Mobil Rafa sudah terparkir di halaman rumah keluarga nya.
"Fa, gak turun?" tanya cessa, gadis itu menggenggam tangan Rafa untuk memberikan suaminya itu kepercayaan diri.
"Jangan pernah pandang Gavin atau pun senyum padanya" ancam Rafa sebelum keluar dari pintu mobil.
Cessa tersenyum kecil mendengar ancaman Rafa, "apaan sih, gue kesini mau ketemu mertua gue, bukan sedang godain orang, lagian gue udah punya suami yang perfect" ucap cessa dengan santainya sebelum menutup pintu mobil.
Rafa mengulum senyum mendengar ucapan Cessa, dia merangkul istrinya menuju pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum mama, papa" Salam Rafa sebelum masuk ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum" ucap Cessa juga.
"Waalaikumsalam" balas Mama dan papa Rafa secara serempak, mereka berdua memang sudah menunggu Rafa dan Cessa dari tadi.
"Mama sama papa apa kabar?" cessa berjalan mendekati kedua orang tua Rafa sambil mencium tangan kedua orang tua Rafa.
"Baik sayang, makasih ya udah mau datang" ucap mama Reta sambil mengelus puncak kepala cessa yang sedang mencium tangannya.
"Sehat pa?" tanya Rafa sebelum mencium kedua tangan ke dua orang tuanya.
"Sehat, lebih sehat ketika melihat kalian, kamu tampak bahagia nak" kata papa sambil menepuk-nepuk pelan bahu Rafa.
"Iya bahagia dong, dapat istri cantik seperti ini" bukan Rafa yang memuji cessa, yang memuji adalah mama Reta.
"Kita makan langsung aja ya, mama udah masak banyak" mama Reta menggandeng lengan menantunya untuk masuk lebih dalam dan menuju ruang makan.
"Iya makan, tapi istri Rafa kok mama culik" kekeh Rafa, dia senang Cessa memperlakukan mamanya dengan sangat baik dan hormat.
"Rafa ihh.. mama kan juga ingin dekat-dekat menantu mama, masak kamu aja yang boleh" gerutu mama Reta.
"udah biarin aja, sejak pagi mama kamu sibuk memikir kan acara makan malam ini, papa sampai capek dengar nya, dia ngomong sendiri dan jawab sendiri" kata papa Ali sambil geleng-geleng kepala.
Rafa tertawa pelan mendengar ucapan papanya.
.
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan, sedang menunggu Gavin untuk turun, sejak tadi pria itu masih terus berada di kamarnya.
"Pada nungguin ya, maaf lama" Suara Gavin langsung membuat suasana yang tadinya hangat dan penuh canda tawa langsung hilang.
"Hai Cessa senang kamu mau makan malam di sini" sapa Gavin, pria itu langsung duduk di sebelah Cessa padahal masih ada kursi kosong di sebelah mamanya.
"Gavin! kenapa kamu duduk disana, duduk dekat mama kamu!" bentak papa Ali.
"Ahh papa ni ganggu aja orang Gavin lagi mau pedekate sama calon istri Gavin" ucap Gavin secara terang-terangan dia mengibarkan bendera perang pada Rafa.
Cessa mengelus lengan Rafa dengan lembut, suaminya itu sejak tadi diam sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
"GAVIN!" bentakan papa Ali membuat Gavin merengut kesal, dia dengan malas berpindah tempat duduk ke sebelah mamanya.
"Papa selalu belain anak papa yang satu itu! papa memang udah gak sayang lagi sama Gavin!" umpat Gavin sambil duduk di kursinya.
"Kamu tau cessa, seharusnya kamu itu menikah denganku bukan dengan dia, aku adalah anak pertama di rumah ini jadi aku yang seharusnya menikah dengan kamu" ucap Gavin panjang lebar tanpa filter.
Cessa menatap mata kedua orang tua Rafa meminta izin bersikap tidak sopan didepan mereka.
"Wahh aku bersyukur ada kejadian yang tidak terduga dan yang menjadi suamiku adalah Rafa, bukan kamu kak Gavin" sindir Cessa.
"Kamu tau semua harta papa akan jatuh ke tanganku kau akan hidup susah dengan anak itu" Gavin berusaha membuat Cessa memandang jelak Rafa.
Cessa memandang suaminya dan tersenyum hangat, dia mengelus lengan suaminya yang masih kaki karena menahan amarah.
