"Duh jijay deh! mending lo ganti celana lo! hahhahaha semua orang kemah tahu, dan pihak kampus anak anak lain tahu. Kalau lo cowo yang cool akan turun derajat jadi cowo suka ngompol." santuy Jamet.
"Berisik loh! gue kaya gini karena gue ga siap lihat mahluk serem. Kalian ga tahu kan gimana rasanya. Berisik loh b-a-n-g-k-e! gue mau ganti, minggir lo semua." ucap Ryan ngambek.
Pasalnya Ryan digotong banyak orang. Saat Hanna meminta bantuan, kala Ryan di skor mencari kayu bakar. Hingga Hanna merasa bersalah memanggil teman teman dan Hanna tidak tahu jika Ryan mengompol, karena celananya berwarna coklat terang. Sehingga semua anak anak kampus tahu.
"Ryan udah baikan? gue boleh temuin gak?" pinta Hanna pada Jamet.
"Udah tuh, tapi lagi ngambek. Bentar lagi juga keluar orangnya. Sampein dia biar kuat muka tebel. Julukannya udah boy ngompol, bukan boy cool." tawa Jamet meledek, membuat Hanna dan Siska menggeleng kepala.
Hanna pun memanggil Ryan, karena pak Yola sudah memanggil untuk kegiatan camping. Raut wajah Ryan sudah frustasi, meski begitu ada rasa bersalah Hanna yang membuat Ryan kembali di tertawakan.
"Ok! semuanya sudah siap. Kalian hati hati, jaga diri dan jangan berpencar. Terlebih pantangan yang tidak boleh diabaikan. Ingat langgaran dan peraturan yang bapak bilang tadi."
"Siap pak." serentak seluruh mahasiswa dan mahasiswi.
Hari ini tepat kegiatan yang pada umumnya dilaksanakan oleh panitia kemah satu hari sebelum pulang ke kampus lagi. Apalagi jika bukan hiking atau mendaki gunung untuk menyatu dengan alam.
Masing masing dari mahasiswa itu membuat tiga regu. Hanna terpilih di regu pertama, sedang Jamet berada di regu kedua. Wajah Jamet terlihat menggerutu karena berada di regu kedua, tak bersama Hanna. Terlebih Ryan berada di regu pertama. Siska berada di regu ketika dengan tetua Galih.
Siska salah seorang yang mempercayai angka tiga sebagai angka keramat. Baginya angka tiga itu bisa membuat orang bernasib buruk di hari itu juga.
"Telor busuk lah. Gue pengen nomor satu. Entah nasib buruk apa yang bakal terjadi." Siska mengumpat. Matanya memandang Ryan dan Hanna yang saat itu sedang memasang raut mencibir tepat ke arahnya.
"Nomor satu, nomor satu," ucap Ryan tanpa suara. Bibirnya berkecumik mengejek.
Sebelumnya, Siska sempat berselisih dengan Pak Yola karena pemilihan anggota. Itulah sebabnya Ryan merasa menang dari Siska, lalu mengejeknya dengan girang.
"Tunggu aja lu ye!" Siska berucap kembali tanpa suara. Ucapannya ditujukan pada Ryan dengan mata sinis, sembari kepalan tangannya diangkat.
Ryan sontak berbalik. "Eh buju buset. Itu bogem kalo kena gue, auto ada tompel merah nih muka," ucap Ryan, merasa terancam dengan tingkah Siska.
Beberapa menit berlalu. Setelah beberapa penyampaian dituturkan oleh Pak Yola selaku pembina, mereka pun beranjak didahului instruksi.
Seluruh anggota berarak arak, bersorak dengan riang. Seperti halnya pramuka penggalang. Hanya saja kali ini yang bersorak sudah jenggotan semua.
"Eh, mau nyoba yang beda nggak?" Ryan bertutur pada teman lelakinya di sela sorakan para anggota.
Lelaki itu sontak menatap ke arah Ryan.
"Emang lu mau ngapa?"
"Lihat aja yah." Dengan percaya dirinya, Ryan berteriak keras, melebihi sorak sorai anggota grup satu.
"Di sana jomblo, di sini jomblo." Ryan menunjuk ke arah barisan kanan. Saat itu para anggota tampak perlahan meredam suara mereka karena teriakan Ryan.
"Di sono jomblo akuuut." Lalu dia menunjuk ke arah kiri barisan. Posisinya pada saat itu berada di tengah barisan.
"Di mana mana kalian semua jones. Di sana jomblo di sono jomblo, dari semuanya cuma gue yang kagak jones.
'Plak'
Bunyi tepukan mendarat pada pipi Ryan. Hal itu membuat tatapan Ryan pada mata Hanna yang terkesiap tidak baik.
"Ini hutan! bisa ga buat lebih sopan. Ga inget mbak sundel tadi udah nyamperin, gimana kalau nanti dia panggil kawan kawannya." ucap Hanna.
"Duh Hanna! biar ga stres. Gitu aja dibuat serius." terdiam Ryan panik ketakutan.
Hingga kala itu benar saja, setelah mereka berjalan berpuluh puluh kilometer. Hanna, Ryan, Siska dan empat anggota lain regunya tersesat. Siska mencari Mira, Emil dan Ratna tak ada dibelakangnya.
"Sera, kemana Mira, Emil dan Ratna?" tanya Siksa.
"Tuh.. Eh, barusan di sini." ujar Sera, dengan tatapan bingung Hanna menarik nafas.
"Han-Hanna, kok kita udah jalan lama ga sampe sampe ya? kita kesini lagi. Lihat tanda pohon yang tadi gue congkel." ucap Ryan. Sehingga membuat tatapan Hanna dan Siska mendekat.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
guntur
hutan dimanapun angker
2022-07-11
0
berliani
Lanjutkan horornya
2022-06-13
0
manami ntiq
up.lagi
2022-06-13
0