RYAN SYOK

"Lama amat ini yang ambilin keripik, dah lah gue haus, gue ke dapur dulu deh. Sekalian mau pepsi." ucap Ryan.

"Ke pojok kiri, tinggal lurus. Tar juga lo liat kamar mandi, ada Hanna pasti lagi nyiapin makan. Tar gue nyusul bentar lagi." ucap Siska.

Ryan pun melanjutkan langkahnya. Karena begitu serius dan terburu buru, siku Ryan pun menabrak bingkai pintu dapur.

"Aduh! Kucingku belang dua diberi nama Nita. Harta dan tahta dan juga Nita Thalalala!" Ryan berucap spontan, dengan lancar dan bernada.

"Buset, rumah segede gini kok mau sih gelutan sama siku gue," kesal Ryan kembali, sebab jika siku terbentur itu sakitnya sampai ke ujung langit. Sensasi cekot cekot yang diberikannya, seperti anda menjadi buta ijo dengan wajah merah.

Ucapan Ryan sontak membuat kaget wanita cantik, agak tua dengan hijab indahnya memanjang ke bawah. Raut Ryan seketika malu malu saat bertemu tatap dengan wanita itu. Dia adalah nenek Sari masih keturunan ningrat, nenek dari Hanna. Parasnya begitu ayu, kerutannya pun masih sedikit. Padahal usianya sudah kepala enam lebih.

"Ealah, Nak! Kamu buat Nenek kaget saja," seru nenek Sari. Saat itu dia tengah mencuci piring.

"Hehe, Nenek dah pulang. Misi ya Nek, disuruh Hanna ambil makanan di kulkas. Jus nya tadi di luar habis." Ryan mengucap menahan sakit setelah sikunya insecure.

"Monggo, Nak. Nggak usah sungkan," tanggap nenek Sari lembut.

"Iya, Nek." Ryan melanjutkan langkahnya.

Saat ingin beranjak ke kulkas yang jaraknya sekitar lima meter dari tempatnya, sontak pintu yang tertutup rapat seperti ada yang menggedor dari luar. Ryan sontak mulai tak enak hati. Rumah Hanna memang besar. Sudah beredar kabar di sekitar kompleks, bahwa rumah yang dihuni oleh keluarga ningrat itu ada kekuatan mistis.

Ryan pun tak menyalahkan itu, sebab dia pun merasakan apa yang rumor katakan. Sebenarnya rasa ketusnya pada Hanna, hanya ingin membuktikan apakah Hanna sama sepertinya sering melihat hal tak kasat mata.

Saat itu perasaan Ryan sudah tak enak. Ryan pun melanjutkan niatnya untuk mengambil makanan ringan di kulkas. Sementara pandangannya belum berpaling pada nenek Sari yang tiba saja diam, kaku dan pucat. Ryan juga tak melihat Hanna menyiapkan makanan di meja dapur.

"Nek, pulang lewat pintu belakang bukan? Ryan boleh tanya Hanna dimana?"

Pandangan Ryan masih belum berubah. Dia masih memantau nenek Sari yang masih diam saja, seolah mengelap piring terhenti lama seperti kaku bagai es batu.

Ryan terkejut, ketika melihat sang nenek dari pantulan kaca kulkas, matanya merah, mukanya agak hancur dan tubuhnya besar, tampak seperti badan hewan buas. Rautnya seperti ingin mencelakai orang. Ryan merasakan aura jahat dari hantu itu. Ryan yang memang sering melihat Hantu, ia memejamkan mata, masih sama dan menoleh kebelakang masih punggung nenek Sari yang normal. Tapi melihat kaca kulkas, sosok nenek Sari berubah seram. Ryan pun segera lari ke teman temannya.

"Udah selesai belum, pulang yuk!" teriak Ryan.

"Loh kenapa, ga makan dulu. Udah disiapin loh. Tuh kan nenek gue baru pulang." senyum Hanna kembali menuju pintu utama.

Tapi Siska, Tono dan Jamet seolah aneh melihat aksi Ryan.

"Mmm-nenek baru sampe?" Ryan mengucap dengan kaki gemetar. Raut wajahnya tak teratur. Tampaknya dia begitu tertekan.

"Ryan? Kamu kenapa, Ryan?" ujar nenek Sari sedikit panik.

Bagaimana tidak, saat ini Ryan sangat tertekan, belum lama ia lihat di dapur sang nenek ada. Tapi kali ini nenek Sari nyatanya baru pulang dengan pakaian berbeda.

Ryan melayang jatuh, sang nenek menolong dan meminta Hanna mengambilkan minum. Dan Hanna juga bingung, ia bilang pada Ryan jika pintunya hanya depan utama saja, tidak punya pintu belakang. Saat Ryan baru saja bertanya apa punya pintu belakang dirumahnya.

Saat itu juga Hanna sadar, ia menoleh ke sang nenek. Ia mendongak, menyaksikan hantu berbadan besar sekitar sembilan kaki. Makhluk berbulu lebat itu berjalan menunduk, dengan tatapan tajam dan mematikan. Hanna berusaha memberanikan diri, memegang Ryan karena sosok itu terlihat mendekat ke arah Ryan. Hanna memaksa melangkah, tetapi terseok hingga membuatnya terduduk.

'Pergi! jangan ganggu dia. Mereka teman teman aku.' teriak batin Hanna, membuat seluruh tatapan temannya bingung saat Hanna memejamkan mata, dan memegang tangan Ryan refleks.

Sementara itu, pandangan Ryan masih belum beranjak dari makhluk mengerikan itu. Saat ini dia berada di setengah alam atau antara alam manusia dan alam astral. Hantu itu kini tepat di depan wajahnya. Jarak antara wajah Ryan dan makhluk itu hanya sekitar sepuluh sentimeter. Makhluk itu mencoba memasukkan tangannya ke dalam mulut Ryan, sedang Ryan merasa tubuhnya mati rasa. Akan tetapi sosok wanita bernama Hanna memakai jubah hitam telah menariknya dan Ryan kembali sadar.

"Ryan! lo ga apa apa?" ucap Hanna, kala Ryan sadar. Hanna memberikan minyak angin diberikan kepada Sinta. Agar Sinta memberikannya pada Ryan.

"Gu-gue kenapa. Gue dimana?" ucap Ryan pelan lemas.

"Lo pingsan di dapur." jelas Sinta menatap Hanna.

Tbc.

Terpopuler

Comments

guntur

guntur

ryan ketakutan pasti dia liat mbak kunti😅

2022-07-11

0

Maya

Maya

😆😆 tuman bibir laki model ryan baru gitu aja udah nangis kan

2022-06-27

0

Linda Motia

Linda Motia

Kirain nenek sari dH meninggal taunya jinmneyerupai

2022-06-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!