Setelah Ryan merasa takut ketika bukan tangan Hanna, apalagi di saat gelapnya embun. Hal itu membuat mereka berpegangan, dan benar saja dalam beberapa saat hembusan Embun kembali menghilang.
Setelah Mbak Kunti hilang dari pandangan, Hanna dan Ryan sontak tersadar. Dia lupa bahwa waktu sudah larut gelap dan dia masih belum bisa kembali ke jalan.
"Hanna, kenapa tadi terang, terus udah gelap lagi?" tanya Ryan.
"Gue juga ga ngerti! gue harus gimana ya. Hantu penunggu itu, udah ilang. Gue belum ada tanda, tanda kita bisa keluar dari hutan ini."
"Hanna, kita harus cari pak Yola dan regu lainnya. Biar kita semua keluar dari desa mati ini. Hutan penunggu disini benar benar terusik adanya kita."
"Betul itu Siska, yang gue rasain hutan ini damai, tapi karena kita salah camping ke desa ini. Malah jadi petaka, mereka terusik pasti karena ada seseorang yang ganggu. Kalau model Ryan kemarin, udah kelar. Tapi ini beda, pasti diantara peserta camping ada yang melanggar." jelas Hanna, yang merasakan karena batinnya merasa tak beres.
Baru ingin berbalik, tiba tiba Ryan terbelalak saat dia merasakan ada sosok yang menepuk belakangnya. Matanya dipejamkan, perasaannya seketika was was.
"Allahummabariklana. Eh kok Allahummabariklana sih," celetuk Ryan,
Hal itu membuat Hanna menoleh dengan diam. Siska dan Sera hanya kebingungan karena melihat Ryan memejamkan mata, dan Hanna sangat pucat saat itu.
"Ha-Han?"
Suara itu tiba tiba membuat Ryan membuka matanya lagi. Dia berbalik, memastikan tentang pikirannya. Benar saja, itu adalah Mbak kunti bertutup botol besar, wajahnya hancur dan taringnya yang menakutkan. Hanna yang di tengah menggenggam erat bahu Ryan.
"Ah!" umpat Ryan. "Lu bikin gue kaget aja." Ryan menghempaskan tangan Hanna dari bahunya.
"Jangan takut! semakin takut, kita semua ga bisa pergi dari tempat ini. Satu lagi, anggap kita benar benar ga melihatnya!" titah Hanna.
"Lu-lu ngapain ngo-ngobrol sendiri?" celetug Siska kembali menoyor Ryan.
Ryan tertegun sejenak. "Eh dia kagak lihat kan?" batin Ryan sembari matanya bolak balik ke kiri dan ke kanan mencari solusi untuk pertanyaan Siska.
"Dia ga lihat, hanya kita berdua." pelan Hanna berbisik.
"Idih, pake bisik bisik lo pade." celetug Siska pada Ryan, Hanna.
"Kagak. Kagak lah, lu ngarang. Wong gue cuma nyanyi doang. Lagian sih kenapa lu ada di sini? Kan tadi dibelakang Hanna, mana ada gue ngomong sendiri dan bisik bisik." ujar Ryan, yang mematahkan matanya menatap Hanna saat ini.
"Ow gitu. Ki-kirain lu ngomong se-sendiri tadi. Jan kek o-orang gile lu," ucap Siska percaya saja, dengan cuaca kembali dingin bagai di freezer ia berbicara sedikit gagap.
"Ta-tadi gue pen pipis, te-terus habis itu g-gue lihat lu kek o-orang gila tau kagak. Ngo-ngomong sendiri, ngo-ngoceh sendiri. Ba-bahkan l-lu-lu ta-tadi sempat te-teriak. Cu-cuma kagak je-jelas tadi g-gu-gue dengernya. Soalnya ke-kebelet bat." tambah Tono yang ada di samping Sera membuat kaget semuanya.
Aaaaargh! "Tono, sejak kapan ada disini. Perasaan tadi lo ga ada?" teriak Siska.
"Lah, dari tadi gue dibelakang kalian. Lu kenapa gagap tadi Siska? nanya sama Ryan ko gugup?"
"Dih, pede lu. Gue kebelet ini. Tambah dingin banget, gue bener bener ga bisa terus disini. Hanna gimana caranya kita keluar dari sini?" ujar Siska.
"Ah udah lah. Kagak usah dipikirin. Mending lu balik tidur dah. Gue juga mau tidur." Tono menepuk pundak kanan Siska, lalu beranjak ke tempat dia membakar jagung tadi di kemahnya.
