Melihat Hanna terlentang di pangkuan Ryan dari jauh, Siska sontak heran. Ada apa gerangan dengan yang terjadi di sana.
Karena penasaran, Siska langsung berlari. Dia melepas pegangannya pada patok tenda yang hendak ditancapkan kuat kuat.
Sementara itu, Jamet yang berseberangan dengan Siska, tak sadar bahwa Siska telah melepaskan pegangannya. Hal itu pun membuat tenda itu roboh seketika. Padahal tinggal sedikit lagi tenda itu selesai.
"Y-ya-yah," gerutu Jamet. Pandangan kesalnya tertuju pada Siska yang tampak berlari.
"Siska.. woy!" teriak Jamet dengan suara beratnya.
Siska tak berbalik. Dia meneruskan langkahnya ke arah Ryan dan Hanna, yang membuatnya syok dengan mulut berdarah darah.
Uhuuuk!! tangan Ryan terluka bagai sabetan hitam dan memar berdarah beku. Lalu ia melihat Hanna yang masih saja mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Hanna, ayo sadar! kita udah keluar. Angin tadi buat kita ke dasar dunia nyata lagi. Ayo bangun!" ujar Ryan nada panik.
"Gu-gue salut. Lo harus terus kaya gini ya! kita bakal duet lagi selamatin mereka." pingsan Hanna membuat tatapan Ryan termangu diam.
"Kalian darimana aja? kita cari ke kamar kalian ga ada loh. Dan Ryan, Hanna lo kenapa memar berdarah gini sih." ucap Siska yang baru saja mendekat ke arahnya.
Toloooong!! teriak Siska membuat tatapan yang lain ikut mendekat dan bergerumun.
"E-emang yah. Te-temen gue ka-kagak ada yang be-beres. O-oleng semuanye." Jamet dan Tono, mengoceh setelah dia bangkit dari jongkoknya, ia bingung kenapa teman lainnya ikut berhamburan mendekat ke arah Siska.
Sementara itu, kembali pada Hanna yang masih kejang kejang. Ryan masih mencoba menyadarkannya. Namun, usahanya itu gagal walaupun dia berniat untuk menggertak Hanna dengan iming iming ingin menciumnya.
"Go-obolok!" ujar Pak Yola, saat dia mendengar Ryan mengiming imingi Hanna, dengan sebuah ciuman.
"Kamu kira ini main-main. Ayo angkat dia. Bawa ke tenda!" seru Pak Yola dengan nada panik.
Ryan pun langsung menggendong Hanna. Dia mengangkat badan Hanna yang agak bongsor. Langkahnya tertatih tatih, hingga membuat dia tak sanggup menggendongnya.
"Pak? Bantuin napa?" Ryan mendongak setelah dia meletakkan Hanna ke tanah lagi.
Mendengar nada menyeru yang dilontarkan Ryan itu tak sopan, mata Pak Yola melotot marah tak habis pikir. Namun, karena saat itu Pak Yola tengah panik, jadi tidak terlalu berpengaruh pada emosionalnya.
Pak Yola pun menurut dengan ikhlas. Walau, saat itu dia tak terima dengan apa yang barusan saja dilakukan Ryan yang berani songong memerintahnya.
"Ada apa nih, ada apa?" Jamet, Sera datang. Berucap dengan spontan nada penasaran.
"Lagi ngemut gula paga pago," celetuk Ryan.
Plaak!! tamparan pada Siska.
"Ya lagi, dia pake nanya. Ga liat, gue memar memar. Hanna berdarah darah."
"Hanna, lo kenapa tbc?" ucap Jamet dengan tegang, membuat toyoran Siska kembali menghajar.
"Diem lo! mending bantu cariin air hangat, sama kompresan. Kasian Hanna." celetug Siska.
Beberapa puluh menit semua khawatir, terlebih Hanna yang pingsan. Ryan tahu, jika Hanna saat ini mendapat luka dalam. Terlebih jika ia ceritakan, tidak banyak semua yang percaya akan ceritanya saat ini.
"Sebenarnya kenapa ini Ryan?" tanya pak Yola.
"Kecelakaan pak. Yang bapak lihat sendiri. Yang jelas ini bukan ulah manusia, kami semua lebam dan sakit menyeramkan semalaman."
Plaak!! "Kalau ngomong jangan bertele tele, yang jelas! kalau bukan manusia apa? Zombie. Ingat kita sampai sore buat cari data air bersih di desa ini. Sekaligus camping kita berakhir. Atau kamu semalaman menghilang main main sama Hanna ya? astagfirullah. Ini desa orang! kalian berani macam macam. Nanti gancet loh! petaka loh." ucap pak Yola.
