PENGLARIS MBAK KUNTI

"Nih minumnya! di minum dulu aja, kenapa emang kok bisa keringat dingin begitu?"

"Han, lo percaya ga kalau gue ngomong sesuatu?" tanya Ryan.

"Hanna, jangan panggil gue lagi Han, terlalu singkat nanti sama kaya manggil Hantu lagi."

"Nah kan, itu tuh! Hantu, gue habis lihat di toilet kampus." jelas Ryan, membuat tatapan diam Hanna.

"Trus, kalau emang ada. Gue harus jawab apa emangnya? setiap makhluk emang selalu ada dimanapun." jelas Hanna dengan santai.

"Duh, udah ga usah bahas lagi deh. Gue laper, tuh anak anak pada dateng." ujar Ryan yang menghentikan.

Hanna hanya menggeleng kepala, karena Ryan sosok pria cool ternyata takut Hantu dan sangat penakut. Dia yang memulai bicara soal Hantu, tapi dia juga yang meminta diam tidak bicara Hantu lagi.

"Kalian udah sampe, eh iya. Di kampus kita ada rumah makan baru loh. Keliatannya enak, malah tau gak. Tadinya kita mau pesen tapi antrinya rame deh. Ryan, Hanna ikut yuks! kita sengaja kemari sekaligus ajak kalian. Di tambah soal camping. Gue ada ide." ujar Siska.

"Wah, pas banget sih. Gue juga laper." ucap Ryan lebih semangat.

Tak lama mereka sampai di rumah makan ayam geprek Yon Yon. Lalu mereka masuk ke dalam hingga mereka mencari meja dan bangku yang kosong.

"Ayam geprek porsi jumbonya tiga bungkus, Yah. Sama satu minuman americano cappuchino dikit gula. Jan pake lama, tapi hati-hati yah, Mas. Jan ngebut-ngebut." Siska berucap cepat dan girang, lalu mematikan ponselnya.

Tapi Hanna menatap Ryan yang sedikit pucat, setelah ia duduk di sebelah Siska.

"Hanna, lo ngapain di situ. Ga mau pesen?" tanya Siska.

"Gue ga laper deh Sis, gue udah bawa bekel juga dari nenek." balas Hanna, ia terdiam dan seolah ingin pergi dari rumah makan itu.

Hanna memperhatikan sosok mbak kunti yang sangat besar, mengelilingi beberapa pengunjung yang sedang antri. Sehingga Hanna melihat sebelah rumah makan sunda yang terlihat sepi dan itu tertutupi oleh kain mbak kunti.

'Astagfirullah! seperti inikah dunia usaha dengan cara yang tidak baik.' batin Hanna.

'Dia juga sama sepertimu. Dia adalah manusia yang tersesat di alam ini. Mereka memeliharaku demi sebuah duniawi.' bisik mbak kunti pada telinga Hanna. Tapi Hanna tetap fokus seolah tidak mendengar mbak kunti berbicara padanya yang memutarinya.

'Aku tahu kamu melihatku kan. Hihihiiii, Hannaaa ...' suara bergema mbak kunti memanggil.

"Hanna, lo kenapa sih. Kok diem aja?" teriak Siska, membuat Hanna sadar.

"Gue ada perlu sebentar, gue cabut duluan ya!" ujar Hanna.

Sehingga kala itu Ryan yang melihat diam pucat ingin mengompol. Ia berteriak "Hanna, gue ikut!" Ryan mengejar Hanna, karena tidak sanggup melihat kunti yang tiba tiba memutar meja makan pengunjung.

"Dih aneh tuh dua anak, kok jadi deket sih mereka," lirik Siska pada Tono, dan Jamet yang sudah melahap ayam geprek.

"Waduh. Gue kek berasa di pilem pilem dong, buset rame bener ya, enak lagi nih ayam." girang Jamet. Dia lupa bahwa nyawanya sedang dalam masalah setelah makan dengan rambut mbak kunti, yang tidak terlihat.

"Hanna, kenapa lo kabur tadi? Ryan mengejar.

"Ga kenaapa kenapa gue, gue cuma mau mampir di rumah makan sunda aja. Laper gue, dan kelihatan ini aman aja buat gue makan."

"Tadi lo bilang bawa bekel, gue ikut deh. Tapi jujur sama gue. Lo lihat kan Hantu di rumah makan tadi?" tajam Ryan.

"Jangan dibahas lagi, gue laper Ryan. Gue yakin lo udah tau, dan gimana rasanya kalau mau makan ada sesuatu yang bikin ga enak diliat."

"True, ga nafsu makan. Pastinya, bu haji. Pesen makan sama kaya pesenan mbak ini ya." ucap Ryan melirik Hanna.

Setelah beberapa jam mereka makan, Siska dan Jamet serta Tono datang menghampiri.

"Dih, malah pacaran. Lo malah diem diem makan disini sih? jahat lo berdua." ucap Siska.

"Enggak, gue lagi pengen makanan sunda aja. Udah selesai juga nih kita, mau cabut tugas dimana jadinya?" ucap Hanna.

"Perpus ajalah." jawab Siska.

"Kalian tunggu sini ya! gue mau bayar dulu ke kasir." ucap Hanna, dan Ryan mengekor.

Tak lama saat mereka membayar, Hanna dan Ryan melihat sesuatu. Sosok itu seketika melangkahkan kakinya. Raut wajahnya seperti kebingungan. Sesaat mata Ryan bertemu tatap dengan sosok itu, sontak Ryan cengengesan. Pandangannya dipalingkan ke Hanna.

"Buset! Cewek, Han, cewek," ucap Ryan padahal takut, tapi ia gengsi karena banyak teman temannya dibelakangnya.

"Lalu?" tanggap Hanna.

"Bagus tuh ajakin *** ***. Mumpung sepi diujung, awokwow." Ryan bergurau.

Wanita itu sontak terlihat melangkahkan kakinya menuju Ryan.

"Aku melihat setan yang paling jahat di sini," tegas bisik Hanna.

"Eh buju buset. Jangan nakutin gitu napa. Bakal ngompol lagi gue nih." Ryan menoleh kiri kanan dan belakang. Waspada pada hantu yang dimaksud Hanna.

"Haaah .. Ngompol? Hantunya ada di samping kirimu. Diam jangan takut!" ujar Hanna, menatap Ryan. Sambil memberikan dua lembar uang hijau pada pemilik warung sunda yang sedikit kebingungan, kala melihat Ryan keluar keringat banyak.

"Temannya kenapa dek?" tanya ibu warung.

"Lagi sakit bu. Biasa, menceereeet dia." balas Hanna, lalu pamit. Ryan ikut lebih dulu ngacir.

Tbc.

Terpopuler

Comments

guntur

guntur

nah kan serem amat pas makan kaya gitu.

2022-07-11

0

Maya

Maya

mual mual capek jadi indigo mau makan aja pasti ribet. dah masak aja lah sendiri

2022-06-27

0

Soima

Soima

nah ini kisah nyata bener ada kok kaya gini

2022-06-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!