Cessa dan Rafa kembali ke kelas mereka masih dengan berangkulan, banyak pasang mata yang melihat kejadian itu, tapi tetap di diamkan oleh Rafa, dia tidak terlalu peduli dengan pandangan orang orang.
Seperti Rafa yang cuek, cessa juga sama cuek nya, gadis itu hanya bersenandung riang menuju kelas.
Ketika mata cessa melihat Revi yang sedang menatapnya dengan horror, cessa malah tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"gue siap buat lo panas" ucap cessa tanpa suara kearah Revi yang menggeram kesal.
Revi tegak dari kursinya dan melangkah menuju meja Rafa, pria itu sudah duduk di kursinya.
"Ehhh nenek sihir masih aja bermimpi" ujar cessa, dia berbicara dengan ponsel yang dia pegang, bermaksud untuk menyindir Revi.
Seolah-olah tidak mendengar Revi hanya diam dan tersenyum manis pada Rafa.
"Fa, orang tua gue pengen ketemu sama orang tua lo, bisa tanyakan gak kapan bisa ketemuan?"
Rafa sedikit mengernyit kan dahinya bingung. "urusan apa?" ucap ketus Rafa.
"Ahhh itu" Revi menggaruk-garuk tengkuk nya yang tidak gatal. "Orang tua gue mau bangun kerjasama dengan orang tua lo" bohong Revi, dia belum ada bertanya apapun pada orang tuanya, Revi hanya bergerak spontan karena Cessa memanas-manasi dirinya berkali-kali.
Revi juga mau menunjukkan bahwa dia juga bisa memonopoli Rafa dengan menggunakan nama orang tua.
"Datang aja ke perusahaan papa, yang punya perusahaan bukan gue, lagi pula perusahaan itu juga tidak akan jadi milik gue" jawab Rafa dengan ketus.
"Hanya tanya saja fa, gue dengar orang tua lo sedang butuh investasi kan? karena AR Corporation menarik dana mereka" desak Revi.
Rafa memang sengaja menarik dana yang dia investasi kan pada perusahaan papanya, karena dia ingin melihat apakah gavin bisa membantu papanya tanpa bantuan dari dirinya.
AR corporation sendiri adalah perusahan milik Rafa yang dia bangun dari nol, hingga hanya dalam waktu 2 tahun sudah menjadi sangat besar.
"Telepon aja ke kantor, gue udah gak tinggal bareng orang tua gue lagi" ucap Rafa.
"loh kok bisa?" Seru Revi tampak terkejut.
"Bukan urusan lo" jawab Rafa ketus.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
Cessa sedang bersiap siap di meja riasnya, gadis itu tampak sangat cantik, tentu saja cessa sengaja seperti itu karena akan bertemu dengan orang tua Rafa.
"Cess, ganti gak bajunya, terus gak usah pakai make up, kita bukan dinner formal, cuma makan malam di rumah aja" Tegur Rafa. Pria itu sejak tadi memperhatikan cessa yang sudah berganti pakaian dan sibuk memakai make up tipis, tapi itu mampu membuat gadis itu terlihat makin cantik.
"Apaan sih fa, gue mau makan malam di rumah lo, ini baju gak formal juga, masak gue harus pakai celana dan switer rajut?" kesal Cessa menanggapi ucapan Rafa.
"Nah kalau yang disebut kan itu lebih cocok, hantu sana" Rafa malah senang dengan gurauan Cessa untuk mengganti bajunya.
"Fa, please gue gak mau terlihat tidak sopan" lirih cessa.
"lu mau goda Gavin ya?" seru Rafa, entah kenapa dia tidak suka cessa terlihat cantik di depan gavin. Dia masih belum menyadari kekesalannya itu karena cemburu.
Cessa menghela nafas panjang, "Gue hapus make up nya aja ya, bajunya tetap ini, gue gak ada niat goda siapapun Fa, gue gak mau di bilang menantu kurang ajar nanti sama kedua orang tuamu, boleh ya".
Rafa hanya mengangguk, dia tidak sampai hati memaksa cessa untuk mengganti bajunya, sebenarnya bajunya juga biasa saja, cessa memekai dress lengan panjang dengan rambut yang di gerai, dan itu sudah membuat Rafa terus memandangi istrinya itu.
"Nah masih nampak make up gue?" Cessa sudah menghapus make up nya dan hanya memakai bedak tabur dan lip balm cherry.
Rafa menghela nafas panjang, dia memberi intruksi agar istrinya mendekat kearahnya.
"Apa lagi? masih marah?" tanya cessa lembut, gadis itu sudah duduk disebelah Rafa dengan wajah sedih.
'Cup' entah, apa yang terjadi pada Rafa, dia langsung menempelkan bibir nya pada bibir cessa secara mendadak, dan ******* bibir gadis itu.
