Rafa berjalan kembali, tapi langkah pria itu terhenti karena melihat istrinya berdiri tidak jauh dari tempat dia berdiri.
"Kamu mencuri dengar pembicaraan kami?" tegur Rafa.
Cessa mengangguk pelan, "Maaf, tidak sengaja kedengaran, tadi aku disuruh untuk memanggilmu" gumam pelan gadis itu.
Rafa mengacak puncak kepala istrinya, "Lain kali jangan lakukan itu, mengerti?"
bukannya menjawab Cessa malah menyergitkan keningnya. "Dia menyukaiku? Abang mu?"
"mungkin" jawab singkat Rafa.
"Woi, beruang kutub! bisa gak jawab tu jangan iya, mungkin, hmm, capek tau dengar orang bicara singkat-singkat seperti itu!" gerutu cessa.
“Terus maunya apa?” tanya Rafa dia menghentikan langkahnya dan mendekatkan mukanya pada Cessa.
“A-anu, jawab yang panjangan biar gue ngerti” Cessa dengan cepat mendorong badan Rafa agar berdiri dan menjauhkan mukanya dari wajah cessa, entah kenapa gadis itu langsung gugup melihat wajah Rafa lebih dekat.
“Hmm.. baiklah mau tanya apa?” tanya Rafa dengan tidak bersemangat.
“Abangmu suka denganku?” Cessa Kembali mengulang pertanyaannya.
“Aku tidak tau, yang pastinya pria itu ingin mengambilmu dariku” jawab Rafa dengan kosa kata yang lebih Panjang.
“Dan kamu jawab aku milikmu, apa kau menyukaiku” Cessa mengulumkan senyuman lebar kearah rafa.
‘plak’ Rafa menjentik kening cessa dengan kuat, “Jangan G-R” Rafa berbalik dan berusaha menyembunyikan tawanya.
“haiiisss sakit tau!” pekik cessa sambil mengelus keningnya yang di jentik rafa.
“Makanya jadi orang jangan terlalu narsis” ujar Rafa dengan santai.
“Tenang saja” Cessa menepuk bahu rafa, “kau tidak akan menyesal sudah menikah denganku, aku cantik, sexy dan luar biasa sempurna” ucap cessa dengan tingkat kepercayaan diri yang penuh.
“Itu obat kepercayaan diri seperti itu dari mana dapatnya?” ledek Rafa.
“Ckckck memang suami beruang kutub, gak punya sense dalam melucu” gerutu Cessa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Cepat! Kita dipanggil” Cessa langsung berlalu meninggalkan Rafa yang terkekeh kecil.
...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...
“Akhirnya kalian datang juga” seru mami cessa.
“Alah mam, gak tau aja pengantin baru pastinya pengen berduaan lebih lama” goda Prince.
‘plak’ Dengan santainya Cessa memukul lengan abang kembarnya dan mengabil posisi disebelahnya.
“berisik aja ni pangeran berkuda putih!” balas Cessa sambil menjulurkan lidahnya.
“Udah, kalau kalian tengkar terus mami gak jadi bicara ini” lerai mami Dona, lalu dia menatap wajah menantunya yang tampan tapi minus ekspresi itu. “Nak rafa, mami sama papi boleh minta sesuatu gak sama kamu” lanjut mami dengan suara lembut.
“Minta Apa mi?” balas rafa kali ini dengan senyuman singkat.
Cessa sempat terpukau sesaat, tapi hilang saat wajah Rafa Kembali dengan wajah datarnya.
“Mami ingin cessa dan kamu tinggal di kediaman ini selama setahun, sebenarnya cessa sudah 5 tahun tidak pulang ke rumah ini, jadi mami masih kangen dengan cessa, apa kamu mengizinkan itu?”
Rafa menatap kedua orang tuanya.
“Kalau papa terserah kamu, kamu kan yang menjadi suami, jadi kamu yang berhak memutuskan segala sesuatunya” nasehat papa rafa.
Pandangan Rafa beralih pada Gavin yang berjalan mendekati mereka di ruang keluarga, “Rafa setuju mi, rafa dan cessa akan tinggal disini selama setahun”.
“Apa?!” “Benarkah?” Gavin dan mami Dona sama-sama berucap serentak.
“Kenapa kamu juga berteriak Vin?” tanya papanya.
