Seminggu setelah kejadian itu, Ryan sudah bisa beraktivitas seperti hari hari biasanya. Hari ini dia begitu semangat, sebab bisa masuk kuliah untuk pertama kalinya lagi setelah dia tersesat di alam astral beberapa waktu lalu, ia tak bisa pulang setelah mengikuti Hanna pulang. Hal itu membuat Ryan jatuh sakit tak wajar.
"Tono." panggil Ryan, bersamaan dengan Siska.
"Tono. Bawain ransel gue dong!" Suara Siska menyela ucapan Ryan.
"Ah elah. Mentang mentang perempuan dah. Sini!" gerutu, tak ikhlas membawakan ransel Siska. Sementara Siska hanya bisa cekikikan melihat wajah Ryan yang ditekuk seperti jomblo saat malam minggu.
"R-ryan, lu-lu tadi mau pa-panggil gue. A-ada apa?" ucap Tono gagap, sembari pandangannya mengikuti wajah Ryan yang tengah berjalan.
Ryan terus berjalan tanpa berpaling pandang pada Hanna. "Dahlah. Gue udah lupa mau ngomong apa," ucap Ryan nada kesal.
"Udah. Dia tuh lagi bahagia tau nggak. Kan kerupuk udang yang gue bawa, buat dia semua," celetuk Hanna.
Sejenak Hanna menyenggol lengan Siska dengan lengannya sambil mengedipkan sebelah mata.
Mendengar hal itu, sontak senyum Ryan tahu, jika dua perempuan sedang mengejeknya cowo cool yang penakut.
Ryan sendiri sangat suka dengan kerupuk udang. Walaupun harga kerupuk udang di warung hanya dipandang seperti kotoran kuku, tetapi dia lebih memilih untuk menyantap kerupuk udang yang ada pada Hanna.
Bisa saja dia membeli segudang kerupuk udang. Melihat latar belakang keluarganya yang tak beda jauh dengan keluarga ningrat Hanna, jangankan kerupuk udang. Kerupuk paus, kerupuk lohan pun sanggup dia beli.
Pasalnya dia menyukai kerupuk udang milik Nenek Sari, sebab resep kerupuk itu turun temurun dari generasi pertama ningrat mereka. Nenek Sari pun tak menjual ke toko-toko ritel atau toko yang kelasnya setingkat dewa. Itulah sebabnya jika ditawari kerupuk udang Nenek Sari. Ryan seperti orang yang punya jiwa kelaparan karena tak makan selama dua hari lebih sedikit.
"Gi-girang aje lu. It-itu upil lu u-udah nongol," ketus Tono, menunjuk pada wajah Ryan.
Tawa Hanna dan Siska sontak pecah. "Si upil dari lobang hantu," teriak Siska, sambil ngakak.
Ryan yang belum menyadari itu, sontak terkejut sembari tangannya diusap pada hidungnya. Jemarinya dimasukkan ke lubang hidung sambil di gerak-gerakkan agar tak ada yang tersisa.
'Bruk'
Suara keras tubrukan terdengar. Ryan tak menyadari bahwa dia sedang memegang ransel yang bebannya mencapai lima belas kilogram milik Siska dan Hanna hingga lima belas kilogram milik Ryan. Karena kedua tangannya digunakan untuk mengusap hidungya, sontak ransel itu menindih kedua kakinya.
"Aaa!" teriak Ryan. Kakinya diloncat loncatkan kesakitan.
Siska yang ngakak karena upil Ryan, sontak bengek melihat Ryan tertimpa ransel. Perutnya terasa tak kuat lagi menahan tawa, hingga membuat Siska duduk terlentang.
Sementara di samping Hanna, Tono tampak bingung. Ingin ketawa atau kasihan pada Ryan. Karena merasa iba, Tono pun beranjak dari samping Hanna, ke arah Ryan yang tengah kesakitan.
"E-e buset. L-lu nggak apa-apa, Ryan?" Tono menatap Ryan, sembari menggandeng satu tas yang tadi dibawa Ryan tas Siska.
"Ja-jangan ngakak aja l-lu, Sis. Kasihan nih sa-sakit ta-tau kagak," celetuk Tono menatap Siska.
Siska yang sudah merasa tidak enak, ia mencoba menahan cekikikannya. "Iye d-deh i-iya. Gue khilaf sorry," ucap Siska. Lengan kanannya diangkat, sembari lengan kirinya diletakkan di perutnya sambil menahan tawa.
Siska pun bangkit dari duduknya. "Ya udin. Kuy kita berangkat. Pak Yola bakal bogem kita kalo bakal terlambat."
"Jahat lu. Orang lagi kesakitan juga. Malah di ngakakin," celetuk Ryan. Raut wajahnya menahan kesal.
"Iya deh iya maaf Ryan."
Keduanya berdamai. Mereka pun hendak memasuki mobil. Tampak Tono membuka bagasi, lalu meletakkan barang bawaan mereka.
Ryan masuk di barisan kedua kursi mobil, sementara barisan pertama itu ada Hanna dan Jamet sebagai pengemudi dan menatap arah peta oleh Hanna. Siska masih belum masuk, sementara Tono masih dengan sibuknya menata barang di bagasi.
Ryan yang sudah masuk duluan akibat tak tahan menahan sakit kakinya, sontak dikagetkan dengan cekikikan suara perempuan.
"Ehehehihihihii," mewek Ryan mendongak. Tampak dari kaca depan langit langit mobil, Mbak Kunti dengan wajah rusaknya senyum semringah.
"Hihihi," teriak sosok perempuan jelek dari kursi kemudi, di samping Ryan dengan kilatnya tiba tiba nongol.
Hihiiihiihii.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
guntur
kemah yang menyulitkan
2022-07-11
0
Syabmala
kemah kok dibuat skripsi nguji segala hal
2022-06-27
0
Abu Vulkanik
Kemah berujung metong.
2022-06-27
0