"Ya allah bapak. Bapak kalau ngomong tuh jangan kotor terus. Saya dan Hanna ga kaya gitu, yang ada kita pergi nyelamatin semua regu. Aah! susah dijelasin kalau kaya gini mah. Capek, dan mending kasih tahu caranya biar Hanna bisa siuman. Terus kita cabut dari sini sebelum sore! ayo pak! percaya sama saya. Hohohoo." ucap Ryan menahan sakit di tangan, dan menoel tangan sang guru.
"Ga usah toel toel. Bukan sabun colek! ayo semuanya bersiap. Mendata ke desa tetangga! setelah itu cepat berkumpul! kita akan melakukan perjalanan pulang dengan bantuan kepala desa."
"Jangan pak!"
Ryan yang menahan sang guru, benar saja pak Yola tak percaya apa yang ia jelaskan. Sementara Sera dan Siska berusaha menahan, untuk Ryan tenang. Jika mereka percaya apa yang dikatakan oleh Ryan.
"Ryan! seenggaknya udah kasih tahu. Kita selamatin Hanna dulu, biar kita bisa cepat pergi dari tempat ini!" ucap Siska.
"Tapi Hanna ga akan mau tinggal begitu aja, dia berusaha kaya gini karena nyelamatin kalian dan kita semua. Di hutan ini ada hantu pemakan jiwa. Dan ga ada kepala desa yang tinggal di hutan ini! ga ada penghuni manusia di hutan ini!" jelas Ryan, membuat Sera dan Siska merengkut ketakutan.
"Jadi maksud lo? kita bener bener di desa mati. Di hutan yang mati, kemarin pak Desa itu bilang .."
"Dia bukan manusia, dia jelmaan dari hantu penunggu pohon besar. Gue main congkel ternyata itu kukunya, dan semua belum berakhir. Dia menyatu sama hantu anna yang gue lihat di rumah Hanna. Di dapur Hanna yang menjelma jadi nenek Sari. Please! gue ga bisa jelasin banyak, cuma Hanna yang bisa komunikasi. Gue cuma bisa lihat karena Hanna, dan adanya Hanna gue jadi ga penakut." jelas Ryan berteriak, sementara banyak teman mereka yang mendreskriminasi jika Ryan gila, atau caper saat itu.
"Huhuu! Ryan pembohong, pembual!" "Tau nih, caper aja lu!" ujar regu lain.
"Kalian boleh ga percaya! pak Yola juga boleh ga percaya. Tapi satu hal, begitu Hanna sadar, kita bakal ga nolongin kalian. Jika kalian tersesat dan ga percaya sama omongan gue."
Huuuuuuhuuuuu!! sorak semua regu camping. Termasuk pak Yola menggeleng kepala, dan meminta mahasiswa dan mahasiswi lainnya segera menyelesaikan tugas mereka.
Benar saja beberapa saat setelah semua pergi dengan pak Yola.
Siska, Sera dan Ryan sedikit lega, kala Hanna terbatuk dan siuman.
Uhuhuuuk! Uhuuuk!
"Hanna, lo udah sadar. Minum! pelan pelan lo duduknya!" ujar Siska merangkul.
"Gue, gue kenapa. Aah! iya gue ingat. Makasih ya, udah mau nungguin gue."
"Lo pasti masih sakit Hanna."
"Yang lain kemana?" tanya Hanna, setelah minum air dalam gelas yang di sodorkan Siska.
WuuushWuuush!! hembuusan angin lebat, membuat mata mereka kelilipan. Seketika kabut menjulang gempal dan tebal mengelilingi mereka. Padahal mereka dekat, tapi tak melihat.
"Aaah! dimana ini?" teriak Sera.
"Pegangan, jangan berhenti atau melepas. Kita doa sama sama sesuai agama kepercayaan masing masing. Uhuuuk uhuuuk." ucap Hanna, dan Ryan merapatkan saling pegangan.
Tapi Ryan yang terpaku dengan tangan berkuku panjang, ia sudah yakin jika yang ia pegang bukan tangan Hanna.
Uuuuwaaa, siapa lagi ini masih sempetnya nongol di tengah kabut gelap tebal gini sih?! batin Ryan.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Syabmala
hanna dan ryan dapet chemstery nya meski pankut nih cowo. pasti bakal kebiasa kaya hanna yang kuat mentalnya
2022-06-27
1
cinta ariani
hanna kesurupan taunya ryan yang sok mulutnya baik juga gendong hanna.
2022-06-27
0
awkarin lovers
gokil sih ryan gendong terus pake segala minta guru gantian. udah tukang ngompol enggak ada akhlak lu ryan😆
2022-06-20
0