pohon bergoyang terpaan angin, cepat kita harus segera ketemu. Kasian Sera dan Siska karena mereka hanya bingung dengan ketakutan. Sementara lo, bisa lihat tapi ga bisa jaga sikap." cetus Hanna sebal.
Masing masing saling menatap. Tanpa pikir panjang, semuanya langsung beranjak dari koridor menuju halaman hutan lain. Langkah Ryan terhenti, sesaat dia mendengar suara minta tolong lagi. Tepat di bawah pohon kapuk, tapi Hanna berusaha fokus tetap mencari kuku yang dimaksud mahluk hitam tinggi besar, sekilas mirip genderuwo raksasa.
"Hanna, ini dia ketemu." senyum Ryan menoleh.
"Ryan .. ?"
Hanna sontak berteriak, setelah dia mendongak. Terlihat Ryan tengah tergantung di dahan pohon kapuk sekitar lima meter dari permukaan tanah. Lalu Siska dan Sera ikut beringsut terdiam ketakutan.
"Ryan, cepet pasang. Fokus indra penglihatan lo. Ucapkan permintaan maaf tulus lo!" teriak Hanna dari bawah.
Tangan Ryan diselipkan di antara tali yang melilit lehernya. Kakinya tergantung, tangannya ditahan sebagai sekat agar lehernya tidak ikut tercekik oleh akar pohon yang manusia lihat. Tapi bagi Hanna dan Ryan itu adalah bulu kuduk genderuwo yang menyapa ingin meminta kukunya di pasangkan.
Hanna terus meminta pertolongan pada sosok Hantu yang telah lama tertidur dan tak ingin ia meminta bantuan. Tapi karena ulah kejadian ini, mau tidak mau akan ada banyak hantu tak kasat mata yang akan meminta bantuannya.
'Anna! mbak Anna bantu aku!' ucap Hanna yang memegang kalungnya.
Membuat tatapan Siska dan Sera melirik Hanna yang memanggil mbak Anna.
"Hanna kenapa Siska, kok dia pa-nggil mbak an-na?" tanya Sera ketakutan.
"Gue jujur ga tahu, kalau Hanna bisa berkomunikasi. Tapi kita bantu doa ya, biar kita cepet keluar dari tengah hutan ini!" berlinang air mata ketakutan Siska menatap Sera.
Wuuush! Wuuush.
Sebuah angin terpental membuat Ryan turun bagai di lepeh dari dasar langit ke belahan bumi.
Aargh!! merasa sakit punggung Ryan. Dan Hanna menolongnya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
goplek
keren sekali bisa bebicara batin
2022-06-27
0
Maya
pada mingkem tau hanna indigo super
2022-06-27
0
Caca tgkr
serem bisa terbang cekek sendiri😣
2022-06-20
0