"Kenapa kamu, Hanna?" ucap Ryan mengerutkan dahinya. Merasa heran dengan kelakuan Hanna dengan kaki ingin berlari terbirit-birit sambil menyipitkan matanya.
"Anu, Ryan ...." Hanna menghentikan langkahnya, mencoba meladeni Ryan Padahal, saat itu matanya terasa perih.
"Anu apa?" Ryan tambah heran.
Hanna menutup wajahnya sebab matanya semakin perih. Kakinya dientak-entakkan. Demi menghormati yang lain, Hanna tak ingin berpaling sampai Ryan tak bertanya lagi.
"Gue. Anu ... anunya diituin. Hm Anu, Ryan!" Hanna tak tahu harus mengucap apalagi. Pikirannya terpaku pada perih matanya. Di tambah sosok tinggi besar yang terlihat barangnya bergelantung dan berbulu lebat menyerupai pohon kapuk. Matanya merah dan cakar cakarnya sangat hitam membuat Hanna menarik nafas. Anehnya Ryan bisa melihat tapi ia tidak diperlihatkan.
"Ha?" Karena mendengar 'anunya diituin' oleh Hanna, sontak membuat Ryan melotot.
Sementara di sekitar hutan, Siska dan Sera tampak tak sabar menunggu Ryan yang begitu lama mengobrol pada Hanna. Siska beberapa kali menggerutu karena Ryan kerlap membuka alat kemah serta duduk di kursi lipat.
"Woy, gimana ini. Kita cewe bertiga, dan cuma lo cowoknya Ryan?"
"Lah trus kenapa? masih bisa gue lawan tiga cewe mah, kuat gue."
Pllaaak!!
"Bisa gak ucapan lo logis Ryan! hutan ini banyak dedemitnya. Mereka juga butuh kenyamanan, sama kaya manusia maunya tentram. Akibat ulah kata kata kotor, perlakuan kotor bikin kita nanti kejebak lebih serius."
"Tau nih si pea! bukannya mikir temen regu kita misah! lihat, Sera dari tadi melipir cari Emil, Mira sama Ratna. Belum lagi kita belum sampai di kemah titik kedua." tambah Siska.
"Ya maaf! gue cuma bercanda. Serius amat sih, hey penunggu. Inget ya, nama gue Ryan Wijaya Kusuma. Jangan aneh aneh bikin kita kenapa kenapa, kalau kita pulang tanpa satu helai rambut aja, lo berhadapan sama nenek gue. Alias nenek moyang gue." teriak Ryan, lalu menepuk satu pohon di sampingnya dan mencongkelnya.
Krek!! "Nih, gue kasih tanda ke kalian semua. Kita udah lewat sini, gue tandain pita merah. eh salah, pita biru." senyum Ryan.
"Ryan! lo ga belajar dari pengalaman ya. Ngapain congkel sembarangan pohon kaya gitu." marah Siska.
"Udah deh, lu bertiga cewe ga usah marah aja. Ayok kita lanjut lagi perjalanannya! biar gue jadi pemandu jalan. Karena gue cowo sendiri." ujar Ryan angkuh.
Hanna hanya diam terpaku, dan meminta Siska serta Sera untuk mengikuti dengan berdoa pada keyakinan masing masing. Karena cuaca hampir gelap, Hanna malas berdebat. Tapi sosok makhluk tinggi itu tidak lepas dari pandangannya. Kakinya bagai sebuah pohon melangkah di indra telinganya, suaranya seram bergema dan hanya Hanna yang mendengar saja. Hanna tetap memegang kalung dari sang nenek, sehingga makhluk itu pergi begitu saja. Dan itu membuat Hanna tenang.
"Hanna, lo ga apa apa? kok keringetan gitu sih. Ada yang aneh ya?"
"Hah, enggak ga apa apa kok. Gue cuma panik aja, karena kita bisa terpisah gini."
"Eh iy Hanna! kok kita ketempat ini lagi, ini kan pohon sama iketan yang Ryan congkel tadi beri tanda pita biru. Kok kita udah empat kalinya begini sih. Huaaaahaaa. Miris kalau kaya gini gue ga sanggup." ujar Siska membuat Ryan dan Sera ikut beringsut.
Hanna menatap tajam pada Ryan dan memegang bahunya. "Eh mau apaan sih lo Hanna! jangan pegang pegang gue lah."
"Cukup Ryan! pohon yang lu congkel itu tangan mahluk berbulu dengan ratusan meter, bahkan kalau lo liat dengan baik. Diatas kepala lo 20 meter itu anunya yang dengan matanya menyala ngeliat loh. Dan lo bukan congkel pohon tapi ujung kukunya lo copot paksa. Bisa lo minta maaf! biar kita cepat sampai. Ini udah mau gelap, kita ketinggalan regu lain!" teriak Hanna dengan mata yang merah, sementara Siska dan Sera sudah menangis dengan sesenggukan diantara panik dan ketakutan.
Benar saja Ryan fokus, ia menoleh dan bibirnya bergerak gerak tak percaya. Sosok itu mengeluarkan mata merah dan taring suara yang sangat menyeramkan.
"Ampun! saya akan lakuin apapun, tolong buka pintunya. Kita harus ke kemah sekarang. Kita tertinggal! maaf saya sudah melukai kuku mbah!" ujar Ryan asal, karena ia bingung harus menyebut makhluk itu apa.
Ryan! minta maaf tidak perlu bicara menawarkan diri. Bodoh lo, bisa jaga ucapan lo gak, lebih masuk akal!! bisik Hanna yang menguatkan bahu Ryan, agar ia fokus berkomunikasi. Sementara Siska menoleh ke arah Sera dengan teriakan panik.
Arrrrraaagh!! "Hanna, tolooong!" teriak suara Sera sebelum menempelkan tangan ke lehernya.
Siska, Hanna dan Ryan menoleh ke arah Sera yang sudah terbang dan mencekik lehernya sendiri. Sementara Hanna kembali memegang kalung dari sang nenek dan memejamkan mata.
"Kalian fokus, tetap pegangan tangan. Tahan tangan gue kalau gue mau terbang, gue minta doa ikhlas kalian dan jangan berhenti sebelum gue membuka mata!" ujar Hanna, membuat Siska dan Ryan terkejut dan menurut.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
RIMA
ketika gugup mau jelasin berubah anu😆
2022-06-20
0
beru
main congkel aja sih.
2022-06-20
1
Caca tgkr
gugup ampe bilang anu si hanna 😆
2022-06-20
1