"Gak butuh, Mau kakak anak presiden mau kakak anak orang terkaya di dunia, aku gak butuh pria yang hanya menunggu warisan jatuh ke tangannya, aku lebih suka seorang yang pekerjaannya hanya kuli bangunan tapi dia berusaha untuk mendapatkan hasil, bukan sebagai peminta-minta" balas cessa, gadis itu berkali-kali menyindir Gavin yang selalu mengutamakan kekayaan dan title anak pertama.
"Kamu akan menye__"
"Gavin cukup, mama mohon kali ini saja, bisakah kamu mengalah dengan adikmu?" mama Reta yang sejak tadi diam akhirnya berani mengeluarkan suaranya.
"Semua ini karena dia! kalian bersikap seperti ini padaku! seandainya dia tidak lahir pasti kasih sayang kalian hanya padaku! kalian memang tidak pernah menyayangiku!" bentak Gavin pada mamanya.
"Mama sayang dengan mu nak, selama ini adikmu yang selalu mengalah, apa salahnya sekarang kamu yang mengalah, kamu adalah abangnya" lirih mama Reta.
"hahaha mengalah? kapan? itu memang milikku, itu milik ibuku, kau hanya mama tiri ku!"
'Plak' papa Ali menampar putra sulungnya itu, karena akhirnya dia membongkar rahasia keluarganya, ya memang mama Reta bukanlah mama kandung Gavin, karena mama kandung Gavin meninggal karena sakit.
Namun mama Reta sangat menyayangi Gavin seperti putranya sendiri, dia malah lebih mengutamakan kebahagian Gavin dibandingkan kebahagiaan Rafa yang notabene nya adalah anak kandungnya sendiri dari papa Ali.
Rafa melotot menatap Gavin, akhirnya dia tau alasan selama ini Gavin sangat membencinya, karena dia lahir dari mama Reta yang bukan mama kandung Gavin, Gavin cemburu karena perhatian mulai teralih pada Rafa, dia takut dia akan dibuang karena dia hanya anak tiri mama Reta.
"Pergi ke kamarmu sekarang!" perintah papa Ali dengan suara keras.
Gavin menatap tajam Rafa, "Semua ini karena anak tiri sepertimu!" maki Gavin tangannya memegang pipi yang di tampar oleh papa Ali dengan keras.
Suasana terasa hening dan canggung setelah Gavin pergi. yang terdengar hanya is akan kecil dari mama Reta.
Cessa berpindah tempat duduk ke sebelah mama Reta lalu memeluk wanita paruh baya itu.
"Mama jangan sedih dong, Cess kan datang kesini mau senang-senang sama mama dan papa" bujuk cessa, gadis itu menghapus air mata mamanya yang sudah jatuh membasahi pipinya.
"Makasih sayang, jangan pernah tinggalkan Rafa ya nak" ucap mama Reta disela isakannya.
"iya mama cantik, coba liat putra mama sempurna gitu gimana bisa cessa tinggalin" cessa mulai melontarkan lelucon.
Mama Reta mulai tersenyum dan tertawa pelan.
"Sekarang lanjutkan makan kamu sana, mama udah gak apa" ucap mama Reta lembut.
"Fa, mengenai yang Gavin katakan tadi" papa mulai berbicara.
"Lain kali saja pa, Rafa tidak ingin mama tambah sedih, kita lanjutkan makan saja dulu" Rafa mengelak pembicaraan serius dengan papa nya.
"Iya baiklah" pasrah papa Ali.
begitu cessa kembali ke tempat duduknya, cessa sedikit terkejut karena dia merasakan tangan Rafa yang menggenggam tangannya di bawah meja.
"Terima kasih" bisik Rafa.
Cessa tidak menjawab dia hanya tersenyum hangat pada Rafa dan kedua orang tua Rafa.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
Hai semua makasih udah mau baca novel ini.
sebenarnya bonus picture ini pada saat chapter sebelumnya eh ternyata author lupa jadi masukin sekarang aja ya.
cessa yang lagi siap-siap pergi bersama Rafa.
Rafa yang sedang memperhatikan Cessa. (Serius amat perhatikan istrinya bang Rafa 😆😆😆)
ini siapa yang penasaran dengan tampang abang Gavin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Tampan sih,kalo sikapnya agak dewasa akan semakin keren,tapi sayang sifatnya gak banget bikin aku ilfil,,
2023-04-29
0
Qaisaa Nazarudin
Gavin gak dewasa banget 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2023-04-29
0
Qaisaa Nazarudin
Ohh Pantesan Gavin kurang ajar banget dan naik kepala..
2023-04-29
0