“A-anu pa, bukannya jika menikah, istri harus mengikuti suami ya?” tanya gavin.
Papa Ali sedikit tersenyum terpaksa, dia tau putra pertamanya itu pasti merencanakan sesuatu, dia sudah melihat gelagat aneh putranya sejak pertama kali melihat cessa, dan Papa ali yakin Gavin memiliki ketertarikan pada Cessa.
“Memang seharusnya istri mengikuti suami, tapi jika suami mengizinkan itu tidak masalah, tidak ada larangannya dalam agama, yang penting suami tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai suami” tegas papa Ali.
“ahh begitu ya” gavin berpura-pura mengangguk pelan.
“sialan” ucap gavin dalam hati.
“Kau pasti ingin mendekati Cessa, tidak akan aku berikan kesempatan!” Batin Rafa.
“Kalau gitu, Rafa pulang dulu mam, rafa akan mengambil barang-barang Rafa untuk tinggal disini” ujar Rafa.
“Ya mami juga setuju” jawab mami dengan senang hati.
“Aku pergi dulu, jangan dirindukan” ledek Rafa sambil mengelus puncak kepala Cessa dengan lembut.
Cessa langsung menepis tangan Rafa, “Jangan ke G-R an tuan Rafa!” ketus Cessa.
Disebelah cessa, prince sudah menganga lebar dengan mata yang melotot lebar, dia tidak percaya Rafa bisa bersikap seperti itu pada seoarang perempuan, bukankan itu langka.
“masuk nyamuk baru tau rasa!” ledek Cessa.
Setelah mendapatkan ledekan dari cessa, Prince baru menormalkan wajahnya, dia Kembali mendekatkan wajahnya pada saudara kembarnya itu.
“Tadi benaran Rafa kan? Bukan kloningan rafa yang lu panggil?” bisik Prince pada saudara kembarnya itu.
“Kembarannya si rafa!” ketus Cessa, gadis itu segera beranjak dari kursinya setalah berpamitan dengan kedua mertuanya dan rafa, dia sama sekali tidak mau menyalami gavin, membiarkan semua mata memandangnya yang berbalik menuju kamar.
“Maafkan sikap Cessa ya, vin” ucap mami dona dengan ramah.
“ohh gak papa mi, mungkin cessa malu” ucap gavin sambil berusaha menunjukkan senyumannya.
...🌜☀☀☀☀🌛...
Selama perjalanan menuju rumah, keluarga rafa hanya diam saja, suasana canggung mulai muncul, karena tidak ada yang mau mengucapkan kata lebih dulu.
“Mama gak suka dengan sikap kamu bang!” suara mama lebih dulu muncul dan menghilangkan suasana canggung antara mereka.
“apa lagi sih ma?” keluh Gavin.
“jangan bilang kamu tidak sadar? Kenapa cessa bersikap acuh padamu!” kesal mamanya lagi.
“Acuh gimana? Gak ada tuh” tolak Gavin, dia tidak mau menerima kenyataan, bahwa cessa membenci dirinya.
“Kamu tertarik pada cessa vin!” bentak papa ali, semuanya langsung terkejut ketika pria yang paling ditakuti dalam keluarga itu akhirnya berbicara.
“Kan memang seharusnya yang dijodohin dengan Cess aitu Gavin bukan Rafa!” gerutu Gavin.
“ALIANDRA GAVIN MAHENDRA!”
‘cckiiiittttt’ mobil yang dibawa oleh papa ali langsung berhenti dipersimpangan jalan.
“CUKUP KAMU MENGAMBIL SEMUA HARTA PAPI HINGGA ADIKMU TIDAK DAPAT APAPUN! SEKARANG KAU BERPIKIR GADIS ITU JUGA ADALAH MILIKMU! APA KAU INGIN PAPA KULIAHKAN KELUAR NEGERI, AGAR BISA MENJADI ANAK YANG MANDIRI DAN MEMBANGGAKAN BAGI KAMI!” amarah papa ali sudah tidak dapat ditahan lagi, pria itu tidak tau lagi harus bagaimana dalam memberikan perngertian pada putra sulungnya itu.
