Hanna segera berlari menuju lantai guru, termasuk teman teman lainnya. Tapi!! Wuuush.
Villa kayu itu berubah menjadi kosong dan hening, hanya ada suara teriakan tolong. Dan Hanna serta Ryan tidak bisa melihatnya.
"Hanna, kita dimana?" tanya Ryan.
"Jangan panik Ryan! mau ga mau, karena kita yang bisa lihat alam mereka. Dan karena ulah lo kemarin, teman mereka masih ga tenang dan lo wajib tenang, kuat terbiasa lihat hal hal kaya gini."
"Kok gitu? kali aja temen camping buat salah juga, bukan gue aja yang congkel pohon kemarin." panik Ryan, menoleh ke arah Hanna.
"Karena gue minta bantuan sama hantu Anna! ceritanya panjang, dan dia cuma bisa kasih tahu seberapa besar dunia para hantu ditiap level, sisanya kita yang masih bernyawa yang harus lakuin buat bebasin kita semua dari hutan ini dengan selamat." jelas Hanna.
Sontag hal itu membuat Ryan menutup mata, dan ketakutan, karena sudah berada di tempat tidak nyata.
"Hendak apa kamu datang kemari?" Penunggu pohon berucap pada hantu Anna.
Kali ini tubuh hantu Anna tersedot besar, sepadan dengan hantu pemakan jiwa. Wujud aslinya diperlihatkan. Gigi yang tajam dan besar menyerupai gading gajah, juga wajah rusak seperti habis hangus terbakar api. Matanya merah, dengan pelupuknya yang terlihat rusak.
Ada urusan apa kamu mengganggu urusan saya? ketus hantu pemakan jiwa.
Mengapa kau bertanya balik? Di sini bukan tempatmu! mbak kunti dengan nada tegasnya.
Lalu? Kamu berani menantang saya?!
Saat itu terjadi perdebatan antara penunggu pohon besar dengan hantu mbak kunti. Ryan menatap jelas kala penunggu di rumah Hanna ikut bekemah dan meminta maaf pada penunggu hutan. Sementara itu, Ryan masih terus berlari bersama Hanna, mencari jalan keluar. Hingga napas mereka tersenggal.
"Hanna, ntar dulu. Gue capek," ucap Ryan membungkuk, sembari mendongak pada Hanna.
Hanna pun duduk. "Haah, masih jauh kah itu pohon asamnya?"
"Entah. Kata Ryan, kita terus saja hingga mendapat pohon as--"
Di sela perbincangan mereka, tiba tiba terdengar suara benturan keras, hingga membuat ucapan Ryan terhenti lagi. Seperti hantaman pohon, tapi kali ini lebih besar dari sebelumnya. Hanna bicara agar kembali lari, ketika melihat lubang cahaya maka itu adalah jalan keluar. Sementara mbak kunti menahan penunggu pohon besar yang ingin merangkul Hanna dan Ryan dengan tangan berbulu besarnya.
Di luar pemukiman, tampak kedua hantu itu saling baku hantam. Pepohonan di sekitar ikut porak poranda dibuatnya. Saling adu kekuatan, seperti sapi yang saling beradu tanduk. Hanna pun lengah. Tubuhnya terpental setelah terkena hantaman dari hantu pemakan jiwa.
Aaaaagggh!! Hanna terbang dan terpental ke arah pohon, dari mulut terlihat mengeluarkan darah. Ryan pun dengan kilat menjangkau Hanna.
"Ha? Di mana ini--"
"Hanna, lo baik baik aja kan. Ayo gue papah!"
Seketika Ryan membungkam Hanna, setelah mendengar jejak kaki yang tak asing di telinganya.
'Ini jejak kaki yang dulu gue denger di rumah Hanna,' ucap Ryan dalam hati.
"Hm," gumam Hanna.
"Ssttt!" Ryan menempelkan jari telunjuknya di bibir, berisyarat pada Hanna untuk diam, dan memberikan sapu tangan.
Terdengar endus napas sangat jelas oleh Ryan. Karena penasaran, dia mengintip di celah dinding yang terbuka agak lebar. Benar saja, itu adalah sosok makhluk yang dilihatnya waktu di rumah Hanna, entah kenapa wujud mbak kunti yang sering di panggil Hanna, berubah menjadi makhluk menyeramkan. Seperti menyatu antara kuntilanak dengan genduruwo.
Makhluk itu masih mengendus endus. Semakin lama dia mengendus, pandangannya perlahan ke arah bilik tempat Ryan dan Hanna bersembunyi.
Mata Ryan terbelalak di celah dinding, setelah bertemu tatap dengan makhluk yang disebut hantu pemakan jiwa. Tatapan tajam dengan mata merahnya begitu pekat. Makhluk itu tampak bahagia, sebab dia tahu bahwa apa yang dicari sudah didapatkannya.
Degup jantung Hanna ikut melirik, seketika berdetak cepat. Dia menoleh pada Ryan dan menggenggam tangannya dengan erat, lalu bangkit dan berlari ke arah pintu belakang rumah.
"Hanna, maafkan gue. Dia lihat gue tadi." celetuk Ryan dengan cepat.
