HANNA KHAWATIR

"Han, sebenarnya kenapa ya sama Ryan tadi. Kok dia bisa pingsan kaya kesurupan gitu?" tanya Siska.

"Dalam penglihatan nenek, dia diganggu oleh hantu yang sangat jahat. Sepertinya dia dibawa ke alam astral oleh hantu itu tadi, hingga anak muda ini tersesat di alam mereka. Jika dia tidak menemukan jalan keluarnya, berarti dia akan selamanya tersesat dan tak akan kembali lagi," jelas nenek Sari.

"Tapi nek! tadi saya lihat Hanna nolongin saya. Di bilang mimpi tapi nyata." ujar Ryan pelan.

"Jaga sikap ndok! dimanapun berada hargai setiap perkataan jangan bicara yang kasar!" ucap nenek Sari melipat kain, hal itu membuat Ryan menunduk.

Hantu jahat?! Siska semakin bingung. Hingga setelah keadaan membaik, Siska dan teman teman lainnya termasuk Ryan pamit pulang. Dan kembali bertemu lagi di kampus. Mereka berpencar seolah kembali biasa saja.

"Pamit ya Nek! kami pamit. Hanna, gue pamit ya." ucap bergantian, Siska, Tono, Jamet.

"Iy, kalian hati hati dijalan ya!" senyum Hanna.

Langkah kaki Ryan tak henti. Rerimbun pepohonan mengitarinya. Dia bingung, bagaimana ceritanya dia sudah berada di tempat yang begitu asing. Pikirnya dia hanya bermimpi, tetapi pikirannya itu salah seketika dia menampar pipinya sendiri dan merasakan sakit. Seolah hal yang baru saja ia lihat itu benar atau tidak nyata. Atau hanya kehaluannya saja yang sering membaca komik horor.

"Buset. Rasanya, ajaib! Sakit bat dah," ucap Ryan.

Dia terus berjalan, hingga langkah kakinya terhenti di bawah pohon. Ternyata itu adalah pohon asam yang amat besar dan rindang. Karena Ryan indigo penakut, sontak dia melihat kerumunan makhluk halus tengah beraktivitas.

Rasa takutnya seketika menjalar dari kaki sampai ke ubun ubun. Kali ini bukan Mbak Kunti atau teman temannya, melainkan banyak jenis makhluk. Ada yang kepalanya buntung, mukanya rusak, matanya kosong, bahkan ada makhluk yang berjalan hanya kaki saja. Semuanya berbau busuk, sebab di masing masing badan mereka menempel belatung yang asyik menggeliat.

"Emaaak!" teriak Ryan. Kakinya bergetar, tetapi kali ini celananya tak basah.

"Buset dah. Mak, apa ini yang disebut panti asuhan hantu? Pasti pada jadi anak yatim semua nih hantunya." ujar Ryan, berteriak mewek menangis dengan langkah seribu.

Hingga Ryan telah berada dijalur angkot dan keramaian ia kembali tenang. Tanpa sadar ponselnya hilang tak ia temukan, ketika ingin menghubungi Siska yang tidak langsung pulang. Ryan bermaksud ingin menebeng tadinya.

***

Berbeda Dengan Hanna.

"Nek, kok penunggu rumah belakang kita, kenapa ganggu Ryan?" tanya Hanna.

"Mungkin salam kenalan, nenek ga tau. Yang pasti pihak Hantu juga ingin tatakrama dan kesopanan ketika seorang bertamu pada pemilik rumah tuannya. Sehingga sedikit tamparan seperti tadi." jelas nenek Sari dengan entengnya.

"Duh, Hanna salah nih nek. Tadi sempat bicara batin." sesal Hanna.

Sesaat Hanna mengucap kalimat tersebut, satu hantu dengan tangan buntung menghadap ke arah Ryan tadi siang. Matanya merah melotot, bibirnya hitam. Seolah Hanna berusaha membuka komunikasi pertama yang ia langgar, hanya demi seorang Ryan dan menolongnya reflek.

Hantu itu membuka mulutnya dan berteriak, "Tidak sopan!" Dengan suara serak serak basah dan samar samar, membuat semua hantu di situ menatap Ryan dengan mata merah melotot. Kecuali hantu yang matanya kosong.

Pasalnya, tatapan Hanna lihat sosok itu sangatlah tajam dan menyeramkan. Seperti tatapan beraroma membunuh. Hal itu yang membuat Hanna tak ingin lari. Dia takut, jika lari pasti hantu itu akan mengejarnya. Jalan terbaik adalah memegang Ryan dan terjadi pingsan agar bisa menghindar dari masalah sosok tadi yang Hanna lihat.

Saat itu suasana gelap, seperti malam tetapi siang. Sebab langit begitu tidak pasti. Itu yang membuat Hanna merasa asing dengan tempat ini. Rumah kediamannya yang besar, seolah membuat Hanna malas bertanya karena sang nenek bicara jika mereka lebih baik tetap tinggal dan tidak pindah rumah.

"Nek, Hanna mau bilang deh. Jadi kemah nanti kita kepedalaman desa ini. Nenek tau lokasinya ga? terus nenek kali aja tahu, kalau ini berbahaya apa enggak. Soalnya Hanna tadi ragu, sempat bilang ke temen Hanna ngerasa ga sreg aja."

"Coba sini nenek lihat ndok!"

Tatapan nenek Sari kembali bangkit, membuat Hanna kebingungan dan mengikuti sang nenek yang berjalan masuk ke kamarnya.

"Nek! tunggu Hanna! kenapa nenek belum jelasin? nenek tahu lokasi ini?" teriak Hanna lembut.

"Lupakan saja ndok! itu akan membuat kamu menyesal pergi ke daerah itu."

Tbc.

Terpopuler

Comments

guntur

guntur

hanna terlalu baik sama orang yang udah buruk sangka ama dia

2022-07-11

0

Yukity

Yukity

lanjut👍🏻😘

2022-06-27

0

Maya

Maya

hanna baik sekali

2022-06-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!