"Lu-lu kagak ma-marah la-lagi sama ki-kita kan?" ucap Tono pada seluruh empat temannya.
"Ga marah sih, cuma syok lo kadang ada kadang ga ada." ucap Hanna.
Sementara Ryan ingin merebahkan badannya. Hanna menepuk Ryan, membahas lagi soal kejadian itu. Padahal Ryan sudah melupakannya sejak bertemu Mas Pocong di tepi tebing, dan mbak kunti dengan tutup botol yang menjuntai ke lantai tanah.
"Kita ga aman tidur di sini Ryan! perhatikan baik baik. Itu bukan Tono, gue yakin banget." bisik Hanna ke telinga Ryan, yang kembali bibirnya bergetar ingin menangis.
Sungguh ujiannya Ryan saat ini benar benar gila. Bertemu dedemit, hantu, dan mungkin Jin jelamaan yang menyerupai Tono membuat Ryan sulit bernafas.
"Hanna, gue lemes beud ini."
"Perhatikan dirimu Ryan! kamu bisa melihat mereka sepertiku. Sementara Siska, Sera enggak. Tapi perhatikan baik baik, Tono dia bukan teman kita yang asli. Gue lihat di bagian telinga kanan, setengah rusak hanya saja kealingan rambut keriting." jelas Hanna.
"Sera, Siska mending tidur nunggu pagi. Besok pasti pak Yola dan regu lain kembali datang. Ga usah dipikirin. Mending tidur, bobok bae bae. Esok kita lanjutkan perjalanan dah. Moga aje kita masih diberi kesempatan buat pulang." ucap Ryan.
"Ok deh." balas Siska dan Sera yang telah lelah juga.
Ryan merebahkan badan dengan susunan tangan menjadi sandaran kepalanya, lalu perlahan menutup mata. Ryan berusaha membuat Siska dan Sera tidak panik. Padahal jelas jelas Ryan dan Hanna panik, setengah mati ia mencuri waktu berdiri membelakangi, posisi Tono yang sedang membakar jagung.
Hanna mengedip pada mata Ryan, Ryan berdiri seolah sedang berolahraga, ia senyum ketika Tono meliriknya dengan wajah pucat. Hal itu membuat Hanna berpura pura mengambil teko.
Benar saja, Hanna setengah duduk, kepalanya ia intip dibawah kaki. Benar saja itu bukan Tono yang sedang membakar jagung. Hal itu juga membuat tatapan meleset pada Ryan, agar ia lihat sendiri.
'Aah! kenapa gue juga harus lihat sih Hanna.' batin Ryan, kala Hanna menatapnya dengan kode.
Ryan mau tak mau berpura pura menjatuhkan pulpen, lalu menelingkup kepalanya dibawa kakinya. Dan menoleh pelan pelan, matanya terbuka perlahan dan besar tatapannya membuat ia gugup ingin berteriak tapi Ryan menahannya.
"Po- pocong setengah muka, wuaaah! ini gimana Tono bisa jadi pocong. Hanna." bisik Ryan berteriak tanpa suara, ia bergeser dan saling bicara dengan aneh.
"Jangan panik, alihin Siska dan Sera buat ambil tongkat diam diam, cepat bawa kesini!" ujar Hanna.
"Tongkat! buat apa? huaaa. Oke deh, gue nurut kali ini. Hanna." bisik Ryan.
Tak lama Ryan terkejut dan benar saja ia berpura pura senyum, memanggil Tono. Padahal jelas wajah Tono yang sedang membakar jagung di api unggun. Telah berubah menjadi pocong berwajah setengah dan penuh belatung darah segar.
"Woy! ngapain lo Ryan. Suruh siapa ambil gituan?" tanya Siska yang tak jadi tidur di dalam kemah.
"Sssttt! diem aja lo, pade nurut aja ya!" bisik gagap Ryan, membuat Sera dan Siska kembali takut.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
cinta ariani
gara gara congkel pohon sembarangan jadi berujung ribet di dalam hutan tak bisa pulang ye. keren intinya jaga alam aja sih, taunya yang indigo liatnya kuku mbah genderuwo penunggu hutan di congkel ama si ryan yang mulutnya gila bener kaya cewe. pelajaran buat pendaki, atau kemah jangan sembarangan
2022-06-27
3
sitha arya
kebanyang dong pas nempel tangan bukan tangan temen tapi tangan hantu 😣
2022-06-20
0
momoy lala
tononya poci
2022-06-20
1