Menjelang pagi, Ryan dan Hanna sudah membereskan kemah. Terlihat Siska dan Sera sudah bersiap, mereka akan melanjutkan perjalanan.
"Udah beres semua kan? pokoknya jangan ada sampah disekitar bekas semalam. Nanti kita mampir dulu ke danau, mayan buat bersihin diri." ujar Hanna.
Semua menurut, kala itu Ryan berada tepat paling belakang. Meski ia sendiri penakut, tapi berhubung ini adalah pagi. Mau tidak mau Ryan mengawal tiga wanita di depannya itu. Hingga dalam beberapa puluh menit, benar saja mereka bisa melihat pak Yola dan regu lainnya.
Ryan bahagia, sehingga seluruh teman camping menyalaminya dan bersyukur karena ia bisa ditemukan. Termasuk guru mereka pak Yola. "Syukurlah, kami semua disini udah minta bantuan desa loh. Nah sekarang kalian mending cari kamar di temen kalian yang masih kosong! kemah kita di percepat karena kalian hilang. Besok kita kembali!" ujar pak Yola.
"Kamar saya dimana pak?" tanya Ryan.
"Lah kamu kan cowo, cari bantuan sama temen kamu yang lain. Kalau ga salah, kamar satu lagi yang kosong. Dan itu mau di pakai untuk anak perempuan. Hanna! cepat temui regu B, kalian bisa taruh barang kalian dulu!"
"Iy pak."
Hanna kembali dengan lelahnya, satu hal yang ia tapaki alas villa kayu itu. Membuat Hanna konsentrasi dadakan seperti strum dan magnet, seolah dirinya memejamkan mata dan raganya melayang di tempat yang gelap. Saat itu Hanna melihat adegan sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh satu pria di dalam satu ruangan, begitu sadisnya ia mencambik sebuah celurit ke leher balita, ibu hamil dan anak laki laki.
Aarrrrgh!! teriak Hanna.
"Han, lo kenapa? lo lihat lagi ya?" ucap Siska memegang tangan Hanna, saat melangkah naik tangga.
Hanna menelan saliva, ia kembali merapatkan jalannya. Berusaha menoleh ke arah lain yang menatap aneh padanya. Tidak pada Siska, Sera dan Ryan yang sudah tahu.
Ryan sosok pria indigo, tapi jiwanya penakut sehingga ia belum terbuka mendapat ilham seperti Hanna, yang selalu terbawa isyarat atau telepati roh halus untuk meminta bantuan, atau sekedar peringatan tempat ini sangat berbahaya.
"Gue ga apa apa. Mungkin gue capek tadi, gue pasti salah lihat tadi." balas Hanna.
Prook!! Prook.
Oke semuanya! kalian bisa istirahat sore hari ini, kita berkumpul lagi besok pagi! ingat jangan lakuin hal aneh aneh di desa orang ya. Desa ini masih hutan dan asri, mistisnya masih kental. Besok pagi kita bertemu di tempat ini lagi.
Baik pak!! serentak semua balas.
***
Malam Harinya.
Saat hendak menyantap makanan, sontak pintu tampak di dorong dari luar lagi. Ternyata itu Ryan, tengah tersenyum masuk ke area dapur. Ketika lihat Hanna yang sedang duduk. Belum lama tersenyum, raut wajah Ryan sedikit kaget.
"Hanna? Lo udah sadar?" celetuk Ryan.
"Gue ga pingsan, gue tadi cuma ketiduran dan mimpi. Masa gue lihat .." belum Hanna bicara, Ryan sudah terbata kaku melihat sesuatu dibalik punggung Hanna, pasalnya ia sedang keluar dari kamar lantai lain, hanya ke dapur untuk memasak air.
Sontak mata Ryan terbelalak, sesaat melihat Hanna yang masuk dalam ruangan. Bukan karena Ryan, tetapi makhluk yang mengikuti Hanna yang begitu menyeramkan.
'Haa-haa-n-tuu.' degub Ryan.
Ryan menyaksikan makhluk kepala besar dengan tampilan yang hancur. Tubuhnya mungil, tengah bersandar di punggung Hanna. Darah kering tampak menempel di rambut makhluk itu, hingga membuat Ryan yang mengunyah makanan langsung memuntahkannya.
"Ryan, ada apa?" Hanna berucap spontan, karena cemas melihat Ryan yang tampak aneh padanya.
