Hanna terbangun, entah kenapa ia sadar sudah berada di ruang uks. Tatapan Siska yang khawatir pada Hanna, memberikan minuman hangat dan sebuah minyak angin.
"Lo kenapa Hanna?"
"Gue, gue dimana?" ujar Hanna.
"Ya elah! nih cewe gila lagi, itu yang bikin gue ga suka satu group ama nih cewe dari kelas bawah." ujar Ryan angkuh.
"Cukup Ryan!" pinta Siska.
"Sorry ya, gue ngerepotin kalian ya. Gue ga kenapa kenapa kok, mungkin gue aja yang capek." umpat Hanna, yang baru sadar apa yang ia lihat dan tidak logis jika dipikirkan.
"Anjay Tono bulu ketek. Astaga, bau bat dah. Apa gue ngompol lagi," ucap Jamet, sambil memastikan apakah celananya basah lagi. Sebab jika tegang atau insecure, bau pesing di area sela Jamet pasti tercium. Pertanda dia ngompol. Pandangannya dialihkan ke bawah.
"Ah kagak lah. Mana ada gue ngompol." Pandangan Tono dialihkan lagi ke depan, sembari dia mengendus ngendus. Ada sesuatu yang ga beres dengan penciumannya seperti pesing tapi berbau amis, sehingga Siska dan Hanna menoleh pada pria berisik dibelakangnya.
Hanna mulai merasakan hal aneh, di jendela uks. Terlihat wanita itu lagi dan Hanna berkeringat dingin menutup mata, ia berusaha bicara dengan batinnya. Tidak ingin berurusan dengan mahluk tak kasat mata.
Saat Hanna mengangkat kepalanya, air yang jatuh di kepalanya itu mengalir ke batang hidungnya. Hanna merasakan amis yang benar benar amis. Sontak dia menjulingkan mata, benar saja, air yang mengalir di hidungnya itu berwarna merah kehitam hitaman. Hanna mulai berteriak tidak berbunyi dan melupakan temannya yang melihat Hanna terlihat aneh saat itu.
"Hanna, lo kenapa?" teriak Siska seolah Hanna tak mendengar, dan ia seolah berada di alam lain dan ruangan gelap tanpa teman temannya hadir seperti tadi.
"Astaga!" kejut Hanna. Dia mengusap cairan itu. "Darah?" Kepala Hanna seketika terasa besar, bulu kuduknya mulai meninggi. Ia berteriak dan pergi tanpa memperdulikan temannya yang berteriak memanggil Hanna.
Suasana mulai mencekam. Jalanan benar benar sepi, toko toko dan rumah rumah sudah tertutup. Sedang perjalanan Hanna masih jauh. Lampu jalan itu berkedap kedip.
"Hihihihi." Teriakan itu berasal tepat di atas Hanna.
Sontak Mendongak mendongak, "Aihihihi ... eh aihihihi." Hanna berucap latah.
"Haduh, Mbak Kunti 'ngapain di situ woy, huweee. Nanti jatuh loh. Mending antum terbang aja huweee," histeris Hanna, tak bisa bergerak. Kakinya bergetar hebat kala akar pohon kembali melilit kakinya.
"Hm." Terdengar suara gumam serak basah dari arah samping. Tampak sosok berwajah hancur dengan belatung yang menggeliat. Rambutnya panjang dan perutnya rusak, lidahnya menjulur melilit wajahnya.
"Eeheheh. Ada tetangganya lagi. Jangan gangguin gue terus napa sih. Kenapa bawa bawa wanita punggung tutup botol besar sih." Raut wajah Hanna tampak memprihatinkan.
Saat itu Hanna tak tahu harus berbuat apa. Di atas kepalanya ada Mbak Kunti sedang di samping kanannya ada Mbak tutup botol besar. Sementara keringat mengucur sudah hampir banyak menguasai dan menguras tenaganya. Setiap kali Hanna melihat dan mereka ingin berkomunikasi meminta pertolongan, Hanna menolak dan itu butuh tenaga yang sangat besar bagi seorang indigo.
Hanna pun memperkuat niatnya untuk lari saja dari tempat itu. Dia tak memedulikan Mbak Kunti yang asyik tertawa di atasnya. Sontak saat dia berpaling pandang dari mbak tutup botol besar, mencoba mengambil aba aba ke depan dan lari. Tiba tiba ada sosok yang muncul dekat sekali dengan wajah Hanna.