Cessa yang masih syok hanya terdiam terpaku dengan perbuatan Rafa.
"Jangan pernah tersenyum dengan gavin ya" ucap Rafa setelah melepaskan ciumannya dari Cessa.
Cessa masih saja bengong, dia masih belum bisa sadar dari keterkejutan nya.
Rafa merapikan lipstik cessa yang sedikit berantakan dengan jarinya, "Ayo berangkat" ajak Rafa dengan santainya dia tidak tau baru saja membuat anak orang spot jantung gara-gara ulahnya.
Cessa hanya mengangguk dan mengikuti Rafa yang menuntunnya keluar kamar.
.
"Mi, pi, abang king dan prince, Rafa sama cessa izin makan malam di rumah keluarga Rafa ya" Rafa meminta izin pada keluarga cessa yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Ahh iya, Hati-hati ya, bawa kunci cadangan aja, jadi nanti pas bisa pulang tengah malam" ucap papi Harri.
"Dek kamu pakai blush on kok merah banget?" tanya prince dengan bingungnya.
Cessa segera memegang pipinya dengan tangan yang tidak di pegang oleh Rafa, "Apaan sih prince! gue gak ada pakai blush on" kesal cessa.
"Tapi__" ucapan prince terhenti karena mendapatkan pukulan dari maminya, sepertinya mami dona tau apa yang baru saja terjadi dengan anak dan menantunya itu.
"Rafa pamit pergi, assalamu'alaikum" ucap Rafa, tangannya masih setia menarik tangan kecil istrinya menuju mobil miliknya, Rafa memang sengaja menggunakan mobil, karena ini malam hari dan dia tidak diburu waktu.
...🌜☀☀☀☀🌛...
Selama perjalanan Cessa masih diam sambil memegangi kedua pipinya yang terasa panas.
Rafa diam-diam tersenyum senang melihat Cessa yang seperti itu.
Sebenarnya Rafa ingin mengulangi lagi ciuman yang dia lakukan itu, tapi dia tidak mau membuat cessa takut padanya, dia sudah cukup senang cessa tidak menolak ciuman yang dia berikan.
"mama senang banget waktu aku bilang kamu setuju makan malam dengannya" Rafa memulai pembicaraan agar suasana di dalam mobil itu tidak kaku.
Cessa menolehkan wajahnya menatap Rafa, "aku juga senang mama bahagia" jawab gadis itu dengan lembut.
"hmm, fa aku boleh tanya?" kali ini Cessa yang mulai bertanya.
"Apa?" jawab Rafa matanya masih fokus pada jalanan.
"kenapa kamu dan gavin tidak terlihat akur? padahal kamu dan dia adalah saudara" tanya cessa takut-takut.
Mendengar pertanyaan cessa Rafa tersenyum menyakitkan, "aku juga tidak tau, sejak kecil gavin sudah membenciku, dulu waktu aku masih kecil aku selalu berusaha untuk mendekatinya mengajaknya bermain, tapi dia mendorongku memukulku dan mengusir ku dari hadapannya".
Cessa menggenggam sebelah tangan Rafa yang bebas dari stir mobil.
" Jadi bukan karena kamu melakukan kesalahan padanya?"
Rafa menggeleng pelan, dia meremas pelan tangan Cessa yang ada dalam genggamannya, "aku merasa tidak pernah berbuat salah padanya, dia selalu iri dengan kepintaran ku, dia selalu marah setiap mama dan papa memberikan sedikit perhatian padaku, dan aku sudah terbiasa mengalah padanya, kedua orang tua ku juga menganggap hal itu biasa, hingga akhirnya hubungan kami menjadi seperti ini".
"Sekarang aku ada di pihak mu, kita Sekutu, jangan pernah mengalah lagi dengan dia, sudah cukup selama ini kamu mengalah" ucap cessa.
Rafa mengangguk, "kalau aku sedang tidak menyetir sudah aku cium kamu cess" kekeh Rafa.
Wajah cessa langsung bersemu merah karena ucapan Rafa.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
Alejandra
Jadi apa aja perusahaan milik Rafa, King Corporation, AR Corporation,masih ada lagikah...
2023-10-05
0
Qaisaa Nazarudin
Ortu yg gak tegas,menanggap sepele setiap masalah yg pada akhirnya akan menjadi masalah yg besar,Baru mereka akan sadar dan menyesal,,Aku suka sikap Rafa dan Cessa yg saling jujur dan terbuka,,👍🏻👍🏻👍🏻👏🏻👏🏻
2023-04-29
0
Qaisaa Nazarudin
Berhasil bikin PAKSU uring uringan 🤣🤣🤣😜😜
2023-04-29
0