Hanna kembali memegang kalung kuno, lalu menoel Ryan untuk tidak takut.
"Dia penjaga gue! gue yang manggil dia, karena kejadian lo kemarin. Kalau lo masih penakut kaya gini, yang ada lo bakal terus ngompol. Coba biasain buat ga takut Ryan!"
"Mukanya ancur, bentuknya juga Hanna! gimana gue ga takut." Ryan masih mengintip, dan benar saja tak ada Hantu yang pernah ia lihat di dapur Hanna tempo lalu.
"Lihat di ujung sana! perhatikan pintu pagarnya akan rapuh, makhluk lain yang di sekitar pohon asam itu, akan mengusik kalian. Jika mereka berhasil menerobos masuk, maka nyawa kalian akan dalam bahaya." ujar Hantu Anna yang membuat teriakan Ryan tiba tiba mengecil ketika hantu seram tadi, tiba tiba di depannya dan berbicara.
"Wuuuaaahahahaha ... Huhuuu, uwanya Hantu kenapa main nongol aja sih, bisa dong tampilin wajah cantik. Jangan seram bau anyir gitu." ujar Ryan, seketika membuat tamparan pada pipinya sendiri.
"Buset!" Ryan melotot. Sementara Hanna masih dengan posisi menatap Ryan yang dilihatnya tengah berbicara seorang diri.
"Hanna, usahakan kalian dan teman kalian mengitarinya sebanyak tujuh kali. Jangan palingkan pikiran kalian pada makhluk di luar pagar. Terus berlari mengitari pohon saja. Setelah mengitarinya, kalian akan dibukakan pintu menuju dunia manusia selamat."
Ryan pun mengangguk. Dia paham apa yang dijelaskan oleh Hantu itu, yang berbicara pada Hanna. Hanna masih terlihat menatap Ryan, agar ia paham. Karena Ryan satu satunya yang bisa melihat sepertinya, meski hanya bisa melihat dibawah ketek.
"Lu juga ikut kita mbak Kun. Bimbing kita ampe di pohon asam itu, biar tetap selamat jangan bisanya nyuruh aja." ujar Ryan masih dengan mode histeris penakutnya.
"Ti-dak bi-sa. Ji-ka ke-pala pemukiman datang dan saya tidak berada di perbatasan untuk menyambut mereka, maka sa-ya akan dimakan oleh-nya." ucap mbak hantu dengan suara bergema.
"Duh ilah, Hanna. Ribet juga jadi Hantu, ada kepala juga ya. Gue yakin dunia hantu ada mentri dan pak pres, wapresnya ini. Keren bener hantu piaraaan lo." bisik Ryan. Yang di plototi Hanna, agar Ryan tidak asal bicara.
Bruuugh!!
Sontak suara benturan keras terdengar dari luar pemukiman, membuat ucapan Ryan tadi terhenti. Seperti hantaman pohon yang keras atau semacamnya.
"Suara apa itu? Apa ada makhluk lain selain kita di sini, Hanna?" raut wajah Ryan terlihat menerka.
"Gawat, dia datang. Hantu pemakan jiwa," celetuk Hanna. Dia merasakan aura jahat hantu yang dimaksudnya itu.
"Tidak. Penghuni mukim ini muncul, saat langit mulai terang. Saat langit gelap, tidak ada makhluk di sini." tambah Hanna.
"Seriusan, bener nih lo Hanna?" tanya Ryan.
"Aura ini ...." Hanna pun turut merasakannya.
"Gawat Ryan. Jaraknya sekitar seratus meter dari sini. Besok kita harus cepat bergegas pulang, bantu gue bujuk pak Yola biar kita semua udah lewatin tempat kemarin. Karena satu satunya lewatin sana, aman."
"Buset. Oke deh, gue siap?" Ryan menatap Hanna, akan tetapi ia nyengir kuda kala melihat hantu di sebelah Hanna yang melototi dengan lumuran darah.
Uwwwaa Hantu Lo, muncul lagi!! teriak Ryan dengan suara mengecil.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
guntur
serem kali jadi hanna capek
2022-07-11
0
goplek
wah mangsa buat ulah jadi dikejar kejar ya
2022-06-27
0
Moroko olshop
pengen stop baca coz serem, tapi penasaran apa aku tipe model ryan😅
2022-06-20
1