"Duh nih rumah gini amat lokasinya sih?" ujar Ryan.
"Iy mau gimana lagi, Hanna kan tinggal sama neneknya. Dia bertahan karena neneknya ga mau pindah."
"Iy sih, lagian lo kenapa sih Ryan. Kayaknya ga suka amat sekelompok sama Hanna, bukannya tugas kemah kita dua minggu lagi karena perintah dosen yang bagi regu." ujar Jamet.
"Iy nih, lagian ada masalah apa sih lo sama Hanna, Jangan bilang masalah hati terpendam ditolak ya?" ungkap Siska.
"Ya enggaklah! udahlah, gue ga mau bahas lagi. Lo semakin runyam aja bikin ga mood. Ok! gue cuma ga suka sama Hanna tuh aneh, dan bakal repotin kita nanti di kemah. Pertama dia sering pingsan, kedua gajelas diem kaya orang kesurupan dan ditolong malah teriak pergi lari gitu aja. Apa namanya kalau bukan cewe aneh." kesal Ryan.
"Tau dari mana lo Ryan, kalau Hanna kaya gitu. Bukannya pingsan dia baru ditemuin kemarin dan sekali doang ya di kampus belakang?" tanya Jamet.
"Udah udah! kalau mau komplen regu kelompok ke dosen. Kita kesini biar kompak mau teliti tugas kita buat skripsi. Ga usah bahas lagi!" ucap Siska.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Hanna dan kawan kawan tampak seperti biasa mereka mengerjakan tugas. Design, dan peta dibuat oleh Ryan dan Siska yang memandu. Membuat pikiran Hanna semakin aneh dengan lokasi tujuan yang mereka tunjuk.
"Tunggu! boleh gue tahu gak? lokasinya ini ide siapa?" ucap Hanna, sambil menunjuk peta yang dibuat Ryan.
"Ide gue. Kenapa emang?" cetus Ryan, membuat Siska menoel siku tangan agar Ryan bisa jaga sikap.
"Enggak apa apa sih, setau gue. Disana ada hutan misteri, ada rumah misteri yang bisa celakai manusia secara dibuat kesasar. Apa ga ada lokasi lain lagi?" tanya Hanna.
"Udah mepet juga sih Hanna, kita ga bisa cari lokasi baru. Mending kita acc aja ya, lokasi dari Ryan." memohon Siska.
"Ya udah, tapi jangan berpencar dan jangan lakuin aneh aneh ya. Setau gue .."
"Heeh! kita itu mau laksanain tugas kampus, bukan hura hura atau ngemall pohon. Oke!" cetus Ryan, membuat Hanna mengangguk kembali diam.
Beberapa saat kemudian, mereka mengerjakan tugas dengan lancar. Beberapa teman laki laki seolah terlihat malas.
"Woy! Kerjain noh tugas kalian. Udah mulai larut nih," seru Siska, menyela suasana hangat karena Ryan dan Tono tampak sedang tawa cerita.
"I-iya, Sis. Ry-ryan sih nga-ngajak ngakak mulu. Ja-jadi gue terbawa su-suasana dah." gagap Tono.
"Ye, punya gue udah kok," ucap Ryan spontan.
"Lah? Mana coba gue lihat." Sinta menyodorkan tangannya, niatnya ingin meminta tugas Ryan yang katanya sudah selesai.
"Tapi boong .. ong ..ong." tawa Ryan.
'Plak'
Tangan Siska mendarat ke kepala Ryan berulang kali. Raut wajah Ryan antara puas membohongi Siska atau menahan sakit sebab hantaman Siska yang benar benar kuat.
"Jan maen-maen lu. Orang serius juga," ketus Siska.
"Ma-mampus lu!" ujar Jamet menatap Ryan, yang mengelus pipi dan rambut.
"Aduh. Husttt! Diem lu." Ryan menyela ucapan Jamet.
"Sakit? Mampus lu! Kerjain tuh tugas lu. Sok-sokan bikin jengkel cewe kaya gue, tapi kelakuan kek cacing kremi. Gue bilangin kek bapak lu ntar, mampus." Siska berucap tegas dan mengancam. Pasalnya Siska dan Ryan teman dekat dan bertetangga sejak kecil.
"Iya deh auto kerjain nih," ucap Ryan. Raut wajahnya antara kesal dan menyesal.
"Kalo bergaul itu, boleh bercanda. Cuman jangan sampai kelewatan. Kalo serius jangan bercanda, kalo bercanda jangan terlalu serius. Itu adalah pedoman dalam kumpul berkumpul." Dari sofa itu nenek Sari masuk dalam perbincangan mereka, sembari matanya masih saja terpaku pada teko antik.
"Iya nek!" serentak semua teman Hanna.
"Na-nah ini nih ke-kerjaannya si Ryan. Maafkan kami ya Nek." ucap Tono, pada nenek Sari.
"Diem lu! Kek lu nggak pernah aja," bisik Ryan kepada Tono si gagap.
Suasana menjadi sedikit serius, setelah hal tersebut terjadi. Jari Ryan mulai lihai menekan keyboard, sedang Jamet sibuk mencatat dan membaca buku pedoman yang dipinjamnya pagi tadi di perpustakaan.
"Nah gini nih. Enak kalo tugasnya diselesain dari awal. Kan bisa leha leha. Lihatlah kalian berdua yang masih dipermainkan oleh tugas, awokwow," ucap Siska mengejek Jamet, Ryan dan Tono.
Pasalnya Hanna dan Siska sudah selesai mereka mengerjakan bahan tugas esok, dan tugas apa saja untuk camping.
Ryan tampak menoleh ke arah meja. Remah makanan ringan begitu berhamburan, sedang jus mereka tinggal setengah gelas.
"Hanna, masih ada nggak keripik udangnya?" tanya Ryan.
"Masih. Emang buat apa?"
"Gue pengen ngomong sama udangnya buat ngerjain tugas gue," ketus Ryan. Membuat Hanna kembali terdiam.
"Eh bu-buset. Nga-ngaco lu!" potong Tono.
"Lah lagian aneh, pengen gue makan lah. Gitu aja pake ditanya." kesal Ryan pada Hanna.
"Weh gile. Lu bener-bener yah! Nggak tau diri bat dah di rumah orang. Sono, ambil di kulkas. Jan banyak banyak ambilnya!" tambah Jamet menggoda.
"Dahlah. Pokoknya lu besok presentasinya mesti bagus. Soalnya malam ini lu adalah orang terngeselin di dunia. Ingat, kalo ga bagus, gue jambak lu dan gue masukin ke kandang bebek di belakang rumah Hanna." ucap Siska.
"Udah udah kalian jangan ribut, salah gue tadi. Gue minta maaf ya! tar gue ambilin lagi ya! masih ada snack kok. Terus tadi nenek gue sebelum keluar, dia minta kalian makan dulu sebelum pulang." ucap Hanna senyum.
"Wwwaaah. Tq Hanna." ucap Toni dan Jamet di ikuti tatapan Ryan.
Hanna kembali ke dapur, ia kembali merasakan hal aneh. Ketika ia telah merapihkan gelas dan piringnya. Tiba saja Hanna mendongak melihat sejuntai rambut gimbal sampai ke lantai meja makan nya.
"Haaah! kamu siapa?" lirih Hanna, sedikit memejamkan mata. Kakinya kembali kaku, diam tak bergeming.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
guntur
hanna rumahnya serem berarti ya
2022-07-11
0
Yukity
tak lupa Fav dariku👍🏻😘
2022-06-27
0
Maya
temen hana sok bener deh kualat nanti doi
2022-06-27
0