"Hantu Anna, alias mbak kunti udah aura negatif. Dia udah ga sejalan dan terus meminta tumbal, karena ngorbanin dirinya demi nahan kita untuk keluar. Sepertinya penunggu pohon itu sengaja ngelepasin kita, karena dia tahu kita bertemu regu lain. Dan semua, kita semua akan mati Ryan." lirih Hanna dengan panik berkeringat.
"Astaga! kita harus cepat cepat keluar dari sini. Kita bantu teman yang lain, sebentar lagi pagi kita akan aman." ujar Ryan.
"Sepertinya! lo benar Ryan."
Ryan membawa Hanna berlari ke rerimbun. Ryan terus berlari, menjauh dari rumah itu. Sekitar seratus meter mereka berlari, tidak ada tanda tanda sesuatu yang mengejar. Ryan pun terhenti, bingung kenapa makhluk itu tak mengejar mereka.
"Kok dia nggak ngejar yah?" Ryan menghadap pada Hanna.
Pandangan Hanna teralihkan pada seseorang agak jauh dari belakang Ryan. Seorang pria botak berbadan ideal dengan jubahnya yang terseret di rerumputan, berjalan di balik pohon menjulang rindang dan berubah menjadi monster raksasa, yakni hantu pemakan jiwa.
Aaaaaakh!! teriak Hanna ketika sebuah tangan besar raksasa dan berbulu hitam, ingin menerkam mereka. Beruntungnya Ryan mendorong Hanna hingga jatuh ke semak semak, dan sebuah karung sampah dedauanan. Entah dari mana Ryan bisa kilat terjatuh atau mungkin refleks.
Aaargh! sakit bodor! ucap Hanna, menyentuh pinggangnya.
"Sory Hanna! gue refleks tadi. Habis bayangan hitam tangan, gue jadi main dorong lo aja deh. Sini gue urut bentar, biar reda sakitnya!"
"Ga usah." ucap Hanna sambil menahan sakit, dan berdiri.
Kukuukuuriiiiiuuk!! suara ayam jantan, membuat Hanna bernafas lega. Pasalnya suara ayam di pagi hari, akan membuatnya aman dari makhluk tak kasat mata, tapi ternyata Hanna salah.
Langit sudah terang. Pandangan Hanna terpaling pada makhluk makhluk yang berjalan ke arah mereka.
"Mereka sudah tiba," ucap Ryan dalam hati.
"Ryaaaan!" Hanna berteriak histeris.
"Kenapa, Hanna?"
"Itu mereka yang di luar pagar! Dari mana mereka?" Hanna berucap dengan nada takut.
Sontak Hanna teringat pada pesan hantu mbak Anna, bahwa tak boleh ada ucapan jika sudah berada di area pohon asam. Yang Ryan tak sadar mendorongnya, sudah sampai terjatuh dibawah pohon asam, dekat karung sampah dan dedaunan.
"Ssttt." Ryan membungkam Hanna. Dia mengisyaratkan diam dengan telunjuknya ditempelkan pada bibir.
Ryan mengangguk, menarik tangan Hanna. Mereka berputar mengitari pohon asam itu. Sementara para makhluk di luar pagar terlihat geram, mencoba masuk ke dalam pagar.
Pada putaran ke enam, terdengar suara retakkan bambu. Terlihat hantu pemakan jiwa dengan tatapan tajamnya mencoba mendobrak pintu.
'Bruk-bruk'
Tatapan Ryan, sontak dipalingkan pada pintu yang hampir terbuka. Lima meter lagi mereka sampai pada putaran ketujuh, sontak Hanna jatuh terkilir. Napasnya tersengal, tak kuat lagi berlari.
Ryan menggendongnya, sementara pikirannya masih terusik oleh pintu yang hampir terbuka. Ryan terus berlari, hingga sekitar dua meter sampai ke putaran ke tujuh, sontak pintu itu terbuka. Pagar roboh, makhluk makhluk dengan raut geram terlihat berlari ke arah mereka.
Mata Hanna terbelalak, saat kakinya ditarik oleh tangan berkuku tajam hingga dia terpelanting. Sementara Ryan terdorong pada batas start mereka berlari. Ryan sudah pada putaran ketujuh, sedang Hanna masih belum mencapainya. Ryan mencoba menggapai tangan Hanna, yang dijulurkan pada tangan Ryan.
"Tarik sedikit lagi! Hanna, bertahan gue ga bakal tinggalin lo! Ayo Hanna, cepat naik!"
"Gue ga kuat Ryan! mending lo pergi aja! cari pintu ada celah cahaya, selamatin yang lain. Sosok yang lo lihat sekarang bukan hantu Anna yang lo liat di dapur gue! tapi dia udah menyatu sama iblis. Dia mau nyawa kita." ujar Hanna yang masih terus berusaha naik.
"Naik!! Aaarggh. Ga sedikitpun, gue ga bakal biarin lo jadi tumbalnya. Ataupun kita semua yang ada di camping, akan pulang dengan selamat!" teriak Ryan dengan sekuat tenaga mengangkat tangan Hanna. Karena posisinya Hanna jatuh menjuntai ke sebuah jurang.
Aaaarrrgh!! teriak Ryan bersamaan dengan Hanna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
guntur
tumbal dikejar. intinya hanna bisa melihat karena arwah itu penasaran. kaya merasa dia iti belum mati
2022-07-11
0
goplek
tumbal siapa nih
2022-06-27
0
cinta ariani
kira kira siapa tumbalnya
2022-06-27
0