Wajah sosok itu hancur dan berbau busuk. Tali kafan yang begitu panjang mengikat leher dan atasan kepalanya hingga membuat kepala sosok itu tampak terbentuk. Raut wajahnya tak bisa diterka Hanna. Entah dia sedang tersenyum atau geram. Matanya hilang dan mulutnya juga sedikit hancur. Jadi Hanna begitu bingung, harus menyapanya dengan bagaimana.
"Aaaaakgh!" teriak Hanna.
"Eh ketek bau. Haduh, tetangganya si Mbak Kunti yang satu muncul dah, sueee!" Hanna hanya bisa berteriak mewek. Kakinya bergetar sangat dahsyat. Ingin pingsan, tapi tak bisa.
"Hmmmm...!" Sosok itu bergumam.
"Eheheh iya, Ngkong Polong eh kok Polong sih. Duh nih mulut." Hanna memukul mulutnya yang gugup.
"Pocong!" Sosok itu bersuara serak dan samar.
"Eheh iya, Ngkong Bolong, eh kok Bolong sih!" Hanna salah mengucap lagi. Tangannya mulai lemas dan kakinya tak berhenti bergetar, karena wajah sosok itu hanya itungan lima centi.
"Pocong!" Sosok itu mengulang ucapannya.
"Eheheh iya, Ngkong Potong! Haduh kok Potong sih." Hanna menepuk jidatnya.
"Dahlah, pensi aja jadi pocong!" ucap sosok itu dan langsung mengilang.
Ketegangan Hanna perlahan reda. Pocong itu tiba tiba menghilang dari pandangannya. Namun, masih ada Mbak Kunti yang cengar cengir dan Mpok tutup botol yang tatapannya begitu sinis menyisir rambut gimbalnya. Sementara orang yang dilihatnya tadi duduk di bangku jalan, menghilang.
"Kabur aja dah!" mewek Hanna. Kakinya dilangkahkan sangat cepat.
Hanna kembali berlari, ia bingung kenapa hantu di kampusnya sangat sering mengganggunya. Hingga dimana ia terhenti disebuah taman, cuaca alam sudah kembali nyata tidak remang. Bagai rumah kosong tanpa lampu, kini kembali berada di kediaman Hanna dan saat itu juga Hanna melihat sang nenek sedang menyapu pekarangan rumah.
"Hanna, kamu udah pulang nak? dari kemarin kamu ga pulang. Nginep di rumah Siska lagi?" ujar Nenek Sari.
"Nek, aku ga pulang dari kemarin. Terus kok nenek bilang aku nginep di rumah Siska?"
"Nenek cuma mikir aja, tumben kamu ga kabarin nenek mau nginap di rumah Siska. Tapi untung aja Siska hubungi telepon rumah, emang kapan kemahnya Han?"
Hanna mengambil sapu injuk dari tangan nenek. Hal itu juga membuat Hanna bicara panjang lebar apa yang ia alami dan tidak logis bagi manusia normal yang tidak percaya padanya. Bagi Hanna seorang indigo sejak lahir dari temurun nenek moyang, tidak perlu mengatakan ia seorang indigo. Dan tidak perlu berbicara mereka berbeda, hanya saja penglihatan tak kasat mata harus Hanna jadikan iman yang kuat agar tidak terjerumus semakin jauh.
"Ini kalung pelindung nenek moyang, bagi sebagian orang ini akan terlihat sirik dan tidak bagus. Tapi bagi seorang keluarga berbeda seperti kita, bagai kutukan itu adalah kamu harus kuat dan membantunya Hanna agar lepas dari mata hal aneh." jelas nenek Sari.
"Jadi Hanna harus bantu mereka yang datang, karena mereka tahu kalau Hanna bisa melihat mereka?" ucap Hanna lemas.
"Iya ndok. Shalat ndok! mohon perlindungan sama gusti Allah swt. Manusia lebih tinggi derajatnya, tapi sebagai makhluk kamu harus memilih mata batinmu terbuka, jika Hantu yang kamu tolong bukan hantu jahat. Tapi tersesat." ucap nenek.
Hanna lagi lagi terdiam, ia kembali mendapat telepon dari seseorang. Dan meminta izin sang nenek untuk mengangkat telepon.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
guntur
kan hanna mulai aneh
2022-07-11
0
Maya
pingsan di tempat beda
2022-06-27
0
Koko robi
menyeramkan pohon asem
2022-06-20
0