Memang dulu Gavin terlalu di manja karena dulu saat di kandungan Gavin hampir keguguran mendapatkan gavin juga memerlukan waktu yang lumayan lama, dan selama 6 tahun gavin terus dimanja kedua orang tuanya, dan sejak kehamilan kedua oleh mama Reta, kasih sayang kedua orang tuanya mulai terbagi pada Rafa, karena rafa masih bayi dan memerlukan perhatian extra, apalagi Rafa ternyata sangat jenius, karena itu secara tidak sadar papanya lebih mendahulukan rafa.
Mungkin karena perbedaan umur yang jauh, dan kasih sayang yang tidak sepenuhnya milik gavin lagi menjadikan gavin lebih kekanakan dan Egois, entah sikap siapa yang dia tiru.
“gavin bisa apa?! Gavin langsung tertarik padanya saat pertama melihat gadis itu! Bukan salah gavin yang menginginkan gadis itu” lirih Gavin dengan tertunduk.
“kamu salah vin! Dia istri adikmu, tidak boleh ada perasaan yang muncul pada adik iparmu sendiri!” tegas mama Reta.
“Rafa tinggal memberikannya pada gavin kan? Lagian gadis itu belum Rafa sentuh, dan dia belum hamil, jadi Gavin masih bisa mendapatkannya!”
‘BUK’ Tangan Rafa tiba-tiba terangkat dan memukul wajah abangnya itu, darah segar mulai mengalir dari bibir Gavin.
“Rafa!” pekik mama Reta.
“Dia kurang ajar ma, maaf Rafa gak bisa satu mobil dengan orang seperti dia, jika boleh rafa ingin memutuskan persaudaraan rafa dengan orang seperti dia!” Rafa langsung keluar dengan membanting pintu mobil dengan kuat.
“Rafa, nak! Kamu mau kemana?” Pekik mama Reta, Wanita paruh baya itu sudah keluar dari mobil sambil mengejar putra bungsunya itu yang sedang mencari taksi.
“Rafa akan pergi ke apartemen milik rafa, disana juga ada baju dan tas sekolah cadangan milik rafa” ujar Rafa.
“nak, jangan seperti ini, kalian saudara, mama mohon jangan bertengkar seperti ini” mama Reta menangis sambil memeluk lengan putra bungsunya itu.
“Ma, jangan nangis” rafa menghapus air mata yang sudah mengalir dari mata mamanya, “Rafa memang memutuskan hubungan dengan abang, tapi mama dan papa tetap menjadi orang tua rafa, tidak ada yang Namanya mantan anak bukan? Mama tenang aja, rafa bisa jaga diri rafa, nanti jika abang tiak ada dirumah rafa akan mengunjungi kalian bersama cessa” bujuk rafa dengan lembut.
“Kalau ada apa-apa telepon mama ya” lirik mama reta.
Rafa mengangguk pelan dan mulai masuk kedalam taxi.
...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...
“LIat perbuatanmu! Semua ini karenamu gavin!” geram papanya.
Mama reta masuk kedalam mobil tanpa suara, dia tidak mau berbicara lagi.
“Rafa kemana ma?” tanya papa Ali.
“Mengambil barang di apartemen miliknya, katanya dia punya cadangan baju sekolah disana”
“Apartemen? Papa tidak pernah membelikannya apartemen” seru papa.
“DIa beli sendiri” jawab mama reta dengan ketus.
“Paling nanti jika uangnya habis, dia akan pulang dan memohon pada papa” sindir Gavin.
“Rafa bukan dirimu vin, yang mendapatkan uang dari meminta dari papa, dia memiliki penghasilannya sendiri, bahkap papa menyesal telah memberikan perusahaan papa untukmu, papa takut kamu akan menghancurkan perusahaan papa” setelah berkata begitu papa ali mulai menjalankan mobilnya Kembali.
...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk padahal dia yg dimalukan karena di cuekin,Untung aja Cessa udah tau ttg perasaan Gavin ke dia,Jadi Cessa bisa langsung jaga jarak .👍👍
2024-03-28
0
Qaisaa Nazarudin
Itu keputusan yg tepat dan bagus,Jadi Gavin gak bisa dekatin Cessa kalo mereka tinggal di rumah Raffa..
2024-03-28
0
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwk malu gak tuh loe dengerin kenyataan dr papa lie sendiri kek gitu??😂😂
2023-04-29
0